kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 1.964.000   20.000   1,03%
  • USD/IDR 16.482   88,00   0,54%
  • IDX 7.791   -161,13   -2,03%
  • KOMPAS100 1.085   -21,73   -1,96%
  • LQ45 796   -15,93   -1,96%
  • ISSI 263   -4,96   -1,85%
  • IDX30 413   -8,35   -1,98%
  • IDXHIDIV20 480   -8,36   -1,71%
  • IDX80 120   -2,68   -2,19%
  • IDXV30 129   -3,24   -2,45%
  • IDXQ30 133   -2,55   -1,87%

Perusahaan Warren Buffett, Berkshire Hathaway Dinilai Perlu Lepas Saham Coca-Cola


Jumat, 29 Agustus 2025 / 09:44 WIB
Perusahaan Warren Buffett, Berkshire Hathaway Dinilai Perlu Lepas Saham Coca-Cola
Warren Buffett melalui konglomerasi investasi Berkshire Hathaway selama ini dikenal sebagai investor jangka panjang yang konsisten.


Reporter: Noverius Laoli | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA.  Warren Buffett melalui konglomerasi investasi Berkshire Hathaway selama ini dikenal sebagai investor jangka panjang yang konsisten. 

Namun, sejumlah analis menilai bahwa salah satu kepemilikan terbesar perusahaan, yaitu saham The Coca-Cola Company, tidak lagi memberikan hasil optimal bagi pemegang saham.

Melansir, Seekingalpha.com, Jumat (29/8/2025), sejak lama Coca-Cola menjadi bagian portofolio utama Berkshire Hathaway. Perusahaan tercatat memiliki saham senilai sekitar US$ 27,4 miliar dengan dividen tahunan mencapai US$ 816 juta. 

Baca Juga: 5 Kesalahan Kelas Menengah, Cek Cara Mengatasinya ala Warren Buffett

Meski begitu, kinerja saham raksasa minuman ini tertinggal dibandingkan kepemilikan besar Berkshire lainnya.

Sejak akhir 2020, indeks S&P 500 telah naik 83,7%. Saham Apple dan Bank of America (BAC) tumbuh mendekati rata-rata pasar, sementara Chevron (CVX) dan American Express (AXP) bahkan melonjak masing-masing 129,2% dan 177,2%. 

Sebaliknya, Coca-Cola hanya mencatatkan kenaikan 44%, jauh di bawah kinerja pasar maupun portofolio utama Berkshire lainnya.

Padahal dari sisi fundamental, Coca-Cola tidak menunjukkan performa buruk. Pendapatan, laba, dan arus kas cenderung meningkat. Namun, valuasi saham yang relatif mahal serta tren konsumsi minuman ringan yang melambat membuat harga saham sulit bersaing dengan pasar.

Baca Juga: Satu Saham Warren Buffett yang Sukses Ubah US$ 1.000 Menjadi US$ 225.000

Coca-Cola memang berhasil meningkatkan distribusi global dari 29 miliar unit kasus pada 2020 menjadi 33,7 miliar pada 2024, dengan pertumbuhan tahunan sekitar 3,8%. Namun, di sejumlah pasar utama seperti Amerika Serikat dan Amerika Latin, volume penjualan justru menurun.

Di AS, konsumsi soda per kapita mencapai puncaknya pada 1999 sebesar 49,7 galon per tahun, tetapi pada 2024 turun menjadi 42,4 galon. 

Data Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) juga menunjukkan penurunan konsumsi soda di kalangan remaja. 

Di Meksiko, regulasi dan pajak kesehatan mulai menekan konsumsi minuman berpemanis, sementara di China meski permintaan masih tumbuh, tren penurunan populasi membatasi prospek jangka panjang.

Baca Juga: Warren Buffett Tetap Optimistis Tentang AS, Ini 2 Perusahaan yang Diincarnya

Diversifikasi produk memang dilakukan, termasuk air minum, kopi, teh, jus, susu olahan, dan minuman berbasis nabati. Namun, kontribusi penjualan produk tersebut relatif stagnan dan tumbuh seiring dengan bisnis utama minuman berkarbonasi.




TERBARU
Kontan Academy
[Intensive Workshop] AI-Powered Scenario Analysis AYDA dan Penerapannya, Ketika Debitor Dinyatakan Pailit berdasarkan UU. Kepailitan No.37/2004

[X]
×