Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Nilai tukar dolar AS melemah pada perdagangan Jumat (29/8/2025), dan diperkirakan mencatat penurunan sekitar 2% sepanjang Agustus terhadap mata uang utama.
Tekanan ini muncul seiring meningkatnya ekspektasi bahwa The Fed akan memangkas suku bunga bulan depan, ditambah kekhawatiran terkait independensi bank sentral AS yang terus membayangi.
Baca Juga: Harga Emas Sentuh Puncak 5 Pekan Kamis (28/8), Terangkat Pelemahan Dolar AS
Kampanye Presiden Donald Trump untuk memperbesar pengaruhnya atas kebijakan moneter, termasuk upaya memecat Gubernur The Fed Lisa Cook, turut menekan dolar.
Cook bahkan menggugat Trump dengan alasan presiden tidak memiliki kewenangan untuk memberhentikannya.
Pertarungan hukum ini menambah babak baru dari upaya Trump membentuk ulang arah bank sentral, setelah sebelumnya berulang kali mengkritik The Fed dan Ketua Jerome Powell karena enggan menurunkan suku bunga.
Pada Jumat pagi, pasar valuta asing cenderung berhati-hati. Euro stabil di US$1,1675 dan bersiap menutup bulan ini dengan penguatan 2%.
Poundsterling berada di US$1,3509, sementara yen Jepang diperdagangkan di level ¥146,97 per dolar. Dolar Australia bertahan di US$0,6533, dengan potensi kenaikan bulanan 1,6%.
Baca Juga: Rupiah Diproyeksikan Lanjut Melemah pada Jumat (29/8), Begini Katalisnya
Indeks dolar, yang mengukur kekuatan dolar AS terhadap enam mata uang utama, berada di posisi 97,917 atau turun sekitar 2% sepanjang Agustus.
Secara tahunan, indeks ini sudah merosot hampir 10% akibat kebijakan perdagangan AS yang tidak menentu, sehingga mendorong investor beralih ke aset alternatif.
“Trump mungkin bisa menekan suku bunga acuan lewat pengaruhnya terhadap komite penentu suku bunga, namun dalam jangka panjang suku bunga bisa saja bergerak berlawanan,” ujar Carol Kong, analis valas di Commonwealth Bank of Australia.
“Jika independensi FOMC dianggap terganggu, ekspektasi inflasi bisa lepas kendali dan justru mendorong kenaikan suku bunga jangka panjang.”
Langkah Trump menempatkan kandidat pro-dovish di komite kebijakan moneter menekan imbal hasil jangka pendek, sementara imbal hasil jangka panjang cenderung naik.
Kondisi ini bisa meningkatkan risiko inflasi dan menurunkan minat asing terhadap surat utang AS karena kredibilitas Fed dipertanyakan.
Kurva imbal hasil obligasi AS tenor 2 tahun dan 10 tahun terakhir berada di 57 basis poin, mendekati level paling curam sejak April. Namun, respons pasar terhadap konflik Trump dan Cook relatif tenang, hanya ditandai dengan pelemahan tipis dolar dan sedikit pelebaran kurva imbal hasil.
“Pasar mencoba bersikap realistis dan tidak terlalu larut dalam drama politik soal independensi The Fed,” ujar George Boubouras, Kepala Riset K2 Asset Management.
Baca Juga: Rupiah dan Mata Uang Asia Tertekan Menghadapi Dolar AS, Kamis (28/8)
Ekspektasi Pemangkasan Suku Bunga Menguat
Gubernur The Fed Christopher Waller pada Kamis menyatakan ingin mulai memangkas suku bunga bulan depan, dan “sangat yakin” langkah tersebut akan diikuti penurunan lebih lanjut agar kebijakan moneter mendekati tingkat netral.
Menurut CME FedWatch, pelaku pasar kini memperkirakan peluang pemangkasan suku bunga pada September mencapai 86%, naik dari 63% sebulan lalu.
Pasar juga bertaruh ada lebih dari 100 basis poin pemangkasan hingga Juni tahun depan.
Data terbaru menunjukkan ekonomi AS tumbuh lebih cepat dari perkiraan pada kuartal II, namun tarif impor masih menjadi penghambat.
Investor kini menantikan laporan indeks harga PCE, indikator inflasi pilihan The Fed, yang akan dirilis Jumat malam.
Secara tahunan, inflasi PCE diperkirakan tetap di 2,6% pada Juli. “Jika data inflasi mendekati 3% atau lebih tinggi, pasar mungkin terkejut, mengingat sikap dovish terbaru The Fed,” kata Tony Sycamore, analis pasar di IG.
“Namun data tenaga kerja pekan depan tetap menjadi penentu utama sebelum rapat FOMC September.”