CLOSE [X]
kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ451.018,33   10,53   1.04%
  • EMAS995.000 0,00%
  • RD.SAHAM -0.30%
  • RD.CAMPURAN -0.02%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.01%

Salurkan kredit US$ 290 miliar, Jack Ma kuasai bisnis bank online di China


Senin, 29 Juli 2019 / 07:00 WIB
Salurkan kredit US$ 290 miliar, Jack Ma kuasai bisnis bank online di China


Reporter: Ferrika Sari | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - CHINA. Miliader asal China Jack Ma, semakin gencar menjalankan bisnis perbankan melalui MYbank. Ini merupakan bank online yang berafiliasai dengan perusahaan raksasa e-commerce China, Alibaba Group Holding Ltd.

Dilansir dari Bloomberg, Minggu (28/7), bank milik Jack Ma ini memimpin perubahan industri perbankan China dengan memberikan pinjaman kepada usaha kecil dan memberikan solusi kredit macet yang telah menahan ekonomi China selama beberapa dekade.

Untuk menekan kredit macet, MYbank menggunakan data pembayaran secara real time dan sistem manajemen risiko untuk menganalisis lebih dari 3.000 variabel.

Baca Juga: Alibaba rombak manajemen, CFO Wu akan awasi unit investasi strategis

Beroperasi selama empat tahun, MYbank telah menyalurkan kredit sebesar 2 triliun yuan setara US$ 290 miliar ke hampir 16 juta perusahaan kecil.

Peminjam bisa mengajukan kredit dengan mudah dengan mengakses aplikasi MYbank dan jika disetujui bisa langsung menerima uang tunai secara cepat. Seluruh proses ini hanya memakan waktu tiga menit dan tidak melibatkan banker manusia. Tingkat kegagalan sejauh ini hanya mencapai 1%.

Ledakan teknologi finansial telah mengubah China menjadi pasar pembayaran elektronik terbesar di dunia. Dari sebelumnya transaksi ke bank harus bertatap muka kini hanya perlu dilakukan secara online sehingga mendorong pertumbuhan industri finansial.

MYbank dan bank online lain telah mengeruk Rasio Intermediasi Makroprudensial (RIM) data baru dari sistem pembayaran, media sosial dan sumber lainnya. Mereka membidik peminjam mikro yang sebelumnya dihindari industri keuangan di sana.

Baca Juga: Gencarkan ekspansi, Alibaba Cloud luncurkan berbagai produk dan fitur baru

Kelayakan Kredit

Presiden MYbank Jin Xiaolong mengungkapkan, bahwa nilai kredit pelaku usaha turun jika mereka gagal mengembalikan pinjaman akan kesulitan untuk mendapatkan pinjaman kembali.

Mengantisipasi itu, MYbank mempunyai big data terbesar dari penyedian layanan pembayaran yang dioperasikan oleh Ma’s Ant Financial yang juga merupakan pemegang saham terbesar MYbank.

Setelah dapat persetujuan dari peminjam, MYbank menganalisis transaksi real-time untuk mendapatkan informasi kelayakan kredit.

Misalnya, penurunan pelanggan di toko pengecer mungkin menjadi indikator awal bahwa prospek perusahaan dan kemampuannya mereka untuk membayar utang terus memburuk.

Baca Juga: Alibaba Diberitakan Mengincar Dana hingga US$ 20 Miliar dari Penawaran Saham Susulan

Dari sistem tersebut, lebih banyak informasi yang digali untuk menyetujui atau tidak pinjaman ke nasabah.

Sejauh ini pinjaman yang disalurkan lebih tinggi berasal dari lender tradisional, yang biasanya menolak permintaan pinjaman usaha kecil dan membutuhkan setidaknya proses pencarinya selama 30 hari menurut Jin.

Seperti diketahui, perusahaan-perusahaan swasta, yang kebanyakan menjalankan bisnis kecil telah menyumbang 60% dari pertumbuhan China, dengan memperkerjakan 80% pegawai. Bank menilai peminjaman kalangan ini terlalu berisiko, tapi sekarang bank online telah mengetahui apa saja risiko tersebut dan bagaimana menguji kelayakan kredit yang diberikan.

Dia berencana untuk menggandakan daftar peminjam MYbank dalam tiga tahun ke depan. Biasanya biaya operasional yang dikenakan bagi peminjam perusahaan yang berbasis di Hangzhou, China sekitar 3 yuan atau lebih rendah dari pesaing tradisional mencapai 2.000 yuan.

Baca Juga: Benarkah Go-Jek sudah dikuasai asing?

China dengan cepat menjadi pemimpin dunia dalam penggunaan data besar (big data) dan teknologi kecerdasan buatan untuk memberikan pinjaman, menurut Wakil Kepala Layanan Keuangan China Raya di Oliver Wyman Cliff Sheng. Dalam hal ini, dibutuhkan pendekatan lebih santai terhadap privasi dibandingkan banyak menetapkan regulasi.

“Kerangka hukum dan peraturan telah menimbulkan sedikit masalah privasi. Padahal privasi memudahkan untuk menghasilkan data dalam jumlah besar dan menjadi tempat pengujian yang tidak tertandingi,” tutupnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Data Analysis with Excel Pivot Table Supply Chain Management on Distribution Planning (SCMDP)

[X]
×