kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.844.000   -183.000   -6,05%
  • USD/IDR 16.775   0,00   0,00%
  • IDX 8.123   199,87   2,52%
  • KOMPAS100 1.137   29,35   2,65%
  • LQ45 824   17,48   2,17%
  • ISSI 289   10,45   3,75%
  • IDX30 430   9,01   2,14%
  • IDXHIDIV20 515   9,13   1,81%
  • IDX80 127   3,21   2,60%
  • IDXV30 141   5,28   3,90%
  • IDXQ30 139   1,96   1,43%

Risiko Perang Dagang Jilid II: China Siap Balas Pukulan Keras Trump soal Iran


Rabu, 14 Januari 2026 / 08:10 WIB
Risiko Perang Dagang Jilid II: China Siap Balas Pukulan Keras Trump soal Iran
ILUSTRASI. Membeli minyak Iran ternyata membawa risiko besar. Tarif 25% yang diumumkan Trump kini mengancam mitra dagang terbesar Iran, China. (Ng Han Guan/Pool/REUTERS)


Sumber: Reuters | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - Ketika Donald Trump terbang ke Beijing pada April mendatang, ia berharap kunjungan itu bisa menjadi sinyal dimulainya kembali hubungan yang lebih baik antara dua negara adidaya, setelah setahun saling balas pukulan di bidang ekonomi.

Namun, sebelum itu terjadi, Presiden Amerika Serikat justru kembali melayangkan pukulan keras kepada Xi Jinping. Pada Senin, Trump mengumumkan tarif sebesar 25% bagi negara mana pun yang “melakukan bisnis” dengan Iran.

Mengutip The Telegraph, kebijakan ini berpotensi merugikan China, yang merupakan salah satu mitra dagang utama Iran, sekaligus mengancam menghancurkan gencatan senjata dagang AS–China yang masih rapuh, bahkan sebelum hubungan baru itu benar-benar berjalan.

Gedung Putih sejauh ini belum menjelaskan secara rinci mekanisme tarif baru tersebut. Banyak pihak menilai langkah ini merupakan taktik khas Trump untuk menekan Iran lebih dulu sebelum membuka ruang negosiasi.

Namun, sasaran paling jelas dari kebijakan ini adalah China. Hingga baru-baru ini, China membeli sebagian besar minyak Iran. Dalam data terbaru yang dianggap paling dapat diandalkan, China juga tercatat sebagai mitra dagang terbesar Republik Islam tersebut.

Beijing tentu tidak akan senang. Selama setahun terakhir, kepemimpinan China menunjukkan hampir nol toleransi terhadap tekanan atau instruksi dari luar, dan semakin siap untuk membalas.

Baca Juga: Bank Dunia Wanti-wanti: Pertumbuhan Global Terlalu Lemah Entaskan Kemiskinan

Pada Senin, Kedutaan Besar China di Washington mengecam apa yang mereka sebut sebagai “sanksi sepihak”, serta mengkritik tarif tersebut sebagai bentuk “yurisdiksi lintas batas”.

Sehari kemudian, juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Mao Ning, menyampaikan peringatan yang lebih tegas.

“Tidak ada pemenang dalam perang tarif,” ujarnya. “China akan dengan tegas melindungi hak dan kepentingannya yang sah.”

Gencatan senjata yang rapuh

Pelaku pasar dan dunia usaha, yang sempat menarik napas lega setelah Trump dan Xi tampak berdamai pada Oktober lalu, kini khawatir akan kembalinya volatilitas, ketidakpastian, dan gangguan seperti saat perang dagang 2025.

Jonathan Steenberg, ekonom dari perusahaan asuransi kredit Coface, mengatakan bahwa setiap tarif tambahan berisiko merusak gencatan senjata rapuh antara AS dan China. Menurutnya, hal ini bisa memicu aksi balasan dan membalikkan periode stabilitas relatif serta sedikit kepastian yang baru saja dirasakan dalam perdagangan global.

Pada puncak konflik dagang sebelumnya, Washington bahkan mengancam China dengan tarif lebih dari 100%. Sebagai balasan, Beijing menekan AS dengan menghentikan ekspor logam tanah jarang, yang merupakan komponen vital bagi industri otomotif dan pertahanan Amerika.

Baca Juga: Rusia Tegas: Sanksi AS Takkan Hentikan Proyek Minyak di Venezuela


Tag


TERBARU

[X]
×