Sumber: Reuters | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - MOSKOW. Presiden Rusia Vladimir Putin telah menandatangani dekrit untuk mengambil alih sementara aset-aset Japan Tobacco International di Rusia. Langkah ini menjadikan perusahaan tersebut sebagai perusahaan asing terbaru yang kehilangan kendali atas operasional lokalnya di tengah tindakan keras yang kian meluas.
Langkah ini memicu kecaman langsung dari Tokyo pada hari Jumat.
Hubungan antara Tokyo dan Moskow, yang memang sudah tidak harmonis, telah memburuk secara tajam dalam beberapa bulan terakhir.
Mengutip Reuters, Jumat (6/11/2026), berdasarkan dekrit yang ditandatangani pada hari Kamis, kepemilikan dalam empat unit bisnis JTI—bagian dari Japan Tobacco Inc. sekaligus produsen tembakau terbesar di Rusia—kini akan berada di bawah pengelolaan perusahaan Rusia, Industrial Assets.
Baca Juga: Bursa China dan Hong Kong Anjlok, Saham AI Tertekan hingga 7%
Pemerintah Jepang memiliki sekitar 37% saham di Japan Tobacco Inc., perusahaan yang memproduksi merek rokok seperti Winston dan Camel.
Di bursa Tokyo pada hari Jumat, harga saham perusahaan tersebut anjlok hingga batas penurunan harian maksimum, dengan tidak ada transaksi yang terjadi akibat membludaknya pesanan jual.
"Pemerintah Jepang secara konsisten mendesak Rusia untuk memastikan bahwa kepentingan warga negara dan perusahaan Jepang tidak dirugikan," ujar Menteri Keuangan Jepang, Satsuki Katayama, dalam konferensi pers rutin pada hari Jumat.
"Kami telah melayangkan protes melalui jalur diplomatik dan meminta agar kebijakan tersebut dicabut."
Dekrit tersebut tidak menyebutkan alasan di balik pengambilalihan ini. Namun, di masa lalu, Kremlin sering mengaitkan tindakan serupa dengan perilaku negara-negara yang mereka anggap sebagai negara "tidak bersahabat" (hostile).
Dalam pernyataan melalui surel, JTI menyatakan telah mengetahui perihal dekrit tersebut dan tengah "menilai situasi serta opsi-opsi yang ada, dengan memprioritaskan para pemangku kepentingan kami, terutama karyawan kami."
Operasional di Rusia menyumbang sekitar 10% dari pendapatan JT Group dan kurang lebih 25% dari laba operasionalnya.
Ketegangan Hubungan Kedua Negara
Keputusan tersebut menyusul langkah Rusia pada bulan September yang menempatkan aset perusahaan raksasa makanan asal Swiss, Nestle; perusahaan grosir Jerman, Metro AG; serta peritel Prancis, Auchan, di bawah pengelolaan sementara.
Pada bulan Oktober, Moskow mengambil alih aset Rusia milik empat perusahaan Eropa lainnya, dengan alasan dukungan negara-negara tersebut terhadap Ukraina serta apa yang mereka sebut sebagai penyitaan ilegal atas properti milik Rusia.
Hubungan antara Jepang dan Rusia telah menegang sejak Tokyo bersama sejumlah ibu kota negara lain menjatuhkan sanksi luas terhadap Moskow setelah invasi skala penuh Rusia ke Ukraina pada tahun 2022.
Ketegangan kian memburuk dalam beberapa bulan terakhir, menyusul kunjungan Putin ke sebuah pulau yang dipersengketakan di dekat Jepang pada bulan Agustus, serta penahanan seorang jurnalis Jepang di wilayah Sakhalin, Rusia bagian timur jauh, atas dugaan spionase.
Baca Juga: Apple Kembali Jajaki Pasar Obligasi, Bidik Dana Setara Rp126 Triliun
Pada bulan Oktober, Kementerian Luar Negeri Rusia juga menyatakan bahwa penjualan pesawat nirawak (drone) ke Ukraina oleh sebuah perusahaan Jepang dianggap sebagai langkah bermusuhan, seraya memperingatkan akan adanya respons keras.
Setidaknya hingga tahun lalu, sebagian besar perusahaan Jepang yang masih bertahan di Rusia memilih untuk bersikap pasif, dengan harapan kondisi bisnis akan membaik.
Berdasarkan survei yang dilakukan oleh badan promosi perdagangan Jepang, JETRO, pada bulan September 2025 terhadap 50 perusahaan, sekitar tiga perempat responden menyatakan rencana untuk mempertahankan status quo selama satu hingga dua tahun ke depan. Hanya 6% yang menyatakan akan mengurangi skala operasional, merelokasi bisnis, atau menarik diri sepenuhnya.
Kementerian Perdagangan Jepang menyatakan bahwa mereka telah mengirimkan sejumlah pejabat ke Moskow awal tahun ini guna memfasilitasi komunikasi serta membantu melindungi aset milik perusahaan-perusahaan Jepang yang beroperasi di sana.













![[Executive Education Program] Sustainable Development and ESG Leadership](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_23102611123400.jpeg)
