Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Harga tembaga bergerak stabil pada perdagangan Senin (9/2/2026) seiring melemahnya dolar Amerika Serikat (AS).
Namun, prospek permintaan yang lesu terutama dari China sebagai konsumen terbesar serta lonjakan persediaan diperkirakan akan menekan sentimen bullish di pasar logam industri.
Melansir Reuters, harga tembaga acuan di London Metal Exchange (LME) tercatat nyaris tidak berubah di level US$12.990 per ton pada pukul 10.39 GMT.
Baca Juga: Pendapatan Median Rumah Tangga Singapura Tembus Rp 165 Juta per Bulan
Harga telah terkoreksi sekitar 10% sejak menyentuh rekor tertinggi di US$14.527,50 per ton pada 29 Januari lalu.
Pelemahan dolar AS membuat harga logam berdenominasi dolar menjadi lebih murah bagi pemegang mata uang lain.
Hubungan ini kerap dimanfaatkan oleh dana-dana investasi berbasis model kuantitatif untuk menghasilkan sinyal beli dan jual.
Pelaku pasar menilai perdagangan masih didominasi oleh dana spekulatif, sebagaimana terjadi dalam beberapa pekan terakhir.
Volume transaksi diperkirakan akan menurun karena aktivitas ekonomi melambat selama libur Tahun Baru Imlek di China.
Baca Juga: Bangun Transmisi Hijau, Adani Energy Raih Dana Jepang
“Level harga tinggi belakangan ini semakin terlihat tidak sejalan dengan fundamental industri yang mendasarinya, terutama ketika tanda-tanda perlambatan permintaan riil mulai terlihat jelas,” tulis analis Britannia Global Markets dalam catatannya.
Di China, pembeli tembaga memperpanjang masa penghentian aktivitas selama libur Imlek.
Sementara itu, para pabrikan mengurangi pembelian di pasar spot akibat tekanan margin dan tingginya tingkat persediaan.
Data menunjukkan stok tembaga di gudang yang terdaftar di LME mencapai 184.300 ton, naik sekitar 25% sejak 9 Januari.
Sementara itu, persediaan di gudang yang dipantau Shanghai Futures Exchange melonjak lebih dari 60% sejak 19 Desember menjadi 248.911 ton.
Kekhawatiran terhadap lemahnya permintaan China juga tercermin dari premi tembaga Yangshan, indikator minat impor China.
Baca Juga: Minyak Dunia Anomali: Konflik Reda, Tapi Ancaman Iran Belum Sirna
Meski premi tersebut pulih dari US$20 per ton pada 28 Januari menjadi sekitar US$37 per ton, level ini masih belum mencerminkan permintaan yang kuat.
Fokus pasar pekan ini akan tertuju pada data ketenagakerjaan dan inflasi konsumen Amerika Serikat, yang berpotensi memengaruhi arah suku bunga AS serta pergerakan dolar.
Di pasar logam lainnya, aluminium stagnan di US$3.085 per ton, seng turun 0,5% menjadi US$3.330, timbal melemah 0,5% ke US$1.950, timah melonjak 3,4% ke US$48.340, sementara nikel naik tipis 0,2% ke US$17.125 per ton.













