kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.940.000   20.000   0,68%
  • USD/IDR 16.808   -72,00   -0,43%
  • IDX 8.032   96,61   1,22%
  • KOMPAS100 1.132   15,02   1,34%
  • LQ45 821   5,36   0,66%
  • ISSI 284   5,77   2,08%
  • IDX30 427   0,41   0,10%
  • IDXHIDIV20 513   -1,95   -0,38%
  • IDX80 127   1,53   1,22%
  • IDXV30 139   0,46   0,33%
  • IDXQ30 139   -0,29   -0,21%

Presiden Duterte kecam Barack Obama


Selasa, 06 September 2016 / 06:07 WIB
Presiden Duterte kecam Barack Obama


Sumber: BBC | Editor: Yudho Winarto

PRESIDEN Filipina Rodrigo Duterte mengatakan, Barack Obama 'anak pelacur' dan memperingatkan pemimpin Amerika Serikat itu agar tidak mengangkat masalah hak asasi manusia.

Duterte ditanyakan seorang wartawan terkait bagaimana reaksinya jika Presiden Obama menanyakan upaya perang perdagangan obat gelap yang dilakukan pemerintah Filipina.

Ratusan orang terbunuh karena operasi antinarkotika sejak Duterte memenangkan pemilihan umum, meskipun dunia internasional sudah menyatakan kecaman. "Kampanye melawan narkotika akan terus berlanjut," tegasnya.

Dia juga menambahkan tidak memperdulikan pendapat dari orang yang mengamati tindakannya dengan menambahkan tidak menerima perintah dari Amerika Serikat, yang pernah menjajah Filipina.

Duterte dan Obama awalnya dijadwalkan bertemu pada Selasa 6 September di Laos, di sela-sela pertemuan puncak ASEAN.

"Anda harus menghormati. Jangan hanya melempar pertanyaan dan pernyataan. Anak pelacur, saya akan mengutukmu di forum tersebut," katanya merujuk Presiden Obama kepada para wartawan dalam konferensi pers menjelang keberangkatannya ke Laos.

Janji sejak kampanye

Pada masa kampanye, Duterte memang berjanji untuk mengambil tindakan keras atas peredaran narkotika dan setelah terpilih sebagai presiden, Bulan Mei, berlangsung sejumlah pembunuhan -oleh aparat keamanan maupun kelompok sipil bersenjata- terkait dengan perdagangan narkotika di Filipina.

Kepolisian Filipina pada pekan ketiga Agustus mengatakan sekitar 1.900 orang terbunuh dalam operasi penggerebekan narkotika di negara itu.

PBB berulang kali mengecam kebijakan tersebut dan menyatakannya sebagai pelanggaran hak asasi manusia.

Gereja Katolik Roma, yang merupakan agama mayoritas di Filipina, juga mengecam Duterte.

Tetapi dia mengatakan tidak mengacuhkan pandangan orang-orang yang mengamati aksinya, dan menambahkan menolak diperintah AS, negara yang sebelumnya menjajah Filipina.

"Banyak yang akan mati, banyak yang akan terbunuh sampai penjual obat bius yang terakhir ke luar dari jalanan."

"Sampai pembuat narkotika terakhir, kami akan meneruskannya dan saya tidak peduli dengan orang yang mengamati perilaku saya," tambahnya




TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×