Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - MOSKOW. Presiden Rusia Vladimir Putin memberikan lampu hijau untuk penjualan 30,4% saham milik pemerintah di Bandara Sheremetyevo, bandara terbesar di Moskow. Langkah tersebut dilakukan ketika Rusia tengah berupaya memperkuat kondisi keuangan negara yang tertekan akibat perang di Ukraina.
Putin membuka jalan bagi transaksi tersebut dengan menandatangani dekret pada Kamis (6/8) yang menghapus Sheremetyevo dari daftar resmi perusahaan strategis Rusia.
Meski demikian, pemerintah Rusia tetap mempertahankan hak kendali melalui kepemilikan saham emas atau golden share. Hak tersebut memungkinkan pemerintah memblokir keputusan manajemen yang dinilai bertentangan dengan kepentingannya.
Dekret Putin juga melarang penjualan saham tersebut kepada pembeli asing. Selain itu, calon pembeli diwajibkan mempertahankan kegiatan utama perusahaan serta melanjutkan program modernisasi bandara.
Baca Juga: Arab Saudi Waspadai Serangan Milisi Irak dan Houthi
Keuangan Rusia Tertekan
Penjualan saham Bandara Sheremetyevo berlangsung di tengah tekanan terhadap anggaran negara Rusia setelah sekitar empat setengah tahun perang di Ukraina.
Defisit anggaran federal Rusia berpotensi melampaui target resmi lebih dari 1 triliun rubel atau sekitar US$12,85 miliar pada 2026, berdasarkan data yang diterbitkan pada bulan lalu.
Pada paruh pertama 2026, defisit anggaran Rusia telah mencapai 5,73 triliun rubel atau sekitar US$69,6 miliar. Nilai tersebut setara dengan 2,5% dari produk domestik bruto (PDB) Rusia dan 1,7 kali lebih tinggi dibandingkan periode yang sama pada 2025.
Kondisi tersebut membuat pemerintah Rusia memiliki kepentingan untuk mengoptimalkan aset negara, termasuk melalui pelepasan sebagian kepemilikan pada perusahaan strategis yang dinilai dapat dijual tanpa kehilangan kendali atas aset tersebut.
Pemerintah Rusia Tetap Pertahankan Kendali
Sekitar 66% Bandara Sheremetyevo saat ini dimiliki oleh perusahaan Rusia, Sheremetyevo Holding. Pemilik akhir perusahaan tersebut tidak diungkapkan secara terbuka.
Sebelum melakukan pemindahan domisili perusahaan dari Siprus pada 2022, Sheremetyevo Holding dikendalikan oleh perusahaan-perusahaan yang dimiliki Arkady Rotenberg, salah satu teman dekat Putin, bersama sejumlah mitranya.
Dengan tetap mempertahankan golden share, pemerintah Rusia masih memiliki instrumen untuk memengaruhi keputusan strategis Sheremetyevo meskipun sebagian sahamnya dilepas kepada investor baru.
Persyaratan yang melarang pembeli asing juga menunjukkan bahwa transaksi tersebut tidak semata-mata ditujukan untuk mencari investor dengan nilai penawaran tertinggi. Pemerintah Rusia juga mempertimbangkan kepentingan strategis dan keberlanjutan operasional bandara.
Sheremetyevo Jadi Bandara Terbesar Rusia
Bandara Sheremetyevo merupakan bandara terbesar di Rusia. Bandara tersebut memiliki dan mengoperasikan sejumlah terminal dengan kapasitas hingga 87 juta penumpang per tahun.
Namun, jumlah penumpang aktual pada 2025 mencapai sekitar 43,5 juta orang, atau masih jauh di bawah kapasitas maksimal yang tersedia.
Aktivitas penerbangan Rusia tetap menghadapi berbagai pembatasan akibat sanksi negara-negara Barat dan pembatasan penerbangan. Meski demikian, bandara-bandara Rusia masih mampu mencatatkan keuntungan seiring meningkatnya lalu lintas penerbangan domestik serta penerbangan menuju negara-negara yang dianggap bersahabat oleh Moskow.
Sejumlah negara seperti Turki, Mesir, dan Vietnam menjadi tujuan penting bagi penerbangan internasional Rusia di tengah terbatasnya akses penerbangan menuju negara-negara Barat.
Baca Juga: Meta Didenda US$567 Juta, Wajib Perketat Perlindungan Anak di Media Sosial
Sheremetyevo Akuisisi Domodedovo
Langkah penjualan sebagian saham Sheremetyevo terjadi hanya beberapa bulan setelah operator bandara tersebut memperluas asetnya melalui akuisisi Bandara Domodedovo.
Pada Januari 2026, Sheremetyevo membeli 100% saham salah satu bandara utama Moskow tersebut melalui lelang dengan nilai transaksi mencapai 66 miliar rubel.
Bandara Domodedovo sebelumnya dinasionalisasi atas permintaan Jaksa Agung Rusia pada Juni 2025. Bandara tersebut memiliki jumlah penumpang sekitar 15 juta orang per tahun.
Akuisisi Domodedovo memperkuat posisi Sheremetyevo dalam jaringan penerbangan Moskow sekaligus meningkatkan skala bisnis perusahaan di tengah perubahan struktur kepemilikan aset strategis Rusia.
Dengan penjualan 30,4% saham pemerintah, Rusia kini berupaya mendapatkan nilai ekonomi dari kepemilikannya di Sheremetyevo sembari mempertahankan kontrol strategis melalui golden share.
Langkah tersebut mencerminkan upaya pemerintah Rusia untuk mengelola aset negara secara lebih aktif ketika tekanan terhadap anggaran meningkat akibat tingginya biaya perang dan kondisi ekonomi yang masih menghadapi berbagai pembatasan internasional.













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
