Sumber: Thomson Reuters | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bursa saham Eropa dibuka menguat pada perdagangan Senin (9/2/2026), seiring meredanya kegelisahan investor terhadap sektor teknologi dan pulihnya pasar saham global setelah tekanan tajam pekan lalu.
Perhatian pelaku pasar kini tertuju pada laporan kinerja emiten serta perkembangan aksi korporasi.
Indeks pan-Eropa STOXX 600 naik 0,5% ke level 620,12 pada pukul 08.09 GMT.
Penguatan ini mengikuti rebound pasar global yang mulai stabil usai volatilitas tinggi akibat kekhawatiran terhadap dampak model kecerdasan buatan (AI) generasi baru terhadap bisnis perangkat lunak konvensional.
Baca Juga: Ada Kabar Merger GOTO dan IPO Anak Usaha EMTK, Cek Prospek Sektor Teknologi di 2026
Meski para raksasa teknologi seperti Alphabet dan Amazon menetapkan target belanja baru untuk pengembangan AI, investor sebelumnya sempat cemas bahwa inovasi tersebut justru dapat mengganggu struktur industri teknologi yang ada.
Namun, pemulihan pada akhir pekan lalu membuat STOXX 600 mencatatkan kenaikan mingguan. Pada perdagangan Senin, sektor teknologi memimpin penguatan dengan kenaikan sekitar 1%.
Dari sisi aksi korporasi, saham perusahaan loker paket asal Polandia, InPost, melonjak 13,3% setelah konsorsium yang dipimpin Advent bersama FedEx sepakat mengakuisisi perusahaan tersebut senilai US$9,2 miliar.
Sementara itu, saham Novo Nordisk melonjak 8,2% setelah perusahaan layanan kesehatan asal AS, Hims & Hers, menghentikan penjualan pil GLP-1 versi murah.
Keputusan ini diambil menyusul peringatan dari Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA) yang menyatakan akan mengambil tindakan terhadap produk tersebut.
Baca Juga: Ancaman Tarif Trump Guncang Bursa, Saham Eropa Rontok
Dari sektor perbankan, saham UniCredit menguat 4,3% setelah bank terbesar kedua di Italia itu menyatakan menargetkan laba sebesar 11 miliar euro pada tahun ini.
Kinerja tersebut mendorong indeks perbankan zona euro naik 1,6% dan menjadi sektor dengan penguatan terbesar di Eropa.
Meski pasar menunjukkan tanda-tanda pemulihan, ketidakpastian terkait arah perkembangan teknologi, khususnya AI, masih diperkirakan akan terus membayangi pergerakan saham dalam waktu dekat.













