CLOSE [X]
kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ451.012,04   -6,29   -0.62%
  • EMAS990.000 0,00%
  • RD.SAHAM -0.27%
  • RD.CAMPURAN 0.00%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.09%

Pfizer Teken Kesepakatan dengan Pemerintah AS untuk Vaksin Covid-19 US$ 3,2 Miliar


Kamis, 30 Juni 2022 / 05:55 WIB
Pfizer Teken Kesepakatan dengan Pemerintah AS untuk Vaksin Covid-19 US$ 3,2 Miliar


Sumber: Reuters | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Pfizer Inc dan BioNTech telah menandatangani kesepakatan senilai US$ 3,2 miliar dengan pemerintah Amerika Serikat untuk 105 juta dosis vaksin Covid-19 untuk pengiriman di akhir musim panas tahun ini.

Menurut Pfizer, kesepakatan itu juga mencakup vaksin yang diadaptasi Omicron, namun masih menunggu perizinan.

Mengutip Reuters, Kamis (30/6), pembuat vaksin Covid-19 termasuk Pfizer telah mengembangkan vaksin untuk menargetkan varian Omicron yang mendominasi saat musim dingin lalu, mendorong lonjakan infeksi dalam skala besar.

Harga rata-rata kesepakatan per dosis adalah lebih dari US$ 30, naik lebih dari 50% dari $19,50 per dosis yang dibayarkan pemerintah AS dalam kontrak awalnya dengan Pfizer.

Baca Juga: Penasihat FDA AS Rekomendasikan Perubahan Komposisi Vaksin Covid-19 untuk Musim Gugur

Beberapa dosis dewasa yang termasuk dalam kontrak akan berada dalam botol dosis tunggal, yang lebih mahal untuk diproduksi, tetapi mengurangi pemborosan suntikan yang tidak terpakai dari botol terbuka.

"Seiring virus berkembang, perjanjian baru ini akan membantu memastikan orang di seluruh negeri memiliki akses ke vaksin yang dapat memberikan perlindungan terhadap varian saat ini dan masa depan," kata Chief Executive Officer Pfizer Albert Bourla.

Penasihat Badan Pengawas Obat dan Makanan AS pada hari Selasa merekomendasikan perubahan dalam desain suntikan booster COVID-19 musim gugur ini untuk memerangi varian virus corona yang lebih baru beredar.

Pemerintah AS juga memiliki opsi untuk membeli hingga 195 juta dosis tambahan, sehingga jumlah total dosis potensial menjadi 300 juta, kata perusahaan tersebut.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×