Reporter: Mona Tobing | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
BEIJING. Agar ibukota tak semakin sesak, Pemerintah China meminta perusahaan-perusahaan yang beroperasi di Beijing untuk merelokasi kantornya. Langkah ini guna meningkatkan daya saing kota lain yang selama ini banyak bertumpu di Beijing.
Rencana ini menjadi bagian dari cetak biru atau blue print Presiden China Xi Jinping untuk menghidupkan kembali ekonomi di kota-kota Tiongkok.
Pemerintah China ingin, wilayah penyangga seperti Shenzen, Tianjin, Wuhan dan kota-kota lain semakin hidup perekonomiannya. Perlambatan ekonomi dan pembangunan daerah yang tidak merata juga menjadi pertimbangan.
Sebagai permulaan, BUMN China diminta lebih dahulu memindahkan kantor utama yang berlokasi di Beijing ke kota lain.
Wang Yukai, Profesor Chinese Academy of Governance seperti dikutip Bloomberg menjelaskan, pemerintah ingin disetiap daerah ada peranan BUMN untuk pembangunan daerah. Beroperasinya BUMN di kota-kota selain Beijing bisa mengerek pendapatan pemerintah daerah.
Kehadiran perusahaan BUMN dapat menghasilkan pajak tambahan. Plus, menciptakan lapangan kerja lebih luas. "Kota tersebut juga akan kian dikenal," jelas Yukai.
Daerah menyambut
Relokasi ini diyakini dapat membantu mengurangi kemacetan lalu lintas, polusi dan kepadatan penduduk di Beijing. Sebetulnya, pasca penyelenggaraan Olimpiade 2008 silam, China telah mendorong industri pindah dari Beijing.
Kendati akan merelokasi, namun sampai saat ini Pemerintah China belum menjelaskan rincian termasuk deadline bagi perusahaan untuk hengkang dari Beijing. Beijing merupakan markas bagi 80 BUMN dari 106 perusahaan milik Pemerintah China.
Banyak BUMN yang mendirikan kantor pusat di Beijing. Sebab, Beijing adalah kota pusat kekuasaan politik Tiongkok. Rencana relokasi itu membuat sejumlah pemerintah daerah mulai melakukan pendekatan ke perusahaan-perusahaan besar.
Pejabat dari Shenzhen misalnya, mulai bertandang ke markas China National Offshore Oil Corporation (CNOOC). Mereka mulai menawarkan daerahnya ke perusahaan minyak terbesar di China itu, pindah ke kotanya. Kota lain seperti Tianjin, Guangzhou dan Shanghai juga melakukan pendekatan ke CNOOC.
Namun, pejabat CNOOC menegaskan, mereka belum berencana untuk pindah dari Beijing. Kecuali memang ada perintah langsung dari pemerintah pusat. Kalaupun pindah, CNOOC meminta pemerintah memberikan insentif dalam rencana perpindahan kantor. Misalnya dalam urusan pajak hingga kesejahteraan karyawan yang nantinya bakal pindah ke daerah tersebut.












