kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45863,16   -14,36   -1.64%
  • EMAS920.000 -0,86%
  • RD.SAHAM -0.50%
  • RD.CAMPURAN -0.07%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Rusia tahan lebih dari 5.000 orang pada aksi unjuk rasa untuk mendukung Navalny


Senin, 01 Februari 2021 / 06:21 WIB
Rusia tahan lebih dari 5.000 orang pada aksi unjuk rasa untuk mendukung Navalny
ILUSTRASI. Setidaknya, ada 5.000 orang lebih yang telah ditahan akibat aksi unjuk rasa di Rusia. REUTERS/Maxim Shemetov 

Sumber: Reuters | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - MOSKOW. Polisi anti huru hara membubarkan aksi unjuk rasa di seluruh Rusia pada hari Minggu (31/1/2021) untuk mendukung kritikus Kremlin Alexei Navalny. Setidaknya, ada 5.000 orang lebih yang telah ditahan akibat aksi unjuk rasa tersebut.

Melansir Reuters, polisi memberlakukan penguncian keamanan besar-besaran di jantung kota Moskow, menutup jalan-jalan untuk pejalan kaki di dekat Kremlin, menutup stasiun metro dan mengerahkan ratusan polisi anti huru hara saat salju turun.

Pada satu titik, para pengunjuk rasa berbaris menuju penjara di Moskow utara tempat Navalny ditahan, meneriakkan "Biarkan dia pergi!". Dalam adegan lain, orang-orang dalam kerumunan mengangkat tangan di atas kepala di depan barisan polisi anti huru hara dan meneriakkan "Kami bukan musuhmu".

Navalny, 44 tahun, ditangkap pada 17 Januari setelah kembali ke Moskow dari Jerman di mana dia baru saja pulih dari keracunan zat saraf di Rusia musim panas lalu. Dia menuduh Presiden Vladimir Putin memerintahkan pembunuhannya, yang dibantah Kremlin.

Baca Juga: Respons 2 kapal perusak AS di Laut Hitam, kapal fregat Rusia gelar latihan perang

Reuters memberitakan, kepulangannya yang dramatis ke Moskow meskipun ada ancaman penangkapan yang jelas dan protes di akhir pekan kedua berturut-turut di penjara menimbulkan tantangan bagi Putin yang telah mendominasi lanskap politik Rusia selama lebih dari dua dekade.

Yulia, seorang pengunjuk rasa berusia 40 tahun di Moskow, mengatakan dia telah bergabung dengan aksi unjuk rasa meskipun mengalami serangan panik pada malam sebelumnya karena khawatir akan dampaknya untuk ambil bagian.

Baca Juga: Musuh bebuyutan tuding Vladimir Putin punya Istana mewah di Laut Hitam

“Saya mengerti bahwa saya hidup dalam keadaan tanpa hukum sama sekali. Di negara polisi, tanpa pengadilan independen. Di negara yang dikuasai korupsi. Saya ingin hidup berbeda,” katanya kepada Reuters.

Polisi mengatakan pengunjuk rasa dapat menghadapi tuntutan pidana karena menghadiri atau menyerukan demonstrasi tidak sah dan memperingatkan mereka dapat menyebarkan Covid-19.

Sekutu Navalny menggunakan media sosial untuk berulang kali mengubah lokasi unjuk rasa mereka, menyebarkan kerumunan di berbagai bagian Moskow dan mempersulit pembubaran.




TERBARU
Kontan Academy
Panduan Cepat Maximizing Leadership Supply Chain Management on Procurement Economies of Scale

[X]
×