Robinhood Markets Bukukan Kerugian Hingga US$ 423 Juta

Jumat, 28 Januari 2022 | 11:50 WIB   Reporter: Adrianus Octaviano
Robinhood Markets Bukukan Kerugian Hingga US$ 423 Juta


KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Pialang saham online, Robinhood Markets Inc membukukan kerugian bersih US$ 423 juta pada kuartal terakhir yang berakhir pada 31 Desember 2021. Setahun sebelumnya, sebelum IPO, perusahaan membukukan laba bersih sebesar US$ 7 juta.

Saham Robinhood pun merosot sebanyak 15% menjadi US$ 9,98 setelah pemaparan hasil kinerja. Sebagai perbandingan, harga saham saat IPO pada Juli tahun lalu adalah US$ 38 dan mencapai rekor tertingginya di bulan Agustus adalah US$85.

Sementara itu, perusahaan membukukan total pendapatan US$ 363 juta di periode tersebut naik dari  US$ 318 juta di tahun sebelumnya. Capaian tersebut juga lebih tinggi dari proyeksi analis yang senilai US$ 362,14 juta.

Biaya Robinhood selama kuartal keempat pun meningkat 162% dari tahun sebelumnya, berkontribusi pada kerugian bersih perusahaan. Chief Financial Officer Robinhood Jason Warnick mengaitkan sebagian besar biaya tersebut dengan kompensasi berbasis saham dan peningkatan jumlah karyawan. "Kami pikir kami berada dalam posisi yang sangat baik untuk mulai memperlambatnya dari sini," katanya dikutip dari Reuters, Jumat (28/1).

Baca Juga: DBS Sepakat Membeli Bisnis Ritel Citi di Taiwan Senilai US$ 706,6 Juta

Pendapatan berbasis transaksi dari cryptocurrency melonjak 304% menjadi US$ 48 juta pada kuartal keempat, sementara pendapatan dari perdagangan ekuitas turun 35% menjadi US$ 52 juta.

Warnick pun bilang kemungkinan Robinhood akan menjadi menguntungkan pada tahun 2022, tetapi mengindikasikan 2023 adalah target yang lebih mungkin tergantung pada kondisi pasar secara keseluruhan dan peluncuran produk baru.

Untuk kuartal pertama tahun ini, Robinhood memperkirakan total pendapatan bersih akan kurang dari $340 juta, yang akan turun 35% dari tahun sebelumnya, ketika reli saham mendorong perdagangan.

Minggu ini, Robinhood mengatakan telah membangun posisi modal bersih sebesar US$ 2,8 miliar, lebih dari 21 kali lipat dari yang saat ini dibutuhkan oleh Securities and Exchange Commission, di antara langkah-langkah lain untuk menghindari pembatasan perdagangan.

Editor: Tendi Mahadi

Terbaru