Sumber: Reuters | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
KONTAN.CO.ID - Ketika Donald Trump terbang ke Beijing pada April mendatang, ia berharap kunjungan itu bisa menjadi sinyal dimulainya kembali hubungan yang lebih baik antara dua negara adidaya, setelah setahun saling balas pukulan di bidang ekonomi.
Namun, sebelum itu terjadi, Presiden Amerika Serikat justru kembali melayangkan pukulan keras kepada Xi Jinping. Pada Senin, Trump mengumumkan tarif sebesar 25% bagi negara mana pun yang “melakukan bisnis” dengan Iran.
Mengutip The Telegraph, kebijakan ini berpotensi merugikan China, yang merupakan salah satu mitra dagang utama Iran, sekaligus mengancam menghancurkan gencatan senjata dagang AS–China yang masih rapuh, bahkan sebelum hubungan baru itu benar-benar berjalan.
Gedung Putih sejauh ini belum menjelaskan secara rinci mekanisme tarif baru tersebut. Banyak pihak menilai langkah ini merupakan taktik khas Trump untuk menekan Iran lebih dulu sebelum membuka ruang negosiasi.
Namun, sasaran paling jelas dari kebijakan ini adalah China. Hingga baru-baru ini, China membeli sebagian besar minyak Iran. Dalam data terbaru yang dianggap paling dapat diandalkan, China juga tercatat sebagai mitra dagang terbesar Republik Islam tersebut.
Beijing tentu tidak akan senang. Selama setahun terakhir, kepemimpinan China menunjukkan hampir nol toleransi terhadap tekanan atau instruksi dari luar, dan semakin siap untuk membalas.
Baca Juga: Bank Dunia Wanti-wanti: Pertumbuhan Global Terlalu Lemah Entaskan Kemiskinan
Pada Senin, Kedutaan Besar China di Washington mengecam apa yang mereka sebut sebagai “sanksi sepihak”, serta mengkritik tarif tersebut sebagai bentuk “yurisdiksi lintas batas”.
Sehari kemudian, juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Mao Ning, menyampaikan peringatan yang lebih tegas.
“Tidak ada pemenang dalam perang tarif,” ujarnya. “China akan dengan tegas melindungi hak dan kepentingannya yang sah.”
Gencatan senjata yang rapuh
Pelaku pasar dan dunia usaha, yang sempat menarik napas lega setelah Trump dan Xi tampak berdamai pada Oktober lalu, kini khawatir akan kembalinya volatilitas, ketidakpastian, dan gangguan seperti saat perang dagang 2025.
Jonathan Steenberg, ekonom dari perusahaan asuransi kredit Coface, mengatakan bahwa setiap tarif tambahan berisiko merusak gencatan senjata rapuh antara AS dan China. Menurutnya, hal ini bisa memicu aksi balasan dan membalikkan periode stabilitas relatif serta sedikit kepastian yang baru saja dirasakan dalam perdagangan global.
Pada puncak konflik dagang sebelumnya, Washington bahkan mengancam China dengan tarif lebih dari 100%. Sebagai balasan, Beijing menekan AS dengan menghentikan ekspor logam tanah jarang, yang merupakan komponen vital bagi industri otomotif dan pertahanan Amerika.
Baca Juga: Rusia Tegas: Sanksi AS Takkan Hentikan Proyek Minyak di Venezuela
Tenggat waktu yang ditetapkan sendiri untuk mencapai kesepakatan datang dan pergi tanpa hasil, sementara perdagangan langsung antara kedua negara anjlok tajam.
Setelah Xi dan Trump bertemu di Korea Selatan pada 30 Oktober, tercapai sebuah kesepakatan yang menurunkan tarif rata-rata AS menjadi sekitar 47%. Sebagai gantinya, China berkomitmen menahan tarifnya, kembali menjual logam tanah jarang, dan membeli kedelai dari Amerika Serikat.
Sejauh ini, kedua pihak mematuhi kesepakatan tersebut. Perhatian Trump pun lebih banyak tertuju pada konflik Rusia–Ukraina dan situasi di Venezuela.
Di sisi lain, sumber ketegangan utama Beijing justru datang dari Perdana Menteri Jepang yang baru, Sanae Takaichi, terkait pernyataannya soal Taiwan.
China telah membeli 10 juta ton dari total 12 juta ton kedelai AS yang dijanjikan akan dibeli hingga akhir bulan depan. Langkah ini jelas membantu para petani di negara-negara bagian kunci menjelang pemilu paruh waktu Kongres AS akhir tahun ini.
Pada Desember, China juga menyatakan akan mempercepat penerbitan izin umum ekspor logam tanah jarang dengan masa berlaku 12 bulan, yang berarti melonggarkan perdagangan magnet, sektor yang selama ini sangat dikuasai China.
Tonton: Prabowo Klaim Banyak Investor Asing Tertarik Proyek Waste to Energy
China ‘menampar’ Trump
Meski begitu, Beijing tetap bersiaga. Rezim perizinan ekspor masih berlaku, dan China lebih memprioritaskan ekspor produk jadi ketimbang bahan mentah yang memungkinkan AS memproduksi magnetnya sendiri.
China juga telah membatasi ekspor logam tanah jarang ke Jepang, menunjukkan bahwa Beijing siap menggunakan “senjatanya” jika diprovokasi. Dalam konteks ini, tarif baru AS terkait Iran bisa saja dianggap sebagai provokasi.
Pengumuman Trump soal tarif Iran disampaikan dengan nada tegas. “Perintah ini bersifat final dan mengikat,” tulisnya di Truth Social.
Namun, Gedung Putih belakangan tampak enggan mengambil risiko memicu kembali konflik terbuka dengan China. Seperti kata penasihat perdagangan Trump, Peter Navarro, tahun lalu, “Kami tidak ingin sampai pada titik di mana kami justru melukai diri sendiri.”
Dan Wang, Direktur China di Eurasia Group, menilai perang tarif Trump tidak membuahkan hasil. “Trump mencoba bersikap keras terhadap China, tapi China justru seperti menamparnya,” ujarnya.
Amerika Serikat memang memberlakukan tarif 25% terhadap pembeli minyak Rusia, tetapi sejauh ini sanksi tersebut lebih difokuskan pada India dan belum ditegakkan terhadap China.
Hal ini membuat Beijing memilih bersikap menunggu dan melihat. Menurut Wang, pejabat China bahkan sudah memperkirakan langkah semacam ini.
“Tidak mungkin China langsung eskalasi dengan senjata besar seperti logam tanah jarang,” katanya. “Apa pun yang dilakukan China kemungkinan hanya akan sepadan dengan apa yang dilakukan Trump.”
Ia menilai Beijing baru akan bereaksi keras jika Trump meningkatkan tekanan terkait Taiwan.
Risiko itu muncul menjelang pertemuan Trump dan Takaichi yang dijadwalkan pada Maret. Namun sejauh ini, Gedung Putih terlihat cukup berhati-hati dalam menunjukkan dukungannya kepada perdana menteri Jepang tersebut.
Trump dan Xi mungkin masih mampu menahan ketegangan dagang yang terus membara sambil bersiap bertemu langsung pada April nanti. Namun Steenberg dari Coface mengingatkan, dunia usaha mungkin tidak akan menunggu hasil pertemuan itu.
“Bahkan ancaman tarif baru saja sudah bisa memicu gelombang penimbunan barang secara berjaga-jaga oleh perusahaan, yang berisiko mengacaukan rantai pasok dan mendorong biaya naik,” ujarnya.













