kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.769.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.586   33,00   0,19%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

Selain lawan corona, sejumlah negara juga bakal berjuang melawan cuaca ekstrem


Senin, 20 April 2020 / 07:10 WIB
ILUSTRASI.


Reporter: SS. Kurniawan | Editor: S.S. Kurniawan

Filipina, sementara itu, memiliki lebih dari 5.600 kasus Covid-19, tertinggi kedua di Asia Tenggara, serta ribuan orang yang terlantar akibat letusan gunung berapi pada Januari dan topan tahun lalu.

Elizabeth Zavalla, Sekretaris Jenderal Palang Merah Filipina, mengatakan, lembaganya mengelola pusat panggilan 24 jam tentang virus corona dan mendistribusikan bantuan kepada para korban bencana.

Musim hujan di Filipina bergulir pada Mei. "Namun sebagian besar dari lebih 20 badai di Filipina setiap tahun terjadi antara Juni dan Agustus," ungkap Zavalla kepada Reuters.

Baca Juga: Laporkan 623 infeksi baru, kasus corona di Singapura tembus 5.000

Ketika negara-negara Asia dan Pasifik bersiap-siap untuk menangani wabah virus corona sekaligus cuaca ekstrem pada saat yang sama, sangat penting tim tanggap bencana dilengkapi dengan peralatan perlindungan pribadi dan dukungan psikologis.

"Covid-19 adalah krisis yang tidak akan hilang dalam dua atau tiga minggu," kata Kishore. "Itu akan memakan waktu berbulan-bulan dan bulan-bulan itu juga akan bertepatan dengan banjir, angin topan, dan gelombang panas".




TERBARU

[X]
×