CLOSE [X]
kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.601.000   -9.000   -0,34%
  • USD/IDR 17.880   -62,00   -0,35%
  • IDX 6.340   108,24   1,74%
  • KOMPAS100 839   16,49   2,00%
  • LQ45 637   8,89   1,42%
  • ISSI 218   3,63   1,69%
  • IDX30 358   3,90   1,10%
  • IDXHIDIV20 444   3,51   0,80%
  • IDX80 96   1,59   1,69%
  • IDXV30 119   0,82   0,69%
  • IDXQ30 115   1,03   0,91%

Sunyi, Antrean Panjang, dan Harga Gila: Potret Caracas Setelah Serangan AS


Rabu, 07 Januari 2026 / 08:13 WIB
Sunyi, Antrean Panjang, dan Harga Gila: Potret Caracas Setelah Serangan AS
ILUSTRASI. Ibu kota Venezuela yang biasanya ramai mendadak terasa sunyi pada Senin (5/1/2026), dua hari setelah Amerika Serikat membombardir kota itu. ( REUTERS/MARCO BELLO)


Sumber: Al Jazeera | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - Caracas, Venezuela. Ibu kota Venezuela yang biasanya ramai mendadak terasa sunyi pada Senin (5/1/2026), dua hari setelah Amerika Serikat membombardir kota itu dan menculik Presiden Venezuela Nicolas Maduro.

Meski suasana mencekam, sebagian warga Caracas tetap keluar rumah untuk membeli kebutuhan pokok. Namun, harga-harga melonjak tajam. Antrean panjang terlihat di toko-toko yang masih buka, sementara banyak pedagang memilih menutup usaha mereka karena khawatir terjadi kerusuhan dan penjarahan.

Al Jazeera memberitakan, pemerintah setempat mengimbau agar aktivitas ekonomi tetap berjalan normal. Namun kenyataannya, banyak warga justru menimbun bahan makanan pokok seperti tepung jagung, beras, dan makanan kaleng, sebagai antisipasi jika kondisi keamanan memburuk.

Di pasar sentral Quinta Crespo, antrean belasan orang terlihat di bawah terik matahari, dijaga aparat kepolisian untuk mencegah kericuhan. Seorang warga bernama Carlos Godoy (45) mengaku membeli kebutuhan dasar karena ketidakpastian yang dirasakan semua orang.

“Kami menunggu apa yang akan terjadi. Semua orang hidup dalam ketegangan dan ketidakpastian,” ujarnya.

Ia menyebut susu bubuk menjadi salah satu barang termahal, dijual sekitar US$ 16 per kilogram. Warga lain, Betzerpa Ramírez, mengatakan dirinya tetap tenang, meski mengakui harga barang-barang kebersihan melonjak lebih tinggi dibanding makanan.

Baca Juga: Trump Buka Opsi Militer Rebut Greenland, Eropa Bereaksi Keras

Keluhan serupa disampaikan Alexandra Arismendi, pegawai toko ponsel di pusat perbelanjaan Sambil. Menurutnya, harga telur melonjak “tidak masuk akal”, mencapai US$ 10 per karton.

Rekannya, María Gabriela (23), mengatakan pusat perbelanjaan yang biasanya ramai kini nyaris kosong. Penjualan anjlok karena warga memilih bertahan di rumah. Ia bahkan memilih naik taksi ke tempat kerja karena takut menggunakan transportasi umum.

“Kami kira orang akan membeli power bank atau charger karena khawatir listrik padam, tapi ternyata tidak,” ujarnya. “Hari ini terasa sangat aneh.”

Lonjakan harga dan kelangkaan barang sebenarnya bukan hal baru bagi warga Venezuela. Selama satu dekade terakhir, mereka terbiasa hidup dengan inflasi tinggi dan pasokan terbatas, akibat kombinasi salah kelola ekonomi, korupsi, serta sanksi Amerika Serikat.

Pada masa pemerintahan Maduro, anjloknya harga minyak membuat ekonomi Venezuela yang bergantung pada sektor migas runtuh. Pada 2018, inflasi bahkan menembus 130.000 persen. Pandemi Covid-19 kemudian memperparah krisis, memicu kekurangan pangan dan obat-obatan.

Baca Juga: Venezuela Berencana Mengekspor Minyak ke AS, Alihkan Pasokan dari China


Tag


TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Strategi Implementasi PP 20 tahun 2026 (PPh Final UMKM) dan Mitigasi Risiko SP2DK

[X]
×