kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.740.000   15.000   0,55%
  • USD/IDR 17.708   -71,00   -0,40%
  • IDX 6.526   24,10   0,37%
  • KOMPAS100 849   6,96   0,83%
  • LQ45 645   5,86   0,92%
  • ISSI 228   -0,31   -0,14%
  • IDX30 360   3,72   1,04%
  • IDXHIDIV20 437   4,19   0,97%
  • IDX80 97   0,82   0,85%
  • IDXV30 121   0,51   0,43%
  • IDXQ30 114   1,21   1,07%

Prediksi Pakar: Dolar AS Sulit Terganti Meski Ada Isu Dedolarisasi


Jumat, 19 September 2025 / 23:31 WIB
Prediksi Pakar: Dolar AS Sulit Terganti Meski Ada Isu Dedolarisasi
ILUSTRASI. Para pakar menilai dedolarisasi tidak akan terjadi dalam waktu dekat


Reporter: Harris Hadinata | Editor: Harris Hadinata

KONTAN.CO.ID - SINGAPURA. Ketidakpastian global, yang antara lain disebabkan kebijakan proteksionisme Amerika Serikat (AS), memunculkan isu dedolarisasi. Kendati begitu, para pakar menilai dedolarisasi tidak akan terjadi dalam waktu dekat.

Alfred Schipke, Direktur East Asian Institute, menilai ada perubahan yang terjadi pada perputaran uang global, termasuk di antaranya melalui desakan dedolarisasi dan terciptanya sistem pembayaran dengan teknologi yang berbeda.

Menurut Schipke, ada dua tren besar yang tengah terjadi. “Pertama, adopsi kripto dan stablecoin yang memperluas praktik dolarisasi dalam bentuk digital,” kata dia dalam FutureChina Global Forum (FCGF) 2025, di Singapura, Jumat (19/9/2025).

Kedua, ada risiko bagi negara yang saat ini masih banyak menggunakan dolar AS bila terjadi dedolarisasi. Risiko ini terlihat baik di Eropa, China, maupun kawasan lain.

Baca Juga: Rupiah Spot Dibuka Melemah di Level Rp 16.363 terhadap Dolar AS, Kamis (19/6)

Dari perspektif pelaku usaha, urgensi dedolarisasi tidak sebesar wacana geopolitik. “Sebagai pelaku bisnis, saya kira yang tepat bukan dedolarisasi. Yang kita lihat adalah penggunaan mata uang alternaitf lain alih-alih hanya menggunakan dolar AS, tapi sifatnya ini lebih kesepakatan antarnegara,” papar Ho Kwon Ping, pendiri Banyan Group.

Ho menambahkan, isu utama bagi pengusaha bukan ideologi dedolarisasi, melainkan penggunaan sistem pembayaran sebagai instrumen geopolitik. Ini yang terjadi selama ini, di mana negara maju menggunakan mata uang sebagai senjata.

“Adanya sistem digital dan stablecoin membuat semakin susah menjadikan sistem pembayaran sebagai senjata,” kata Ho.

Data-data juga menunjukkan dominasi dolar AS belum tergoyahkan. Kapitalisasi stablecoin yang dijamin dolar justru melonjak. Weiheng Chen, Vice President and Global Investment Strategist J.P. Morgan Private Bank, menuturkan, stablecoin merupakan cara AS mengelola penggunaan dolar AS.

“Dolar AS masih merupakan cara paling murah dan efektif untuk perdagangan, termasuk juga di pasar modal,” papar Chen.


Tag


TERBARU

[X]
×