Tren PHK di Sektor Aset Digital Masih Belum Berakhir

Jumat, 15 Juli 2022 | 12:30 WIB   Reporter: Adrianus Octaviano
Tren PHK di Sektor Aset Digital Masih Belum Berakhir


KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Tren Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) di perusahaan yang bergerak di pasar aset digital ternyata masih belum selesai. Utamanya, hal tersebut disebabkan oleh anjloknya harga kripto.

Terbaru, Pasar non-fungible token (NFT) OpenSea telah memangkas 20% tenaga kerjanya untuk mengurangi biaya dalam menghadapi kemerosotan berkepanjangan di pasar aset digital/

Perusahaan yang berbasis di New York dan termasuk pasar NFT terbesar di dunia ini padahal memiliki pertumbuhan penjualan yang eksplosif pada tahun 2021 karena kebangkitan mata uang kripto.

Sayangnya, pasar NFT yang baru lahir itu telah merosot dalam beberapa bulan terakhir karena harga kripto jatuh dan investor menjadi lebih menghindari risiko dalam menghadapi inflasi yang tinggi, kenaikan suku bunga bank sentral, dan ketakutan akan resesi.

Baca Juga: Properti China Ancam akan Kurangi US$ 220 Miliar Pinjaman Hipotek Bank

"Kenyataannya adalah bahwa kita telah memasuki kombinasi musim dingin kripto yang belum pernah terjadi sebelumnya dan ketidakstabilan makroekonomi yang luas, dan kita perlu mempersiapkan perusahaan untuk kemungkinan penurunan yang berkepanjangan," kata Kepala Eksekutif Devin Finzer seperti dikutip dari Reuters, Jumat (15/7).

Sebagai informasi, volume penjualan NFT OpenSea pada blockchain Ethereum anjlok menjadi US$ 700 juta pada bulan Juni, turun dari US$ 2,6 miliar pada bulan Mei dan jauh dari puncak Januari yang mencapai hampir US$ 5 miliar.

Finzer mengatakan pemutusan hubungan kerja akan memungkinkan perusahaan untuk mempertahankan pertumbuhan lima tahun pada volume saat ini di bawah berbagai skenario potensi penurunan.

Bulan lalu, pertukaran cryptocurrency Coinbase mengatakan akan memangkas sekitar 1.100 pekerjaan, atau 18% dari tenaga kerjanya. Platform peminjaman kripto BlockFi juga memotong 20% stafnya dari sekitar 850. Crypto.com juga memberhentikan 5% dari total tenaga kerjanya, atau 260 karyawan.

Editor: Tendi Mahadi
Tag

Terbaru