kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 3.049.000   4.000   0,13%
  • USD/IDR 16.896   -23,00   -0,14%
  • IDX 7.719   141,64   1,87%
  • KOMPAS100 1.079   20,79   1,96%
  • LQ45 787   14,12   1,83%
  • ISSI 273   5,40   2,02%
  • IDX30 419   8,63   2,11%
  • IDXHIDIV20 513   10,20   2,03%
  • IDX80 121   2,16   1,81%
  • IDXV30 139   2,47   1,81%
  • IDXQ30 135   2,70   2,04%

China Percepat Kemandirian Teknologi, Dorong Industri AI dan Robot Humanoid


Kamis, 05 Maret 2026 / 09:04 WIB
China Percepat Kemandirian Teknologi, Dorong Industri AI dan Robot Humanoid


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - China berjanji mempercepat upaya mencapai kemandirian teknologi dengan mendorong pengembangan industri domestik yang masih relatif muda, seperti semikonduktor, dirgantara, dan kecerdasan buatan (AI).

Dalam sejumlah dokumen yang dilihat Reuters Kamis (5/3/2026), pemerintah juga akan membina perusahaan rintisan berstatus unicorn di sektor masa depan seperti teknologi kuantum, embodied AI teknologi yang menggerakkan robot humanoid serta jaringan 6G.

Baca Juga: China Naikkan Kurs Referensi Yuan ke Level Tertinggi 34 Bulan

Selain itu, Beijing akan memperluas penerapan komersial dan skala besar AI di berbagai sektor kunci.

China juga berencana meluncurkan proyek pusat data baru dan mengoordinasikan distribusi kapasitas komputasi secara nasional.

Di saat yang sama, pemerintah akan membangun sistem pencegahan dan pengendalian risiko keamanan AI.

“Beijing menjadikan AI, terutama embodied AI, sebagai fokus utama,” kata Kyle Chan, peneliti teknologi China di Brookings Institution.

Menurutnya, tujuan Beijing adalah memanfaatkan AI dan robotika untuk meningkatkan produktivitas dan kinerja di berbagai sektor, mulai dari manufaktur dan logistik hingga pendidikan dan layanan kesehatan.

Baca Juga: Harga Emas Spot Naik Kamis (5/3), Didorong Permintaan Aset Aman dan Pelemahan Dolar

Meski perusahaan teknologi Amerika Serikat memiliki dana investasi yang jauh lebih besar dibandingkan pesaingnya di China, Beijing mengandalkan rantai pasok yang kuat, biaya manufaktur rendah, dan siklus riset dan pengembangan (R&D) yang cepat untuk mempercepat skala produksi.

Namun, potensi pertumbuhan tersebut dinilai memiliki batas. Lembaga riset AS, Rhodium Group, dalam laporan Januari menyebut industri-industri baru China belum mampu menghasilkan investasi yang cukup untuk menggantikan peran industri tradisional guna menopang pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) sebesar 5% dalam beberapa tahun ke depan.




TERBARU
Kontan Academy
AI untuk Digital Marketing: Tools, Workflow, dan Strategi di 2026 Mastering Strategic Management for Sustainability

[X]
×