Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump akan mengumpulkan para petinggi perusahaan tambang terbesar dunia di Departemen Luar Negeri AS pada Jumat (7/8/2026). Pertemuan tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintahan Trump memperkuat pasokan mineral kritis dari dalam negeri dan negara-negara sekutu.
Mineral kritis menjadi salah satu pilar utama kebijakan keamanan nasional dan industri AS. Pemerintah AS membutuhkan pasokan mineral tersebut untuk mengisi kembali persediaan senjata yang terkuras selama konflik dengan Iran sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap rantai pasok China.
Selama perang Iran yang telah berlangsung selama lima bulan, pasukan AS telah menggunakan dalam jumlah besar rudal berpemandu presisi dan rudal pencegat pertahanan udara.
Pejabat pertahanan dan anggota parlemen AS sebelumnya memperingatkan bahwa pengisian kembali sejumlah persediaan senjata dapat membutuhkan waktu bertahun-tahun karena keterbatasan kapasitas produksi. Namun, pemerintahan Trump membantah laporan mengenai adanya kekurangan persediaan senjata dalam skala signifikan.
Baca Juga: Harga Pangan Dunia Sentuh Level Tertinggi dalam Tiga Tahun
Mineral kritis untuk industri pertahanan AS
Sejumlah mineral, termasuk logam tanah jarang, tungsten, germanium, dan skandium, sangat penting dalam produksi berbagai peralatan militer canggih.
Menurut pejabat Pentagon dan perusahaan pertahanan, mineral-mineral tersebut dibutuhkan untuk memproduksi rudal berpemandu presisi, pesawat tempur, kendaraan lapis baja, sensor inframerah, serta berbagai sistem persenjataan berteknologi tinggi lainnya.
Pertemuan dengan para pelaku industri tersebut juga menjadi bagian dari strategi Gedung Putih untuk menunjukkan dukungan sektor korporasi terhadap kebijakan pemerintahan Trump.
Dalam berbagai acara meja bundar, Trump kerap dikelilingi para pemimpin perusahaan yang memberikan dukungan terhadap kebijakannya sekaligus menyoroti prioritas ekonomi pemerintah.
Format tersebut memberikan kesempatan bagi perusahaan untuk menyatakan dukungan secara terbuka terhadap berbagai inisiatif Gedung Putih. Di sisi lain, Trump memperoleh panggung untuk menekankan upayanya meningkatkan investasi, manufaktur, serta daya saing AS.
Baca Juga: Putin Buka Jalan Penjualan 30,4% Saham Bandara Terbesar Rusia
Bos perusahaan tambang dunia hadir
Sejumlah perusahaan tambang besar diperkirakan menghadiri pertemuan tersebut. Mereka antara lain Rio Tinto Group, BHP Group, Freeport-McMoRan Inc, MP Materials Corp, USA Rare Earth Inc, Energy Fuels Inc, dan The Metals Company.
Menurut seseorang yang mengetahui rencana pertemuan tersebut, pemerintahan Trump berencana mengumumkan sejumlah kesepakatan dan nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU).
Selain memperkuat pasokan mineral, pemerintahan AS juga berupaya mengatasi kekurangan tenaga kerja yang dibutuhkan untuk mengembangkan industri pertambangan domestik.
Kebutuhan tersebut mencakup tenaga insinyur, ahli geologi, pekerja tambang, hingga teknisi.
Pada Jumat pagi waktu setempat, Departemen Energi AS diperkirakan menggelar pertemuan dengan perwakilan dari seluruh 14 sekolah pertambangan terakreditasi di AS.
Pertemuan tersebut bertujuan mempromosikan karier di sektor pertambangan dan mendorong lebih banyak mahasiswa untuk memasuki industri tersebut.
AS soroti dominasi China
Pejabat AS menilai jaringan universitas pertambangan yang luas di China menjadi salah satu keunggulan negara tersebut dalam mendominasi produksi mineral global.
Baca Juga: Arab Saudi Waspadai Serangan Milisi Irak dan Houthi
China selama bertahun-tahun telah membangun posisi kuat dalam rantai pasok mineral strategis, mulai dari kegiatan pertambangan hingga pemrosesan. Kondisi tersebut membuat AS berupaya mengurangi ketergantungannya terhadap pasokan dari China.
Sejak kembali menjabat sebagai presiden, Trump telah meluncurkan program pembentukan cadangan strategis mineral senilai US$12 miliar.
Pemerintah AS juga memberikan dukungan berupa investasi ekuitas kepada perusahaan yang mengembangkan tambang dan fasilitas pemrosesan mineral di dalam negeri.
Selain itu, pemerintahan Trump berupaya membatasi ketergantungan kontraktor pertahanan AS terhadap pasokan mineral dari China.
Pemerintah AS menyatakan dukungan negara diperlukan untuk mengimbangi investasi China selama beberapa dekade yang telah membuat Beijing mendominasi sektor pertambangan dan pemrosesan berbagai mineral strategis.
Langkah tersebut menunjukkan bahwa penguasaan mineral kritis kini tidak hanya dipandang sebagai persoalan industri dan perdagangan, tetapi juga semakin erat dikaitkan dengan keamanan nasional, kapasitas pertahanan, serta daya saing ekonomi AS.













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
