kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Raja produsen obat-obatan ternama dari Negeri Gingseng (1)


Rabu, 12 Desember 2018 / 16:11 WIB

Raja produsen obat-obatan ternama dari Negeri Gingseng (1)
ILUSTRASI. FENOMENA - Lim Sung-ki

Lim Sung-Ki sangat terpesona oleh dunia farmasi sejak belia. Ketertarikan ini mengantarkannya menjadi salah satu pengusaha sukses di Korea Selatan. Lewat perusahaan bernama Hanmi Pharmaceutical Industry yang dia bangun sejak tahun 1973 silam, Lim berhasil mengumpulkan pundi-pundi kekayaan hingga US$ 2,8 miliar pada tahun ini. Lim menjadi orang paling kaya di Korea dengan berada di peringkat ke-10. Kini tentakel bisnisnya menggapai 51 negara di dunia.

TEKAD seseorang untuk menjadi sukses kerap bersumber dari mimpinya sendiri. Mimpi yang terus digenggam menjadi landasan dalam mengambil keputusan yang akan menentukan masa depan. Agaknya, itulah yang terjadi pada Lim Sung-Ki, pria kelahiran Gimpo, Provinsi Gyeonggi, Korea Selatan yang memantapkan diri menjadi pengusaha besar di bidang farmasi.

Lim sejak belia bermimpi untuk mengembangkan obat-obatan yang tepat untuk pasar global. Kini, impian itu tidak hanya menjadi kenyataan, tapi juga mengantarkannya masuk ke dalam daftar orang kaya di Korea Selatan.

Lewat bendera usaha Hanmi Phamaceutical Industry, Lim berhasil mengumpulkan kekayaan hingga mencapai US$ 2,8 miliar pada tahun ini. Pundi-pundi kekayaan sebanyak itu membawa Lim menjadi orang terkaya ke-10 di Korea Selatan dan orang paling tajir ke-629 di seluruh dunia versi Majalah Forbes 2018.

Hanmi Phamaceutical Industry merupakan salah satu perusahaan farmasi terbesar di negeri gingseng itu. Hanmi secara global membuat obat-obatan generik seperti Amosartan untuk obat hipertensi yang saat ini telah diekspor hingga ke 51 negara di seluruh dunia melalui Merck.

Anak usaha dari Hanmi Science Co., Ltd. ini menawarkan berbagai obat resep di bidang antidepresan, obesitas, epilepsi, perawatan mulut, pertumbuhan rambut, hingga skizofrenia, batuk, osteoporosis, kanker, sampai penyakit Parkinson.

Lim sangat paham betapa pentingnya riset dan pengembangan produk untuk obat-obatan dalam industri ini. Sehingga pada tahun 2014, Hanmi menginvestasikan lebih dari US$ 113,8 juta untuk kegiatan riset dan pengembangan.

Sebelumnya pada periode 2010–2011 Hanmi berinvestasi sebanyak US$ 67,25 juta untuk riset dan pengembangan obat. Ini menandakan Hanmi fokus pada pengembangan proyek obat baru seperti lapscovery dan obat antikanker yang menargetkan pasar global.

Perusahaan yang berdiri sejak 1973 dengan nama perdana Sung-ki Pharmaceutical Co., Ltd ini telah bekerjasama dengan beberapa perusahaan farmasi besar dunia seperti Eli Lilly, Boehringer Ingelheim, Sanofi, dan Janssen.

Perjanjian lisensi dengan perusahaan-perusahaan besar itu setidaknya mencapai nilai US$ 7 miliar untuk ekspor teknologi obat baru, termasuk arthritis dan diabetes yang baru dikembangkan oleh Hanmi.

Hanmi Pharmaceutical memiliki sejumlah anak usaha yakni Beijing Hanmi Pharmaceutical Co., Ltd dan Hanmi Fine Chemical Co.,Ltd dan grup afiliasi seperti Hanmi Healthcare Co., Ltd. Adapun sang induk usaha, Hanmi Science Co., Ltd., langsung membawahi beberapa perusahaan seperti Onlien Pharm Co., Ltd, JVM, Hanmi Japan dan Hanmi Europe.

Induk usaha dan Hanmi Pharmaceutical tercatat dalam bursa saham di Korea Selatan. Pada 2015, indeks MSCI Pacific menempatkan saham Hanmi Science sebagai saham dengan kinerja paling baik di Asia. Sementara itu, Hanmi Pharmetucal menempati posisi kedua.

Kinerja saham yang cemerlang tidak terlepas dari kinerja perusahaan yang terus bertumbuh. Pendapatan perusahaan induk, Hanmi Science secara keseluruhan naik dari KRW 761,28 miliar pada 2014 menjadi KRW 1,31 triliun pada 2015. Pendapatan tiap tahun hingga kini terus bertambah seiring penjualan yang meningkat secara global.

Lim yakin bahwa mengembangkan teknologi baru akan lebih menjanjikan daripada hanya sekadar bertumpu pada pemasaran semata. Hal ini juga masih sejalan dengan mimpi Lim yang ingin terus menghasilkan obat-obatan dengan harga terjangkau yang dibutuhkan pasar global.

(Bersambung)


Reporter: Nur Qolbi
Editor: Tri Adi
Video Pilihan


Close [X]
×