kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.839.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.553   53,00   0,30%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

Ratusan kapal Tiongkok diduga terlibat dalam pengerukan ilegal di Laut China Selatan


Kamis, 14 Mei 2020 / 04:16 WIB
ILUSTRASI. Ilustrasi penampakan Laut China Selatan dari atas udara. ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/foc.


Sumber: Forbes | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

Pasir itu tampaknya ditujukan untuk perluasan Bandara Hong Kong. Keabsahan operasi dipertanyakan secara lokal karena ada penentangan terhadap penambangan pasir hitam.

Pasir hitam sangat relevan untuk Filipina. Pasir ini digunakan dalam produk beton dan baja, serta perhiasan dan kosmetik. Pasir itu juga bisa mengandung Magnetite, sejenis bijih besi yang merupakan komoditas berharga. Ekstraksinya mungkin memiliki dampak negatif yang signifikan. Ini dapat mempengaruhi stok ikan dan menyebabkan erosi, serta membahayakan komunitas lokal.

Baca Juga: Hubungan AS dan China kian panas di Laut China Selatan, ini penyebabnya

Sudut lain dari kegiatan pengerukan laut ilegal adalah penjarahan kapal yang karam. Bangkai kapal yang diselamatkan secara ilegal termasuk kuburan perang dari Perang Dunia II. Pedagang besi tua yang terlibat mungkin termasuk perusahaan Malaysia. Bangkai kapal termasuk angkatan laut Amerika, Inggris, Belanda dan Jepang, serta banyak kapal dagang yang ditenggelamkan selama perang.

Kapal perang Inggris yang terkenal HMS Prince of Wales telah menjadi salah satu korban yang diketahui, seperti halnya kapal selam Angkatan Laut AS, USS Perch. Dan kapal penjelajah USS Houston yang tenggelam di Pertempuran Selat Sunda pada tahun 1942. Makam perang itu berisi 650 pelaut dan marinir Amerika.




TERBARU

[X]
×