kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.954.000   14.000   0,48%
  • USD/IDR 16.824   -4,00   -0,02%
  • IDX 8.111   78,97   0,98%
  • KOMPAS100 1.145   12,82   1,13%
  • LQ45 828   6,97   0,85%
  • ISSI 288   4,21   1,49%
  • IDX30 430   3,65   0,86%
  • IDXHIDIV20 517   3,69   0,72%
  • IDX80 128   1,27   1,01%
  • IDXV30 140   1,17   0,84%
  • IDXQ30 140   1,03   0,74%

Dolar Melemah Jelang Data AS Selasa (10/2), Yen Bertahan Usai Pemilu Jepang


Selasa, 10 Februari 2026 / 08:54 WIB
Dolar Melemah Jelang Data AS Selasa (10/2), Yen Bertahan Usai Pemilu Jepang
ILUSTRASI. Dolar AS (REUTERS/Dado Ruvic)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Dolar AS melemah tajam pada perdagangan Selasa (10/2/2026) menjelang rilis sejumlah data ekonomi penting Amerika Serikat (AS) yang akan menjadi petunjuk arah suku bunga ke depan.

Sementara itu, yen Jepang mampu mempertahankan penguatannya setelah kemenangan telak Perdana Menteri Sanae Takaichi dalam pemilu.

Melansir Reuters, Indeks dolar, yang mengukur kekuatan dolar AS terhadap enam mata uang utama lainnya, berada di level 96,952 atau mendekati posisi terendah dalam sepekan terakhir.

Baca Juga: Bursa Asia Menguat Selasa (10/2/), Nikkei Cetak Rekor Baru saat Dolar AS Melemah

Sementara itu, euro melemah tipis ke US$1,19 setelah melonjak 0,85% pada perdagangan Senin.

Pound sterling bergerak stabil pada awal perdagangan Asia setelah sesi yang volatil pada Senin. Investor masih mencermati krisis politik yang membayangi Perdana Menteri Inggris Keir Starmer serta meningkatnya spekulasi pemangkasan suku bunga lanjutan.

Mata uang Inggris terakhir diperdagangkan di level US$1,3682, setelah menguat 0,6% pada sesi sebelumnya.

Yen Jepang berada di kisaran 155,85 per dolar AS, mempertahankan penguatan sekitar 0,8% yang dicapai semalam.

Peringatan verbal dari otoritas Jepang pada Senin turut menopang yen, setelah mata uang tersebut sempat melemah sesaat usai kemenangan Takaichi.

Baca Juga: Harga Emas Turun 1% dan Perak 2,5% Selasa (10/2) Pagi, Seiring Penguatan Dolar AS

Meski demikian, sejumlah analis memperkirakan yen akan kembali melemah dalam jangka panjang, seiring perhatian pasar beralih ke kebijakan fiskal pemerintahan baru.

Sejak Takaichi mengambil alih kepemimpinan Partai Demokrat Liberal (LDP) pada Oktober lalu, yen telah melemah sekitar 6%.

“Dengan kebijakan fiskal yang diperkirakan semakin longgar di bawah pemerintahan Takaichi yang lebih agresif, kami melihat dolar-yen pada akhirnya akan kembali menguat. Kami memproyeksikan pasangan ini naik ke level 164 pada akhir tahun,” ujar Carol Kong, analis mata uang di Commonwealth Bank of Australia.

Meski yen sempat memangkas sebagian pelemahannya terhadap sejumlah mata uang utama, pada Selasa yen kembali tertekan terhadap franc Swiss dan euro.

“Untuk penguatan yen yang lebih berkelanjutan, pasar membutuhkan keyakinan bahwa kebijakan fiskal tidak akan terlalu longgar,” tulis analis OCBC dalam catatannya.

Mereka juga menambahkan bahwa sikap Bank of Japan (BoJ) yang lebih tegas dan cenderung hawkish diperlukan untuk menahan ekspektasi pasar dan mendorong pelemahan USD/JPY yang lebih stabil.

Analis menilai pelemahan dolar turut dipicu laporan media yang menyebutkan China mendorong bank-bank domestiknya untuk mendiversifikasi kepemilikan dari obligasi pemerintah AS.

Baca Juga: Bursa Australia Menguat Ditopang Komoditas, Macquarie Bersinar Berkat Kinerja Positif

Pekan Padat Data Ekonomi

Fokus investor pekan ini tertuju pada laporan ketenagakerjaan dan inflasi AS yang jadwal rilisnya sempat tertunda akibat penutupan sementara pemerintah selama tiga hari.

Penasihat ekonomi Gedung Putih Kevin Hassett mengatakan bahwa pertumbuhan lapangan kerja AS berpotensi melambat dalam beberapa bulan mendatang, seiring melambatnya pertumbuhan angkatan kerja dan meningkatnya produktivitas. Investor pun berupaya menilai apakah pelemahan pasar tenaga kerja telah mencapai titik dasar.

“Pasar akan sangat fokus pada rilis data penting AS, termasuk payrolls besok dan CPI setelahnya,” ujar Carol Kong.

Ia menambahkan bahwa tekanan terhadap dolar berpotensi berlanjut karena proyeksi banknya menunjukkan data ketenagakerjaan di bawah konsensus pasar.

Baca Juga: Aktivitas Bisnis Australia Melambat Tipis pada Januari, Tekanan Biaya Mereda

Laporan nonfarm payrolls Januari yang akan dirilis Rabu diperkirakan menunjukkan penambahan sekitar 70.000 lapangan kerja, menurut jajak pendapat Reuters.

Pasar masih memperkirakan Federal Reserve akan memangkas suku bunga dua kali tahun ini, dengan pemangkasan pertama diperkirakan terjadi pada Juni.

Namun, ketidakpastian tetap tinggi menyusul potensi perubahan arah kebijakan AS setelah nominasi Kevin Warsh sebagai calon pengganti Jerome Powell sebagai ketua The Fed.

Di pasar mata uang lainnya, dolar Australia melemah 0,2% ke US$0,7079, sementara dolar Selandia Baru turun 0,2% ke US$0,6045.

Selanjutnya: Daftar Harga Emas Antam Hari Ini (10/2): Naik Rp 14.000 Jadi Rp 2.954.000 Per Gram

Menarik Dibaca: Kapan Puasa 2026? Ini Jadwal Sidang Isbat Awal Ramadan 1447 H




TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×