Rasa Takut Menular, Krisis Inggris Bisa Menjangkit ke Pasar Keuangan Lain

Selasa, 04 Oktober 2022 | 08:18 WIB   Reporter: Barratut Taqiyyah Rafie
Rasa Takut Menular, Krisis Inggris Bisa Menjangkit ke Pasar Keuangan Lain

ILUSTRASI. Penurunan cepat ekonomi Inggris dari posisi stabilitas ke posisi krisis mengancam upaya global untuk mengendalikan inflasi. REUTERS/Kevin Coombs/File Photo GLOBAL BUSINESS WEEK AHEAD


Informasi saja, pound kembali melemah setelah pemerintahan Perdana Menteri Liz Truss tidak memiliki rencana untuk menyerah pada tekanan dari pasar atau mengindahkan saran dari Dana Moneter Internasional. Truss menyalahkan perang Rusia di Ukraina sebagai peristiwa yang mengguncang pasar global.

“Bencana kebijakan Inggris telah menjadi pendorong besar tindakan pasar baru-baru ini,” kata Dan Suzuki, wakil kepala investasi di Richard Bernstein Advisors. 

“Mengingat paralel makro yang kuat dari inflasi tinggi, pertumbuhan yang melambat, dan pengetatan kebijakan moneter di sebagian besar pasar, investor sering memperkirakan tindakan kebijakan baru di satu wilayah ke wilayah lain," tambah Suzuki.

Pengamat lain menilai, terlalu dini untuk khawatir tentang krisis keuangan yang lebih luas. Menurut Ed Al-Hussainy, ahli strategi suku bunga senior di Columbia Threadneedle Investments, hal itu hanya bisa terjadi jika aksi jual Inggris mulai mengganggu fungsi pasar obligasi AS.

“Sejauh ini, kondisi di Inggris telah memperburuk likuiditas yang buruk di pihak kami, tetapi tidak cukup untuk memicu kekhawatiran stabilitas keuangan,” katanya.

Tetapi sulit untuk mengabaikan betapa terjalinnya pasar Inggris dengan negara-negara maju lainnya. Sebagai pusat keuangan global utama, Inggris memiliki triliunan yang diinvestasikan dalam aset global dan AS. 

Selain itu, pasar bergerak lebih beriringan, di mana data menunjukkan korelasi lintas aset mendekati level tertinggi dalam 17 tahun.

"Pasar emas khusus untuk Inggris, tetapi ini semua mengarah ke arah kekhawatiran yang sama tentang inflasi," Seema Shah, kepala strategi global di Principal Global Investors mengatakan kepada Bloomberg TV. "Anda dapat mengatakan ada pergerakan yang sama di mana-mana."

Mengingat saja, seminggu yang lalu, Bank of England mengambil langkah yang salah dalam kebijakan fiskalnya. Yakni menaikkan suku bunga untuk mengatasi inflasi.  

Melansir CNN, kurang dari 24 jam kemudian, pemerintah Perdana Menteri Inggris yang baru Liz Truss mengumumkan rencananya untuk pemotongan pajak terbesar dalam 50 tahun. 

Baca Juga: Penolakan terhadap Agenda Ekonomi Baru Inggris Semakin Luas, IMF Ikut Mengkritik

Kebijakan ini bertujuan untuk mengerek kembali pertumbuhan ekonomi. Namun nyatanya, pemangkasan pajak meniup lubang besar dalam keuangan negara dan kredibilitasnya di mata investor. 

Alhasil, nilai tukar poundsterling jatuh ke rekor terendah terhadap dolar AS pada hari Senin. Kondisi ini terjadi setelah menteri keuangan Inggris Kwasi Kwarteng menggandakan taruhannya dengan mengisyaratkan lebih banyak pemotongan pajak yang akan datang tanpa menjelaskan bagaimana cara membayarnya.  

Harga obligasi Inggris jatuh, sehingga menyebabkan biaya pinjaman melonjak. Kondisi ini juga memicu kekacauan di pasar hipotek dan mendorong dana pensiun ke ambang kebangkrutan. 

Sebelumnya, pasar keuangan Inggris sudah dalam keadaan demam karena meningkatnya risiko resesi global dan terjadinya tiga kenaikan suku bunga yang sangat besar dari bank sentral AS dalam rangka perang melawan inflasi. 

Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

Terbaru