Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - SINGAPURA. Ketegangan di Selat Hormuz mulai mengganggu arus perdagangan energi global. Sedikitnya empat kapal tanker minyak dan gas alam cair (LNG) memutuskan putar balik setelah serangan terhadap kapal di jalur pelayaran strategis tersebut memicu lonjakan risiko keamanan.
Data pelacakan kapal menunjukkan tiga kapal LNG milik QatarEnergy, yakni Al Ghariya, Duhail, dan Al Ruwais, membatalkan pelayaran menuju Selat Hormuz pada Selasa (8/7/2026) malam waktu setempat.
Ketiga kapal yang masih kosong itu semula menuju fasilitas ekspor Ras Laffan, Qatar, untuk memuat kargo LNG, namun mengubah haluan setelah situasi keamanan memburuk.
Baca Juga: Ada Serangan Baru di Selat Hormuz, Empat Kapal Tanker Minyak Putar Balik
Satu kapal tanker minyak berukuran sangat besar (VLCC) berbendera India, Lila Vadinar, juga berbalik arah di lepas pantai Oman pada Rabu (9/7). Kapal tersebut mengangkut sekitar 2 juta barel minyak mentah Kuwait yang dimuat pada pekan lalu.
Gangguan pelayaran ini terjadi setelah sebuah kapal LNG asal Qatar dan kapal tanker minyak berbendera Arab Saudi dilaporkan mengalami kerusakan di sekitar Selat Hormuz pada Selasa.
Insiden itu menyusul laporan bahwa Iran menembakkan rudal ke arah kapal-kapal di kawasan tersebut, sehingga otoritas maritim menaikkan tingkat ancaman bagi kapal yang melintas menjadi "severe" atau sangat tinggi.
"Meningkatnya ancaman keamanan di Selat Hormuz memaksa sejumlah kapal mengubah rute demi keselamatan pelayaran, sekaligus meningkatkan risiko terganggunya distribusi energi global."
Baca Juga: Dua Kapal Tanker Minyak Mentah Berhasil Keluar dari Selat Hormuz, Begini Caranya
Meski demikian, arus ekspor energi belum sepenuhnya terhenti. Sejak konflik meningkat pada akhir Februari, setidaknya 16 kargo LNG dari Ras Laffan dan 10 kargo LNG dari terminal Das Island milik Abu Dhabi National Oil Co. (ADNOC) berhasil keluar dari Selat Hormuz.
Namun volume tersebut masih jauh di bawah rata-rata pengiriman gabungan sekitar 7 juta metrik ton LNG per bulan dari kedua terminal ekspor tersebut.
Di sisi lain, antrean kapal kosong yang menunggu giliran memuat LNG di Ras Laffan terus bertambah hingga lebih dari 10 kapal pada awal Juli.
Analis Vortexa juga mencatat lebih dari 50 kapal kosong yang dikendalikan QatarEnergy dan ADNOC masih berada di kawasan Teluk Timur Tengah, India, hingga Selat Malaka.
Sebagian kapal bahkan mematikan sistem identifikasi otomatis (AIS) selama lebih dari 10 hari untuk alasan keamanan.
Sejumlah kapal tanker minyak yang sebelumnya tertahan juga mulai berhasil meninggalkan Selat Hormuz. Kapal Mercury Hope yang membawa sekitar 2 juta barel minyak mentah Uni Emirat Arab keluar dari selat pada Rabu.
Baca Juga: Trump Klaim Kapal Tanker Minyak Menuju AS untuk Mengisi Minyak dan Gas
Sementara Tenjun, yang mengangkut 2 juta barel minyak Qatar, berhasil melintas pada Selasa malam.
Kapal Pertamina Pride yang dikelola Pertamina juga tercatat keluar dari Selat Hormuz pada Selasa dengan transponder dalam kondisi tidak aktif. Kapal tersebut mengangkut sekitar 2 juta barel minyak mentah Arab Saudi yang dimuat pada awal Maret.
Dampak ketegangan juga mulai dirasakan oleh pembeli minyak. Sumber industri menyebut Mangalore Refinery and Petrochemicals Ltd (MRPL) dari India membatalkan kontrak penyewaan kapal yang sebelumnya disiapkan untuk mengangkut minyak mentah dari Irak.
Pembatalan tersebut menunjukkan meningkatnya kehati-hatian pelaku industri terhadap risiko pelayaran di salah satu jalur distribusi energi terpenting dunia.














