Sumber: Economic Times | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Robert Kiyosaki, penulis buku terlaris Rich Dad Poor Dad, kembali mengungkapkan pandangannya mengenai potensi resesi global.
Dalam sebuah unggahan di platform X, Kiyosaki menegaskan bahwa dunia saat ini memang tengah mengalami resesi. Namun, ia juga menekankan bahwa waktu selalu menjadi aset berharga bagi siapa saja yang ingin belajar dan beradaptasi dengan perubahan ekonomi.
Resesi Global dan Pentingnya Adaptasi
"Apakah dunia sedang mengalami resesi? Saya katakan 'Ya'. Dan saya telah berusaha memperingatkan orang-orang sejak saya menulis Rich Dad’s Prophecy pada tahun 2012," ujar Kiyosaki.
Meski demikian, ia meyakinkan bahwa belum terlambat untuk belajar dan mengambil langkah yang tepat dalam menghadapi situasi ini. "Apakah sudah terlambat untuk belajar dan melakukan perubahan? Jawabannya: TIDAK. Waktu ada di pihak Anda, dan waktu selalu menjadi aset bagi Anda."
Is The WORLD in a RECESSION?
I say “Yes.” And I have been doing my best to warn people since I wrote Rich Dad ‘s Prophecy in 2012.
Q: Is it too late to learn and make changes?
A: NO. But time on your side and time is always an asset to you.
In my previous X I compared… — Robert Kiyosaki (@theRealKiyosaki) March 26, 2025
Ia juga membahas dua konsep psikologis dalam dunia investasi: FOMO (Fear of Missing Out – ketakutan akan ketinggalan peluang) dan FOMM (Fear of Making Mistakes – ketakutan membuat kesalahan).
Menurut Kiyosaki, ketakutan terhadap kesalahan adalah hal yang diajarkan di sekolah dan dapat menghambat seseorang untuk mengambil langkah berani dalam berinvestasi.
Manfaat dan Risiko Belajar dari YouTube
Lebih lanjut, Kiyosaki menyoroti bagaimana YouTube kini menawarkan akses gratis ke berbagai pemikiran cerdas, tetapi juga menjadi tempat bagi "penipu" yang mencoba memanipulasi informasi demi keuntungan pribadi.
"YouTube menawarkan akses gratis ke beberapa otak paling brilian... tetapi juga ke otak para 'penipu'. Beberapa dari mereka menggunakan clickbait untuk menarik perhatian dan menjerumuskan orang-orang yang mudah percaya," tulisnya.
Baca Juga: Robert Kiyosaki: Menabung untuk Pensiun Itu Salah Besar! Inilah Cara yang Benar
Kiyosaki menyarankan agar masyarakat memanfaatkan platform ini dengan bijak, mempelajari perbedaan antara guru sejati dan mereka yang hanya "menjual buku". Baginya, investasi waktu dalam pembelajaran bisa menjadi salah satu investasi terbaik yang dapat dilakukan seseorang.
Inflasi dan Pengangguran Terus Meningkat
Menurut Kiyosaki, fakta yang tak bisa dihindari adalah dunia memang sedang berada dalam resesi. "Fakta menunjukkan bahwa inflasi terus naik, begitu juga dengan angka pengangguran," ungkapnya.
Ia mengajak orang-orang untuk mengambil sikap aktif dalam menghadapi tantangan ini.
"Pertanyaan terpenting adalah: Apa yang akan Anda lakukan dalam menghadapi resesi ini? Apakah resesi ini akan membuat Anda lebih kaya atau lebih miskin? Keputusan ada di tangan Anda, dan pendidikan yang tepat bisa didapatkan secara gratis. Manfaatkanlah kesempatan ini dan jadikan resesi ini sebagai hal terbaik yang pernah terjadi pada Anda. Hanya Anda yang memiliki kekuatan untuk mengubahnya. Semoga sukses."
Baca Juga: Mengintip Rahasia Kaya Raya Seumur Hidup ala Robert Kiyosaki yang Jarang Diketahui
Bitcoin dan Peluang Kekayaan Generasi
Sebagai bagian dari strategi keuangan di tengah resesi, Kiyosaki kembali menegaskan keyakinannya terhadap Bitcoin. Ia menyatakan bahwa saat ini adalah "kesempatan terbesar dalam sejarah" bagi siapa saja yang ingin membangun kekayaan.
"Bitcoin telah mempermudah semua orang untuk menjadi kaya. Namun, kebanyakan orang yang terjebak dalam FOMM akan melewatkan salah satu peluang penciptaan kekayaan terbesar dalam sejarah," katanya.
Kiyosaki memperkirakan bahwa harga Bitcoin akan melampaui US$200.000 dalam tahun ini. Namun, ia meyakini bahwa mereka yang takut mengambil risiko akan ragu dan kemudian mengeluh bahwa Bitcoin sudah terlalu mahal.
Sementara itu, kelompok investor dengan mentalitas FOMO akan terus mengakumulasi Bitcoin dan menciptakan kekayaan yang dapat diwariskan ke generasi berikutnya.