kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.709.000   20.000   0,74%
  • USD/IDR 17.818   -194,00   -1,08%
  • IDX 6.008   121,62   2,07%
  • KOMPAS100 794   18,85   2,43%
  • LQ45 597   10,61   1,81%
  • ISSI 206   5,10   2,54%
  • IDX30 339   4,60   1,38%
  • IDXHIDIV20 418   3,54   0,86%
  • IDX80 90   1,96   2,24%
  • IDXV30 113   2,76   2,50%
  • IDXQ30 109   1,12   1,03%

Referendum Pembatasan Penduduk Ancam Daya Saing Ekonomi Swiss


Jumat, 12 Juni 2026 / 16:00 WIB
Referendum Pembatasan Penduduk Ancam Daya Saing Ekonomi Swiss
ILUSTRASI. Bendera Swiss (KONTAN/Fenie Chintya)


Reporter: Nina Dwiantika | Editor: Nina Dwiantika

KONTAN.CO.ID - BASEL. Swiss menghadapi dilema antara menjaga pertumbuhan ekonomi dan meredam kekhawatiran publik terhadap lonjakan jumlah penduduk. Dalam referendum yang akan digelar Minggu (14/6), warga Swiss akan menentukan nasib usulan pembatasan populasi yang dinilai kalangan bisnis dapat mengancam daya saing ekonomi negara tersebut.

Kekhawatiran terbesar datang dari sektor farmasi dan bioteknologi, salah satu mesin utama ekonomi Swiss. Industri ini sangat bergantung pada tenaga kerja asing berkeahlian tinggi, terutama untuk kegiatan riset dan pengembangan.

Melansir Reuters (12/6), Basel menjadi contoh nyata ketergantungan tersebut. Kota yang berbatasan dengan Jerman dan Prancis itu merupakan pusat industri farmasi global dan rumah bagi dua raksasa obat, Roche dan Novartis. Selama beberapa dekade, pertumbuhan ekonomi Basel melampaui rata-rata nasional. Sekitar 40% penduduknya merupakan warga negara asing dan produk domestik bruto (PDB) per kapita kota tersebut hampir 2,5 kali lebih tinggi dibandingkan rata-rata Swiss.

Namun model pertumbuhan tersebut kini menghadapi tantangan. Partai Rakyat Swiss (Swiss People's Party/SVP) mengusulkan agar jumlah penduduk negara itu tidak mencapai 10 juta jiwa hingga tahun 2050. Saat ini populasi Swiss telah melampaui 9 juta jiwa dan diperkirakan menyentuh angka 10 juta sekitar tahun 2042 apabila tren saat ini berlanjut.

SVP beralasan pertumbuhan penduduk yang cepat telah meningkatkan tekanan terhadap perumahan, layanan publik, dan transportasi. Partai yang dikenal kritis terhadap Uni Eropa itu juga mengusulkan penghentian kebebasan bergerak warga dengan Uni Eropa apabila batas populasi tersebut terlampaui selama dua tahun berturut-turut.

Kalangan pelaku usaha menilai kebijakan itu dapat berdampak negatif terhadap iklim investasi. Kepala Pemerintahan Basel Conradin Cramer mengatakan, pembatasan populasi akan menciptakan ketidakpastian bagi perusahaan yang selama ini mengandalkan pasokan tenaga kerja internasional.

Menurutnya, perusahaan-perusahaan besar bisa saja meninjau ulang rencana ekspansi dan investasi jika akses terhadap talenta asing menjadi lebih sulit. "Itu akan menjadi racun bagi ekonomi kami," ujarnya seperti dikutip Reuters, Jumat (12/6).

Baca Juga: Bankir Swiss Kalah Banding dalam Kasus Rekening Teman Dekat Putin

Roche menjadi salah satu perusahaan yang paling vokal menentang usulan tersebut. Perusahaan farmasi itu mempekerjakan sekitar 12.400 orang di wilayah Basel dan memiliki karyawan dari 115 negara di seluruh Swiss. Manajemen Roche khawatir pembatasan imigrasi akan menyulitkan perekrutan ilmuwan dan tenaga riset yang selama ini menjadi fondasi keunggulan inovasi Swiss.

Kepala fasilitas Roche di Basel, Juerg Erismann, menegaskan posisi Swiss sebagai pusat inovasi global bergantung pada kemampuan menarik talenta terbaik dari berbagai negara. Menurutnya, pembatasan tersebut tidak hanya mengancam aktivitas penelitian, tetapi juga lapangan kerja di seluruh rantai pasok industri.

Kekhawatiran itu muncul pada saat industri farmasi Swiss juga menghadapi tantangan eksternal. Produk kimia dan farmasi menyumbang lebih dari separuh total ekspor Swiss. Dalam beberapa waktu terakhir, Roche dan Novartis sempat menghadapi ancaman tarif dari Amerika Serikat sebelum akhirnya terhindar dari beban tarif yang lebih besar melalui komitmen investasi di pasar AS.

Pemerintah Swiss sendiri telah meminta masyarakat menolak proposal pembatasan populasi tersebut. Meski demikian, tingginya biaya sewa rumah, kepadatan transportasi publik, serta meningkatnya biaya hidup menjadi isu yang berpotensi memengaruhi pilihan pemilih.

Bagi dunia usaha, hasil referendum ini tidak hanya menentukan kebijakan imigrasi Swiss, tetapi juga akan menjadi sinyal penting mengenai seberapa terbuka negara tersebut terhadap investasi dan tenaga kerja global di masa depan.

Baca Juga: Bank Sentral Swiss Rugi US$634,15 Juta, Kenaikan Emas Tak Mampu Menutup Kerugian


Tag


TERBARU
Kontan Academy
Langganan Business Insight Supply Chain End-to-End: From Forecast to Customer Value

[X]
×