kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45941,36   -7,11   -0.75%
  • EMAS918.000 -0,54%
  • RD.SAHAM -0.35%
  • RD.CAMPURAN -0.38%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.19%

Tiga perusahaan telekomunikasi China minta NYSE tinjau perintah delisting


Jumat, 22 Januari 2021 / 16:11 WIB
Tiga perusahaan telekomunikasi China minta NYSE tinjau perintah delisting
ILUSTRASI. New York Stock Exchange. REUTERS/Brendan McDermid

Reporter: Laurensius Marshall Sautlan Sitanggang | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - BEIJING. Tiga perusahaan telekomunikasi terbesar di China menyatakan, mereka telah meminta peninjauan atas keputusan Bursa Efek New York (NYSE) untuk menghapus (delisting) saham mereka lebih dari seminggu yang lalu. Sebuah langkah yang dipicu oleh perintah eksekutif yang dikeluarkan oleh mantan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. 

Drama seputar delisting ini, sudah dimainkan selama beberapa hari belakangan. Meski begitu NYSE sampai saat ini belum memberikan aba-aba akan memasukkan kembali perusahaan asal China tersebut ke pasar sahamnya. 

Kondisi ini praktis menyebabkan saham perusahaan bergerak liar, lantaran investor hanya memiliki sedikit waktu untuk bereaksi terhadap beragam langkah kebijakan tersebut. Sekaligus mendorong beberapa ekuitas global untuk hengkang dari sekuritas. 

Mengutip artikel Bloomberg, Jumat (22/1) pada hari Kamis (21/1) lalu Bursa Efek Hong Kong tempat tiga perusahaan raksasa China yakni China Mobile Ltd, China Unicom Hong Kong Ltd, dan China Telecom Corp mengatakan bahwa permintaan secara tertulis sudah diajukan ke pihak NYSE. Yakni berupa permohonan peninjauan ulang.

Baca Juga: Jelang pergantian presiden AS, investasi perusahaan China diperlonggar

Mereka juga memohon untuk diberikan penundaan penangguhan perdagangan selama masa peninjauan dilakukan. Peninjauan rencananya akan dijadwalkan setidaknya 25 hari kerja sejak tanggal permintaan diajukan, tulis pernyataan itu. 

Masalahnya, tidak ada jaminan permintaan peninjauan akan berhasil. Hal itu bahkan dilontarkan dari pihak perusahaan. 

Dalam komunikasi seputar penghapusan tersebut, NYSE mengindikasikan bahwa mereka bertindak untuk mematuhi perintah eksekutif yang dikeluarkan Trump. 

Antara lain dengan tegas melarang investasi di perusahaan yang dianggap oleh AS terkait dengan militer China. Perintah yang terkesan ambigu itu, sejatinya adalah bagian dari upaya Trump untuk menghukum China, di masa-masa penghujung kepresidenannya. 

Akan tetapi, kasus delisting perusahaan China tersebut kini memasuki babak baru. Seluruh investor masih kebingungan menanti permintaan peninjauan dikabulkan. Apalagi surat tersebut dikirim hanya beberapa jam setelah Joe Biden dilantik sebagai penerus Trump di Washington pada hari Rabu (20/1) waktu setempat. 

Pemerintahan Trump sebelumnya memang sangat keras meningkatkan serangannya terhadap China dalam beberapa bulan terakhir. Salah satunya dengan menjatuhkan sanksi atas pelanggaran hak asasi manusia dan sebagai tanggapan atas tindakan keras negara itu terhadap Hong Kong. AS juga berusaha memutuskan hubungan ekonomi dan menolak akses perusahaan China ke Amerika. 

Baca Juga: Xi Jinping rilis UU baru untuk melawan sanksi Donald Trump

Peran China dalam pandemi virus Covid-19 yang melanda AS dan global pun kala itu kian memperkuat posisi Trump untuk menekan China guna membawa AS menjadi pemimpin global. 

Adapun, sebagai dampak dari delisting tersebut ketiga perusahaan itu sudah kehilangan valuasi pasar lebih dari US$ 30 miliar pada minggu-minggu terakhir tahun 2020. Lantaran seluruh investor menarik kembali saham mereka setelah perimtah Trump keluar di bulan November 2020. 

Selanjutnya: NYSE to delist three Chinese telecoms in dizzying about-face

 




TERBARU

[X]
×