kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.631.000   29.000   1,11%
  • USD/IDR 16.873   27,00   0,16%
  • IDX 8.956   19,31   0,22%
  • KOMPAS100 1.237   7,66   0,62%
  • LQ45 873   4,55   0,52%
  • ISSI 326   1,60   0,49%
  • IDX30 442   2,51   0,57%
  • IDXHIDIV20 520   3,34   0,65%
  • IDX80 138   0,91   0,67%
  • IDXV30 145   1,15   0,80%
  • IDXQ30 142   1,14   0,82%

Protes Iran Terbesar Sejak 2022: 500 Orang Tewas, Ketegangan dengan AS Memuncak


Senin, 12 Januari 2026 / 08:29 WIB
Protes Iran Terbesar Sejak 2022: 500 Orang Tewas, Ketegangan dengan AS Memuncak
ILUSTRASI. Bendera Iran, Miniatur Donald Trump (REUTERS/Dado Ruvic)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Unjuk rasa di Iran telah menewaskan lebih dari 500 orang, menurut kelompok hak asasi manusia, sementara pemerintah Teheran memperingatkan akan menyerang basis militer Amerika Serikat (AS) jika Presiden Donald Trump menindaklanjuti ancamannya untuk ikut campur atas nama para pengunjuk rasa.

Dengan pemerintahan clerical Iran menghadapi demonstrasi terbesar sejak 2022, Trump berulang kali mengancam akan melakukan intervensi jika aparat menggunakan kekerasan terhadap para demonstran.

Berdasarkan data terbaru dari kelompok HAM berbasis di AS, HRANA, jumlah korban tewas mencapai 490 pengunjuk rasa dan 48 anggota aparat keamanan, dengan lebih dari 10.600 orang ditangkap dalam dua pekan kerusuhan.

Baca Juga: Korea Selatan Periksa Lonjakan Deposito Dolar di Tengah Pelemahan Won

Iran sendiri belum merilis angka resmi, dan Reuters tidak dapat memverifikasi jumlah korban secara independen.

Trump dijadwalkan bertemu dengan para penasihat senior pada Selasa untuk membahas opsi terhadap Iran.

Sebuah laporan Wall Street Journal menyebut opsi yang dibahas termasuk serangan militer, penggunaan senjata siber rahasia, perluasan sanksi, serta bantuan daring kepada pihak oposisi anti-pemerintah.

“Militer sedang melihat opsi tersebut, dan kami mempertimbangkan beberapa opsi yang sangat kuat,” ujar Trump kepada wartawan dalam perjalanan menggunakan Air Force One pada Minggu (11/1/2026) malam.

Peringatan Iran

Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf memperingatkan Washington agar tidak melakukan “kesalahan perhitungan”.

“Jelas bagi kita semua: jika ada serangan terhadap Iran, wilayah pendudukan (Israel) serta seluruh basis dan kapal AS akan menjadi target sah kami,” kata Qalibaf, mantan komandan Pasukan Garda Revolusi Iran.

Baca Juga: Susu Formula Bayi Nestlé Ditarik Global, 49 Negara Terdampak! Indonesia Termasuk?

Penindakan dan Kekerasan Berlanjut

Protes yang dimulai pada 28 Desember untuk menolak kenaikan harga ini berkembang menjadi aksi menentang pemerintah clerical yang berkuasa sejak Revolusi Islam 1979.

Otoritas Iran menuding AS dan Israel sebagai pihak yang memicu kerusuhan dan menggelar aksi nasional pada Senin untuk mengecam “tindakan teroris yang dipimpin AS dan Israel”, menurut media pemerintah.

Aliran informasi dari Iran juga terganggu akibat pemadaman internet sejak Kamis.

Beberapa video yang beredar menunjukkan kerumunan besar berjalan di jalan-jalan Teheran, memukul benda logam sebagai bentuk protes.

Di Mashhad, terlihat asap membubung dari api di jalan, dengan pengunjuk rasa memakai masker dan jalanan dipenuhi puing-puing. Reuters memverifikasi lokasi kejadian.

Televisi pemerintah menayangkan ratusan kantong jenazah di kantor forensik Teheran, mengklaim para korban tewas akibat “teroris bersenjata”, serta menampilkan kerabat yang menunggu di Kahrizak Forensic Medical Centre untuk mengidentifikasi jenazah.

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyatakan terkejut atas laporan kekerasan di Iran dan mendesak “penghormatan penuh terhadap hak kebebasan berekspresi, berserikat, dan berkumpul secara damai”.

Baca Juga: Email Reset Password Misterius Hujani Jutaan Pengguna Instagram, Ada Apa?

Respons Internasional

Beberapa sumber Israel mengatakan negara itu berada dalam kesiapan tinggi jika terjadi intervensi AS.

Israel dan Iran pernah berperang selama 12 hari pada Juni 2025, ketika AS menyerang fasilitas nuklir Iran.

Iran membalas dengan menembakkan rudal ke Israel dan sebuah pangkalan udara AS di Qatar.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian menuding AS dan Israel sebagai dalang kerusuhan, membawa “teroris … yang membakar masjid, menyerang bank, dan properti publik”.

Ia meminta keluarga untuk tidak membiarkan anak-anak mereka ikut protes, yang menurut pemerintah telah menimbulkan kekerasan ekstrem.

Baca Juga: BRICS Plus Mulai 'Permainan Perang', Ini Tiga Alasan India Menghindar

Iran juga memanggil duta besar Inggris atas komentar intervensi yang dikaitkan dengan Menteri Luar Negeri Inggris, setelah seorang pengunjuk rasa di London melepas bendera Iran dari kedutaan dan menggantinya dengan bendera pra-Revolusi 1979.

Dukungan dari Luar Negeri

Trump melalui media sosial menyatakan: “Iran sedang melihat KEBEBASAN, mungkin seperti belum pernah terjadi sebelumnya. AS siap membantu!!!”

Reza Pahlavi, putra mantan Shah Iran dan tokoh oposisi, memuji keberanian pengunjuk rasa di Iran dan menyerukan mereka untuk “tidak meninggalkan jalanan”.

Selanjutnya: Menakar Realisasi Akuisisi BULL oleh Grup Sinarmas, Antara Spekulasi & Tekanan Bunga

Menarik Dibaca: 6 Drakor Ini Bongkar Kisah Nyata Hidup Kaum Difabel




TERBARU
Kontan Academy
Mastering Management and Strategic Leadership (MiniMBA 2026) Global Finance 2026

[X]
×