Shanghai Bakal Berlakukan Pembatasan Paling Ketat, Warga: Seperti Penjara

Kamis, 12 Mei 2022 | 07:26 WIB   Reporter: Barratut Taqiyyah Rafie
Shanghai Bakal Berlakukan Pembatasan Paling Ketat, Warga: Seperti Penjara

ILUSTRASI. Shanghai selama beberapa hari ke depan akan lebih membatasi akses ke makanan dan rumah sakit di beberapa bagian kota. cnsphoto via REUTERS


KONTAN.CO.ID - SHANGHAI. Pejabat Kota Shanghai selama beberapa hari ke depan akan lebih membatasi akses ke makanan dan rumah sakit di beberapa bagian kota. Ini merupakan fase paling parah dari penguncian yang diperpanjang.

Melansir BBC, pengiriman makanan komersial tidak diperbolehkan dan akses ke rumah sakit untuk semua kecuali keadaan darurat harus disetujui terlebih dahulu.

Selain itu, para tetangga kasus Covid-19 dan lainnya yang tinggal di sekitarnya juga dipaksa masuk ke fasilitas karantina pemerintah.

Shanghai sekarang sudah memasuki minggu ketujuh pembatasan seluruh kota.
 
Kasus yang dikonfirmasi telah turun secara signifikan dari puncaknya. Akan tetapi pihak berwenang belum dapat mencapai target dari apa yang mereka sebut "nol Covid", di mana tidak ada kasus yang dilaporkan di luar fasilitas karantina.

Terlepas dari tindakan yang lebih keras, para pejabat Shanghai bersikeras bahwa orang-orang yang tinggal di setengah distrik kota sekarang bebas meninggalkan rumah mereka dan berjalan-jalan. 

Baca Juga: WHO Sebut Kebijakan Zero Covid-19 China Tak Bertanggung Jawab, China Balik Mengecam

Media pemerintah telah menayangkan video propaganda dari para pekerja medis yang berangkat mengunjungi landmark kota bersama-sama dan mengambil foto.

Pemberitahuan resmi dari komite lokal Partai Komunis yang berkuasa, seperti yang didapat oleh BBC, merinci beberapa pembatasan yang diberlakukan di bawah apa yang disebut pejabat sebagai "masa sunyi" selama tiga hari ke depan.

Ini termasuk hanya mengizinkan pengiriman makanan dari pemerintah, tidak mengizinkan penduduk untuk "keluar" dari pintu depan mereka dan memerlukan persetujuan dari komite untuk siapa pun selain kasus darurat untuk mengakses rumah sakit.

BBC sudah mengetahui beberapa kasus di mana warga kesulitan mendapatkan ambulans darurat untuk datang dengan cepat, dengan beberapa pasien terpaksa menggunakan mobil pribadi untuk sampai ke rumah sakit.

Baca Juga: WHO: Strategi Nol-COVID di China Tidak Berkelanjutan

Seperti penjara

Sementara itu, melansir Reuters, di Shanghai, pihak berwenang telah meluncurkan dorongan baru untuk mengakhiri infeksi di luar zona karantina pada akhir Mei. Hal tersebut diungkapkan oleh orang-orang yang mengetahui masalah itu. 

Meskipun belum ada pengumuman resmi, penduduk di setidaknya empat dari 16 distrik Shanghai menerima pemberitahuan pada akhir pekan yang mengatakan bahwa mereka tidak akan diizinkan meninggalkan rumah mereka atau menerima pengiriman. Kondisi itu mendorong adanya aksi perebutan persediaan makanan.

Beberapa dari orang-orang ini sebelumnya telah diizinkan untuk bergerak di sekitar kompleks tempat tinggal mereka.

"Pulang ke rumah!" seorang wanita berteriak melalui megafon pada penduduk yang berbaur di bawah blok apartemen yang terkena dampak pembatasan baru pada hari Minggu. Ini menjadi sebuah pemandangan yang mungkin membingungkan wilayah lain di dunia yang telah memilih untuk terbuka dan hidup dengan virus.

"Ini seperti penjara," kata Coco Wang, seorang warga Shanghai yang hidup di bawah pembatasan baru. "Kami tidak takut dengan virus. Kami takut dengan kebijakan ini."

Sementara itu, dalam pembatasan paling parah yang diberlakukan di Beijing sejauh ini, sebuah daerah di barat daya ibu kota pada Senin melarang warga meninggalkan lingkungan mereka dan memerintahkan semua kegiatan yang tidak terkait dengan pencegahan virus dihentikan.

Di distrik lain yang dilanda virus di Beijing, penduduk telah diberitahu untuk bekerja dari rumah, beberapa restoran dan transportasi umum telah ditutup, dan jalan, kompleks, dan taman tambahan ditutup pada hari Senin.

Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

Terbaru