Ramai Dibahas, Jam Kiamat Bergerak ke 90 Detik Gara-Gara Ancaman Nuklir Meningkat

Rabu, 25 Januari 2023 | 04:25 WIB Sumber: Reuters
Ramai Dibahas, Jam Kiamat Bergerak ke 90 Detik Gara-Gara Ancaman Nuklir Meningkat


KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Pada Selasa (24/1/2023), ilmuwan atom dunia mengatur "Jam Kiamat" lebih dekat ke tengah malam daripada sebelumnya. Para ilmuwan mengatakan, ancaman perang nuklir, penyakit, dan ketidakstabilan iklim yang telah diperburuk oleh invasi Rusia ke Ukraina, menempatkan umat manusia pada risiko pemusnahan yang lebih besar.

"Jam Kiamat", yang dibuat oleh Buletin Ilmuwan Atom untuk mengilustrasikan betapa dekatnya umat manusia dengan akhir dunia, memindahkan "waktunya" pada tahun 2023 menjadi 90 detik menuju tengah malam, 10 detik lebih dekat daripada sebelumnya dalam tiga tahun terakhir.

Tengah malam pada jam ini menandai titik teori pemusnahan. Jarum jam digerakkan lebih dekat atau lebih jauh dari tengah malam berdasarkan pembacaan para ilmuwan tentang ancaman yang ada pada waktu tertentu.

Waktu baru mencerminkan dunia di mana invasi Rusia ke Ukraina telah menghidupkan kembali ketakutan akan perang nuklir.

“Ancaman terselubung Rusia untuk menggunakan senjata nuklir mengingatkan dunia bahwa eskalasi konflik karena kecelakaan, niat, atau kesalahan perhitungan adalah risiko yang mengerikan. Kemungkinan bahwa konflik dapat terlepas dari kendali siapa pun tetap tinggi,” papar Rachel Bronson, presiden dan CEO buletin mengatakan pada konferensi pers di Washington pada hari Selasa.

Baca Juga: Perang Makin Berkobar, Polandia Berencana Kirim Tank Leopard ke Ukraina

Bronson mengatakan, pengumuman buletin untuk pertama kalinya akan diterjemahkan dari bahasa Inggris ke bahasa Ukraina dan Rusia untuk mendapatkan perhatian yang relevan.

Sebuah organisasi nirlaba yang berbasis di Chicago, buletin tersebut memperbarui waktu jam setiap tahun berdasarkan informasi mengenai risiko bencana bagi planet dan umat manusia.

Dewan ilmuwan organisasi dan pakar lain dalam teknologi nuklir dan ilmu iklim, termasuk 13 Pemenang Nobel, mendiskusikan peristiwa dunia dan menentukan di mana harus meletakkan jarum jam setiap tahun.

Ancaman apokaliptik yang tercermin dari jam termasuk politik, senjata, teknologi, perubahan iklim, dan pandemi.

Jam telah disetel ke 100 detik menuju tengah malam sejak tahun 2020, yang sudah mendekati tengah malam.

Dewan mengatakan, perang di Ukraina juga telah meningkatkan risiko bahwa senjata biologis dapat dikerahkan jika konflik berlanjut.

"Aliran disinformasi yang terus berlanjut tentang laboratorium senjata biologis di Ukraina menimbulkan kekhawatiran bahwa Rusia sendiri mungkin berpikir untuk menyebarkan senjata semacam itu," kata Bronson.

Baca Juga: Ikut Latihan Militer China & Afsel, Rusia Kirim Kapal Perang dengan Rudal Hipersonik

Sivan Kartha, seorang anggota dewan buletin dan ilmuwan di Stockholm Environmental Institute, mengatakan harga gas alam yang didorong oleh perang juga telah mendorong perusahaan untuk mengembangkan sumber gas alam di luar Rusia dan mengubah pembangkit listrik menjadi batu bara sebagai sumber tenaga alternatif. 

"Emisi karbon dioksida global dari pembakaran bahan bakar fosil, setelah pulih dari penurunan ekonomi COVID ke titik tertinggi sepanjang masa pada tahun 2021, terus meningkat pada tahun 2022 dan mencapai rekor tertinggi lainnya... Dengan emisi yang masih meningkat, cuaca ekstrem terus berlanjut, dan bahkan lebih jelas disebabkan oleh perubahan iklim," kata Kartha, menunjuk banjir dahsyat di Pakistan pada 2022 sebagai contoh.

Jam itu dibuat pada tahun 1947 oleh sekelompok ilmuwan atom, termasuk Albert Einstein, yang telah bekerja di Proyek Manhattan untuk mengembangkan senjata nuklir pertama di dunia selama Perang Dunia Kedua.

Lebih dari 75 tahun yang lalu, jam kiamat itu mulai berdetak pada tujuh menit hingga tengah malam.

Pada menit ke 17 menuju tengah malam, posisi jarum jam itu paling jauh dari "kiamat" pada tahun 1991, ketika Perang Dingin berakhir dan Amerika Serikat dan Uni Soviet menandatangani perjanjian yang secara substansial mengurangi persenjataan senjata nuklir kedua negara.

 

Selanjutnya: Tak Terasa January Effect pada IHSG, Intip Rekomendasi Saham Berikut

Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

Terbaru