Sumber: Reuters | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
Tenggat waktu yang ditetapkan sendiri untuk mencapai kesepakatan datang dan pergi tanpa hasil, sementara perdagangan langsung antara kedua negara anjlok tajam.
Setelah Xi dan Trump bertemu di Korea Selatan pada 30 Oktober, tercapai sebuah kesepakatan yang menurunkan tarif rata-rata AS menjadi sekitar 47%. Sebagai gantinya, China berkomitmen menahan tarifnya, kembali menjual logam tanah jarang, dan membeli kedelai dari Amerika Serikat.
Sejauh ini, kedua pihak mematuhi kesepakatan tersebut. Perhatian Trump pun lebih banyak tertuju pada konflik Rusia–Ukraina dan situasi di Venezuela.
Di sisi lain, sumber ketegangan utama Beijing justru datang dari Perdana Menteri Jepang yang baru, Sanae Takaichi, terkait pernyataannya soal Taiwan.
China telah membeli 10 juta ton dari total 12 juta ton kedelai AS yang dijanjikan akan dibeli hingga akhir bulan depan. Langkah ini jelas membantu para petani di negara-negara bagian kunci menjelang pemilu paruh waktu Kongres AS akhir tahun ini.
Pada Desember, China juga menyatakan akan mempercepat penerbitan izin umum ekspor logam tanah jarang dengan masa berlaku 12 bulan, yang berarti melonggarkan perdagangan magnet, sektor yang selama ini sangat dikuasai China.
Tonton: Prabowo Klaim Banyak Investor Asing Tertarik Proyek Waste to Energy
China ‘menampar’ Trump
Meski begitu, Beijing tetap bersiaga. Rezim perizinan ekspor masih berlaku, dan China lebih memprioritaskan ekspor produk jadi ketimbang bahan mentah yang memungkinkan AS memproduksi magnetnya sendiri.
China juga telah membatasi ekspor logam tanah jarang ke Jepang, menunjukkan bahwa Beijing siap menggunakan “senjatanya” jika diprovokasi. Dalam konteks ini, tarif baru AS terkait Iran bisa saja dianggap sebagai provokasi.
Pengumuman Trump soal tarif Iran disampaikan dengan nada tegas. “Perintah ini bersifat final dan mengikat,” tulisnya di Truth Social.
Namun, Gedung Putih belakangan tampak enggan mengambil risiko memicu kembali konflik terbuka dengan China. Seperti kata penasihat perdagangan Trump, Peter Navarro, tahun lalu, “Kami tidak ingin sampai pada titik di mana kami justru melukai diri sendiri.”
Dan Wang, Direktur China di Eurasia Group, menilai perang tarif Trump tidak membuahkan hasil. “Trump mencoba bersikap keras terhadap China, tapi China justru seperti menamparnya,” ujarnya.
Amerika Serikat memang memberlakukan tarif 25% terhadap pembeli minyak Rusia, tetapi sejauh ini sanksi tersebut lebih difokuskan pada India dan belum ditegakkan terhadap China.
Hal ini membuat Beijing memilih bersikap menunggu dan melihat. Menurut Wang, pejabat China bahkan sudah memperkirakan langkah semacam ini.
“Tidak mungkin China langsung eskalasi dengan senjata besar seperti logam tanah jarang,” katanya. “Apa pun yang dilakukan China kemungkinan hanya akan sepadan dengan apa yang dilakukan Trump.”
Ia menilai Beijing baru akan bereaksi keras jika Trump meningkatkan tekanan terkait Taiwan.
Risiko itu muncul menjelang pertemuan Trump dan Takaichi yang dijadwalkan pada Maret. Namun sejauh ini, Gedung Putih terlihat cukup berhati-hati dalam menunjukkan dukungannya kepada perdana menteri Jepang tersebut.
Trump dan Xi mungkin masih mampu menahan ketegangan dagang yang terus membara sambil bersiap bertemu langsung pada April nanti. Namun Steenberg dari Coface mengingatkan, dunia usaha mungkin tidak akan menunggu hasil pertemuan itu.
“Bahkan ancaman tarif baru saja sudah bisa memicu gelombang penimbunan barang secara berjaga-jaga oleh perusahaan, yang berisiko mengacaukan rantai pasok dan mendorong biaya naik,” ujarnya.













