Reporter: Dupla Kartini, Bloomberg | Editor: Dupla Kartini
TOKYO. Pertumbuhan ekspor Jepang tercatat mengalami percepatan pada Februari lalu.Hari ini, Departemen Keuangan Jepang melaporkan ekspor di bulan lalu meningkat 9% dibanding tahun sebelumnya. Angka ini lebih rendah dari bulan sebelumnya yang naik 1,4%. Para analis memprediksi kenaikan ekspor akan mencapai 9,1%.
Namun, gempa bumi dan tsunami 11 maret lalu, yang menewaskan ribuan orang, dan memaksa pabrik-pabrik berhenti beroperasi akan mengganggu perdagangan di bulan ini. Saham Jepang mengalami kinerja terburuk sejak 2008, dan yen mencapai rekor tertinggi saat pasca Perang Dunia II.
Kemarin, pemerintah mengatakan, kerugian akibat gempa bisa membengkak menjadi 25 triliun yen atau setara US$ 309 miliar. Pekan lalu, Bank of Japan mengatakan, bencana bisa melemahkan bisnis dan sentimen konsumen, sehingga mendorong perusahaan memangkas produksi pabriknya.
Kepala ekonom di Citigroup Global Markets Japan Kiichi Murashima memperkirakan, penurunan ekspor di kuartal kedua nanti tidak dapat terhindarkan. Ekspor bakal jatuh karena penurunan produksi dan gangguan sistem distribusi. "Terjadi penurunan dalam kegiatan ekonomi akibat kekurangan pasokan listrik, dan permintaan energi akan lebih besar untuk rekonstruksi," ujarnya.
Eksportir elektronik terbesar Jepang, Sony Corp. menghentikan sebagian pekerja di lima pabrik hingga 31 Maret karena kesulitan mendapatkan pasokan, setelah listrik padam. Sementara, produsen mobil terbesar di dunia, Toyota Motor Corp. menyebut, perakitan mobil akan dihentikan sampai 26 Maret nanti.













