Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Militer Amerika Serikat (AS) mengonfirmasi telah melancarkan serangan terhadap tiga kapal di perairan internasional Samudra Pasifik bagian timur. Operasi ini menewaskan delapan orang yang diduga kuat terlibat dalam jaringan penyelundupan narkoba.
Komando Selatan AS (U.S. Southern Command/Southcom) menyatakan, berdasarkan hasil intelijen, ketiga kapal tersebut melintas di jalur yang selama ini dikenal sebagai rute utama perdagangan narkotika.
“Intelijen mengonfirmasi bahwa kapal-kapal itu terlibat dalam aktivitas penyelundupan narkoba,” demikian pernyataan militer AS melalui akun resminya di platform X.
Baca Juga: Trump Sebut Militer AS Serang Kapal Narkoba Venezuela, 11 Orang Tewas
Serangan ini merupakan bagian dari kampanye militer yang lebih luas yang digulirkan Presiden AS Donald Trump untuk menekan penyelundupan narkoba dari kawasan Amerika Latin.
Dalam rangkaian operasi tersebut, militer AS dilaporkan telah menyerang lebih dari 20 kapal di Samudra Pasifik dan Laut Karibia, termasuk di wilayah perairan dekat Venezuela.
Hingga kini, setidaknya 90 orang yang dicurigai sebagai penyelundup narkoba dilaporkan tewas dalam operasi-operasi tersebut.
Penggunaan kekuatan militer secara langsung untuk menargetkan kapal-kapal yang diduga membawa narkoba menandai perubahan signifikan dari pendekatan Amerika Serikat selama ini, yang umumnya mengandalkan penegakan hukum sipil.
Baca Juga: Serangan Kapal Karibia, Dukungan Mehan AS Picu Isu Dugaan Kejahatan Perang
Langkah tersebut menuai perdebatan hukum. Sejumlah pakar hukum menilai serangan itu berpotensi melanggar hukum internasional dan dapat dikategorikan sebagai pembunuhan di luar proses peradilan. Namun, pemerintahan Trump membantah tudingan tersebut.
“Kami menjalankan operasi di wilayah Southcom secara sah, baik menurut hukum Amerika Serikat maupun hukum internasional, dan seluruh tindakan kami mematuhi Hukum Humaniter Internasional dalam konflik bersenjata,” ujar Juru Bicara Pentagon, Kingsley Wilson, kepada wartawan awal bulan ini.
Sejumlah pengamat menilai serangan di laut ini menjadi sinyal awal kemungkinan eskalasi operasi militer AS di darat. Presiden Trump sebelumnya menyatakan bahwa serangan darat di Venezuela akan segera dimulai, meski belum merinci waktu dan skala operasinya.













