kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.564.000   -10.000   -0,39%
  • USD/IDR 18.020   -37,00   -0,20%
  • IDX 5.127   130,44   2,61%
  • KOMPAS100 655   24,01   3,81%
  • LQ45 510   21,57   4,42%
  • ISSI 176   3,73   2,17%
  • IDX30 287   13,39   4,90%
  • IDXHIDIV20 377   20,32   5,69%
  • IDX80 75   2,90   4,01%
  • IDXV30 106   4,88   4,84%
  • IDXQ30 95   5,39   6,01%

Trump Buka Peluang Pertemuan dengan Xi dan Putin Bulan Depan, Bahas Senjata Nuklir


Selasa, 20 Oktober 2026 / 10:14 WIB
Trump Buka Peluang Pertemuan dengan Xi dan Putin Bulan Depan, Bahas Senjata Nuklir
ILUSTRASI. USA-CHINA/ (REUTERS/Evan Vucci)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump membuka peluang menggelar pertemuan trilateral dengan Presiden China Xi Jinping dan Presiden Rusia Vladimir Putin pada November mendatang.

Pertemuan tersebut berpotensi membahas pengendalian senjata nuklir, denuklirisasi, hingga perdagangan.

“Kami akan menggelar pertemuan itu untuk membahas senjata nuklir dan denuklirisasi. Jika Presiden Xi ingin melakukannya, saya bersedia,” kata Trump kepada wartawan di luar Gedung Putih, Senin (19/10/2026).

Baca Juga: Serikat Pekerja Micron di Taiwan Siap Mogok, Perselisihan Bonus Memanas

Ia menambahkan, ketiga pemimpin kemungkinan juga akan membahas isu perdagangan.

Gedung Putih telah mendiskusikan kemungkinan pertemuan tersebut selama beberapa pekan. Menurut sumber yang mengetahui pembicaraan itu, pertemuan berpeluang berlangsung di sela-sela Konferensi Tingkat Tinggi Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC) pada 18–19 November di China.

Jika terealisasi, pertemuan itu akan menjadi yang pertama bagi ketiga pemimpin untuk melakukan pembicaraan formal secara bersama-sama. Trump sebelumnya telah bertemu Xi dan Putin secara terpisah.

Rencana tersebut muncul ketika Trump berupaya memperbaiki hubungan Washington dengan Beijing dan Moskow.

Namun, kedekatan ketiga negara juga berpotensi memunculkan kekhawatiran di Eropa dan Asia, terutama jika kesepakatan bilateral maupun trilateral dinilai melemahkan hubungan AS dengan sekutu-sekutunya.

Di sisi lain, kesepakatan antara ketiga negara dengan persenjataan nuklir terbesar di dunia berpotensi mengurangi ketegangan geopolitik.

Pembicaraan tersebut juga dapat membuka jalan bagi upaya penyelesaian perang Rusia-Ukraina yang telah berlangsung selama hampir empat tahun.

Dalam beberapa hari terakhir, Trump mengambil sejumlah langkah untuk memperbaiki hubungan dengan Moskow.

Baca Juga: Korea Selatan Ancam Hukum Tegas Korea Utara, Ketegangan Perbatasan Memanas

Ia mengumumkan kesepakatan pasokan bahan bakar diesel dengan Rusia dan menandatangani perintah eksekutif pada Jumat yang memberikan pengecualian terhadap sejumlah sanksi penting bagi negara tersebut.

Langkah itu menuai kritik dari Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy. Ia memperingatkan bahwa kebijakan tersebut dapat memperkuat posisi Putin dan memperpanjang perang.

Ketika ditanya mengenai kemungkinan pertemuan trilateral, Trump mengatakan agenda tersebut tidak semata-mata untuk kepentingan Ukraina.

Ia bahkan menilai Presiden Zelenskiy tidak banyak membantu proses penyelesaian konflik dan menyebut sudah waktunya pihak lain mengambil peran dalam perundingan atas nama Ukraina.

Sementara itu, Rusia melancarkan salah satu serangan udara terbesarnya dalam beberapa bulan terakhir pada Senin malam.

Serangan tersebut dilaporkan memutus pasokan listrik bagi lebih dari 500.000 rumah tangga dan merusak infrastruktur energi di Ukraina. Sebanyak 10 orang dilaporkan tewas.

Baca Juga: Indeks Nikkei Melemah di Sesi I, Tertekan Kenaikan Imbal Hasil & Kekhawatiran Inflasi

Pembicaraan Nuklir Masih Menghadapi Tantangan

Trump sebelumnya menyatakan bahwa kesepakatan denuklirisasi antara AS, Rusia, dan China masih memungkinkan.

Namun, ia menegaskan bahwa kesepakatan tersebut tidak harus tercapai tahun ini. Hingga kini, belum jelas sejauh mana pembicaraan ketiga negara telah berkembang.

Menurut Stockholm International Peace Research Institute, Rusia memiliki persediaan hulu ledak nuklir tersimpan terbesar, disusul AS dan China.

Upaya pengendalian senjata nuklir juga menghadapi tantangan setelah perjanjian New START berakhir pada tahun ini.

Perjanjian yang ditandatangani pada 2010 tersebut membatasi persenjataan nuklir strategis AS dan Rusia.

Perjanjian itu sebelumnya diperpanjang satu kali selama lima tahun melalui kesepakatan Presiden Rusia Vladimir Putin dan mantan Presiden AS Joe Biden.

Baca Juga: FTSE Russell Usulkan Perubahan Metodologi Pembobotan Indeks, Simak Poin Utamanya

Sementara itu, China menyatakan pekan lalu bahwa kemampuan nuklirnya belum berada pada tingkat yang sama dengan AS dan Rusia.

Beijing juga menilai permintaan agar China bergabung dalam perundingan pelucutan senjata nuklir trilateral saat ini tidak adil, tidak masuk akal, dan tidak realistis.

Trump telah menyatakan akan menghadiri KTT APEC di Shenzhen, China, bulan depan. Kunjungan tersebut akan menjadi perjalanan keduanya ke China tahun ini dan pertemuan ketiganya dengan Xi dalam periode yang sama.

Selain membuka peluang pertemuan dengan Xi dan Putin, Trump juga menyinggung kemungkinan bertemu dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un. Namun, Trump mengatakan belum yakin ada pihak yang meminta pertemuan tersebut.

Sementara itu, Korea Utara sebelumnya telah menunjukkan sikap tidak terbuka terhadap perundingan yang bertujuan mendorong negara itu melepaskan senjata nuklirnya




TERBARU

[X]
×