Sumber: Reuters | Editor: Nina Dwiantika
KONTAN.CO.ID - BEIJING. Lonjakan harga bahan bakar pesawat dan perang tarif membuat bisnis maskapai penerbangan China kian tertekan. Tiga maskapai terbesar di negara tersebut, yakni Air China, China Eastern Airlines, dan China Southern Airlines, terancam menutup tahun 2026 dengan kerugian meski kuartal III biasanya menjadi musim panen laba.
Berdasarkan estimasi analis yang dihimpun LSEG, Air China dan China Eastern Airlines bakal membukukan rugi bersih untuk ketujuh kalinya secara berturut-turut sejak pandemi Covid-19. Sementara China Southern Airlines, yang sempat kembali mencetak laba pada 2025 untuk pertama kalinya sejak 2019, diperkirakan kembali merugi tahun ini.
Tekanan tersebut terlihat dari kinerja kuartal III 2026. Laba bersih Air China anjlok 92,6% secara tahunan menjadi 270,6 juta yuan atau sekitar US$ 40,62 juta. China Eastern Airlines juga mencatat penurunan laba bersih sebesar 98,2% menjadi hanya 64 juta yuan.
Berbeda dengan kedua pesaingnya, China Southern Airlines justru membukukan rugi bersih sebesar 609 juta yuan pada kuartal III 2026. Padahal, pada periode yang sama tahun lalu, maskapai tersebut masih mampu meraih laba bersih 3,84 miliar yuan.
Secara keseluruhan, ketiga maskapai tersebut mencatatkan kerugian selama sembilan bulan pertama 2026. Kondisi ini berbanding terbalik dengan periode yang sama tahun sebelumnya, ketika ketiganya masih mampu membukukan keuntungan.
Merosotnya kinerja tersebut cukup mengkhawatirkan. Pasalnya, kuartal III biasanya menjadi periode paling menguntungkan bagi maskapai penerbangan China karena bertepatan dengan puncak musim liburan musim panas. Namun, kenaikan tajam harga bahan bakar pesawat justru menggerus keuntungan perusahaan.
Harga bahan bakar pesawat bahkan meningkat lebih dari dua kali lipat sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan operasi militer terhadap Iran pada akhir Februari 2026.
Tekanan semakin besar karena maskapai penerbangan China relatif minim melakukan lindung nilai atau hedging terhadap kebutuhan bahan bakar. Kondisi ini membuat mereka lebih rentan terhadap gejolak harga minyak dibandingkan sejumlah maskapai di Asia dan Eropa.
Baca Juga: Mantan Pemain Bola Belgia Berdarah Batak Ini Terancam 2 Tahun Penjara & Denda Rp 2 M
Persaingan domestik
Selain kenaikan biaya operasional, maskapai China juga menghadapi tekanan dari sisi pendapatan. Persaingan ketat di pasar penerbangan domestik membuat tarif tiket sulit meningkat, terutama karena harus bersaing dengan layanan kereta cepat.
Huatai Securities memperkirakan, imbal hasil penerbangan atau yield Air China turun 5% pada kuartal III 2026. Penurunan tersebut membuat maskapai kesulitan mengimbangi kenaikan biaya bahan bakar.
Melansir laporan Reuters (2/11/2026), kondisi ini diperkirakan belum akan membaik dalam waktu dekat. Kepala Riset Transportasi Asia-Pasifik BofA Global Research Nathan Gee memperkirakan, maskapai penerbangan China masih akan mencatatkan kerugian bersih pada kuartal IV 2026, yang secara musiman merupakan periode lebih lemah.
Menurut Gee, kinerja laba kuartal III memang sedikit lebih baik dibandingkan ekspektasi pasar yang sudah rendah. Namun, lonjakan harga bahan bakar masih menjadi hambatan utama bagi pemulihan profitabilitas maskapai.
Ia mencatat, tarif penerbangan domestik mengalami kenaikan dua digit secara tahunan setelah libur Golden Week pada Oktober 2026. Kenaikan tersebut didorong langkah maskapai membatasi kapasitas penerbangan.
Meski demikian, perbaikan tarif belum cukup untuk mengimbangi tekanan biaya. Margin keuntungan maskapai masih tertekan oleh mahalnya bahan bakar pesawat dan lemahnya permintaan konsumen.
Upaya meningkatkan jam terbang setiap pesawat untuk menekan biaya operasional juga dinilai belum cukup menyelesaikan persoalan. Pasalnya, ruang bagi maskapai untuk melakukan efisiensi lebih jauh masih terbatas.
Tekanan bisnis tersebut turut tercermin di pasar saham. Sepanjang tahun ini, harga saham Air China telah terkoreksi 38%, China Eastern Airlines turun 46%, dan China Southern Airlines melemah 39%.
Baca Juga: Ketegangan Indonesia-Singapura Menguat, Investasi dan Pasokan Gas Jadi Sorotan














