Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli
Meski pernyataan sejumlah pejabat sempat memanaskan hubungan, sejumlah mantan pejabat dan pejabat aktif dari kedua negara berupaya meredakan situasi.
Menteri Luar Negeri Singapura Vivian Balakrishnan mengatakan perbedaan pandangan merupakan hal yang wajar dalam hubungan antarnegara, termasuk munculnya pernyataan kontroversial dari waktu ke waktu.
Mantan Duta Besar Indonesia untuk Singapura Suryo Pratomo juga menilai komentar sejumlah menteri Indonesia merupakan reaksi spontan dan bukan kebijakan resmi pemerintah.
Baca Juga: Panggil Perusahaan yang Diduga Terkait Kabut Asap, Singapura Akan Lakukan Ini
"Hubungan Indonesia dan Singapura bersifat saling melengkapi, bukan saling bersaing," ujarnya.
Secara ekonomi, kedua negara masih memiliki hubungan yang saling bergantung. Singapura merupakan sumber investasi asing langsung (FDI) terbesar bagi Indonesia, dengan nilai mencapai US$ 17,4 miliar pada tahun lalu.
Di sisi lain, Indonesia juga masih bergantung pada Singapura untuk sejumlah kebutuhan, termasuk impor bahan bakar dan jalur kabel internet internasional.
Analis kebijakan luar negeri Dewi Fortuna Anwar menilai ketegangan yang terjadi saat ini tidak perlu dibesar-besarkan.
Namun, ia mengingatkan adanya nasionalisme yang sensitif terhadap kritik maupun campur tangan negara lain.
Baca Juga: Singapura Minta Bank Perketat Kredit bagi Nasabah Terkait Kabut Asap
Sikap tersebut membuat Indonesia lebih mudah bereaksi terhadap pernyataan yang dianggap merendahkan atau mencampuri urusan dalam negeri.













