Reporter: Nina Dwiantika | Editor: Nina Dwiantika
KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Lonjakan harga minyak dunia akibat eskalasi konflik di Timur Tengah mulai mengguncang pasar global, memicu tekanan inflasi, kepanikan energi di Asia, hingga intervensi pemerintah untuk menahan lonjakan harga bahan bakar.
Harga minyak bahkan menembus level psikologis baru. Minyak mentah Brent dan West Texas Intermediate (WTI) melonjak lebih dari 25% dalam perdagangan semalam hingga melampaui US$110 per barel. Ini menjadi reli tercepat sejak dekade 1980-an.
Bloomberg dan Reuters (9/3), sejak konflik dimulai, harga Brent telah melesat lebih dari 50%, sedangkan WTI melonjak lebih dari 60%. Lonjakan ini dipicu meningkatnya risiko gangguan pasokan energi dari Timur Tengah, khususnya jika jalur vital Selat Hormuz terganggu.
Strategis Macquarie, Vikas Dwivedi, memperingatkan bahwa penutupan Selat Hormuz selama beberapa minggu dapat memicu efek domino di pasar energi global. Dalam skenario tersebut, harga minyak berpotensi melonjak hingga US$150 per barel atau lebih tinggi.
Kenaikan tajam harga energi ini juga mengguncang pasar keuangan. Kontrak berjangka indeks saham AS langsung terperosok saat perdagangan dibuka. Futures S&P 500 dan Nasdaq 100 masing-masing turun sekitar 1,5%, sementara kontrak Dow Jones Industrial Average jatuh hingga 2%.
Konflik yang awalnya dipicu serangan udara Amerika Serikat dan Israel terhadap fasilitas nuklir Iran kini berkembang menjadi perang regional. Iran dilaporkan melancarkan serangan rudal dan drone ke berbagai target di Timur Tengah, termasuk bandara, pangkalan militer, hingga infrastruktur di Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Bahrain, dan Oman.
Serangan juga mulai menyasar fasilitas sipil strategis. Pemerintah Bahrain melaporkan sebuah pabrik desalinasi rusak akibat serangan drone Iran. Fasilitas semacam ini sangat krusial karena menjadi sumber utama air minum di kawasan Timur Tengah.
Di Iran sendiri, serangan udara menargetkan depot bahan bakar di sekitar Teheran dan Kharaj, membuat langit kota-kota tersebut diselimuti asap hitam selama akhir pekan.
Lonjakan harga minyak mulai terasa langsung oleh konsumen. Di Amerika Serikat, harga rata-rata bensin nasional naik menjadi US$3,45 per galon pada Minggu, atau melonjak sekitar 15% dibandingkan pekan sebelumnya.
Ekonom Goldman Sachs memperingatkan, dampak ekonomi global dari lonjakan energi ini tidak kecil. Jika harga minyak bertahan di sekitar US$100 per barel, inflasi global diperkirakan dapat naik sekitar 0,7 poin persentase, sementara pertumbuhan ekonomi dunia berpotensi melambat 0,4 poin persentase.
Baca Juga: Inflasi China Naik Setelah Lonjakan Minyak
Asia berbenah
Negara-negara Asia yang bergantung pada impor energi menjadi pihak yang paling rentan.
Vietnam misalnya, langsung mengambil langkah darurat dengan menghapus tarif impor bahan bakar dan memberikan fleksibilitas lebih besar kepada perusahaan energi negara PetroVietnam untuk membeli dan menjual minyak.
Gangguan pasokan dari kawasan Teluk Persia menjadi kekhawatiran utama bagi Asia yang sangat bergantung pada impor minyak. Bagi negara berkembang dengan sensitivitas tinggi terhadap harga energi, lonjakan biaya energi bisa langsung menekan stabilitas ekonomi.
Pemerintah Vietnam menyatakan pasokan energi domestik masih relatif aman untuk saat ini. Namun jika konflik berlanjut hingga April, pasar energi domestik berpotensi menghadapi tekanan yang lebih berat.
Produksi minyak Vietnam saat ini hanya sekitar 180.000 barel per hari, jauh di bawah konsumsi domestik. Sebagian besar produksi dialirkan ke Kilang Dung Quat yang saat ini bahkan beroperasi sekitar 118% dari kapasitas normal.
Sementara itu, Kilang Nghi Son juga tetap beroperasi stabil guna menjaga pasokan bahan bakar dalam negeri.
Meski begitu, lonjakan harga sudah terasa di tingkat konsumen. Harga bensin RON-95 di Vietnam naik tajam menjadi 27.040 dong per liter dari 20.151 dong pada akhir Februari. Harga diesel bahkan melonjak hampir 57% hanya dalam waktu singkat.
Kenaikan harga tersebut memicu kepanikan pembelian. Puluhan SPBU di Hanoi dilaporkan sempat menghentikan penjualan sementara atau mempersingkat jam operasional karena masyarakat berbondong-bondong mengisi bahan bakar.
Di Korea Selatan, pemerintah bahkan mengambil langkah lebih drastis. Presiden Lee Jae Myung menyatakan pemerintah akan menerapkan sistem batas harga bahan bakar domestik untuk pertama kalinya dalam hampir tiga dekade.
Langkah ini diambil untuk menahan lonjakan harga energi yang dipicu konflik Timur Tengah, mengingat ekonomi Korea Selatan sangat bergantung pada impor energi dari kawasan tersebut.
Pemerintah juga mempertimbangkan mencari sumber energi alternatif di luar jalur pasokan yang melalui Selat Hormuz.
Selain itu, program stabilisasi pasar senilai 100 triliun won atau sekitar US$ 66,9 miliar disiapkan untuk meredam gejolak pasar keuangan dan nilai tukar.
Tekanan pasar sudah mulai terlihat. Indeks saham Korea Selatan anjlok sekitar 8% pada Senin hingga memicu penghentian sementara perdagangan atau circuit breaker. Nilai tukar won juga sempat merosot mendekati level psikologis 1.500 per dolar AS sebelum akhirnya sedikit pulih.
Perkembangan ini menunjukkan bahwa konflik Timur Tengah bukan lagi sekadar krisis geopolitik regional. Gangguan pasokan energi dari kawasan tersebut berpotensi menjadi pemicu guncangan ekonomi global berikutnya.
Baca Juga: Israel Bantah Bentrokan dengan Hizbullah di Lebanon Timur













