Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Bursa saham Asia menguat untuk hari kedua berturut-turut pada Selasa (10/2/2026), dipimpin reli lanjutan pasar saham Jepang setelah kemenangan telak Perdana Menteri Sanae Takaichi dalam pemilihan umum akhir pekan lalu.
Melansir Reuters, indeks MSCI Asia-Pasifik di luar Jepang naik 0,4%, sementara Nikkei 225 melonjak 2,1%, mencatatkan kenaikan untuk hari ketiga berturut-turut sekaligus menyentuh rekor tertinggi baru.
Baca Juga: Harga Emas Turun 1% dan Perak 2,5% Selasa (10/2) Pagi, Seiring Penguatan Dolar AS
Di sisi lain, kontrak berjangka saham AS sedikit melemah setelah reli dua hari sebelumnya. S&P 500 e-mini futures turun 0,1%, memangkas sebagian penguatan Wall Street semalam.
Pada Senin, indeks S&P 500 naik 0,5%, sementara Nasdaq Composite melonjak 0,9%, dipimpin saham teknologi yang mulai pulih dari aksi jual besar-besaran terkait isu kecerdasan buatan (AI) pekan lalu.
“Secara umum kami cukup positif terhadap kondisi ekonomi, meskipun mulai terlihat beberapa retakan,” ujar Kees Verbaas, Global Head of Fundamental Equity di Robeco.
Ia menambahkan bahwa program investasi perusahaan-perusahaan besar justru meningkat, yang biasanya menjadi sinyal positif bagi aktivitas ekonomi.
“Sebagian besar rantai pasok AI hanya dapat berjalan berkat peran pasar negara berkembang,” katanya.
Baca Juga: Bursa Australia Menguat Ditopang Komoditas, Macquarie Bersinar Berkat Kinerja Positif
Dengan sejumlah data ekonomi penting yang akan dirilis pekan ini termasuk penjualan ritel, inflasi, dan data ketenagakerjaan AS yang tertunda penasihat ekonomi Gedung Putih Kevin Hassett menyatakan bahwa pertumbuhan lapangan kerja AS berpotensi melambat dalam beberapa bulan ke depan.
Hal ini dipengaruhi kebijakan imigrasi pemerintahan Presiden Donald Trump yang menekan pertumbuhan angkatan kerja, serta adopsi teknologi AI yang meningkatkan produktivitas.
Sementara itu, indeks dolar AS bergerak stabil di dekat level terendah bulan ini di 96,97.
Pada Senin, indeks tersebut mencatat penurunan harian terbesar dalam dua pekan, menyusul laporan Bloomberg yang menyebut regulator China menyarankan lembaga keuangan untuk mengurangi kepemilikan obligasi pemerintah AS karena kekhawatiran risiko konsentrasi dan volatilitas pasar.
Baca Juga: Trump Ancam Larang Pembukaan Jembatan Baru AS–Kanada, Desak Perundingan dengan Ottawa
Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan bahwa pejabat senior Departemen Keuangan AS mengunjungi China pekan lalu untuk memperkuat jalur komunikasi antara Washington dan Beijing.
Terhadap yuan China di pasar offshore Hong Kong, dolar AS bergerak datar di level 6,9167 yuan. Analis Alpine Macro menilai bahwa upaya meningkatkan peran global yuan semakin menjadi prioritas kebijakan Beijing.
Namun, tujuan utama China bukan untuk menantang dominasi dolar AS, melainkan mengurangi ketergantungan dan kerentanan terhadap dolar.
Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik tipis 0,2 basis poin ke 4,196%.
Ekspektasi pasar masih menunjukkan bahwa Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga hingga Juni.
Baca Juga: Aktivitas Bisnis Australia Melambat Tipis pada Januari, Tekanan Biaya Mereda
Kontrak berjangka Fed funds mencerminkan peluang 17,7% untuk pemangkasan suku bunga 25 basis poin pada pertemuan The Fed berikutnya pada 18 Maret, sedikit turun dari 18,4% pada Jumat lalu, berdasarkan CME FedWatch Tool.
Di pasar komoditas, harga minyak mentah WTI turun 0,1% ke US$64,15 per barel. Harga emas melemah 0,9% ke US$5.018,59 per ons, sementara perak anjlok 2,7% ke US$81,13 per ons.
Di pasar kripto, Bitcoin turun 0,9% ke US$69.756,85, sedangkan Ether melemah 1,1% ke US$2.098,21.













