kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.651.000   11.000   0,42%
  • USD/IDR 17.981   -32,00   -0,18%
  • IDX 5.876   131,22   2,28%
  • KOMPAS100 765   20,79   2,79%
  • LQ45 582   16,29   2,88%
  • ISSI 204   4,37   2,19%
  • IDX30 329   8,59   2,68%
  • IDXHIDIV20 406   11,61   2,94%
  • IDX80 87   2,30   2,72%
  • IDXV30 110   2,89   2,69%
  • IDXQ30 106   3,06   2,97%

Trump Desak Harga BBM Turun, Laba Exxon dan Chevron Diprediksi Melonjak


Jumat, 03 Juli 2026 / 19:02 WIB
Trump Desak Harga BBM Turun, Laba Exxon dan Chevron Diprediksi Melonjak
ILUSTRASI. Exxon Mobil dan Chevron raup laba kuartalan tertinggi sejak 2022. Namun, harga bensin di AS tetap tinggi. (REUTERS/Evelyn Hockstein)


Sumber: Reuters | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Perusahaan minyak terbesar di Amerika Serikat diperkirakan akan membukukan laba kuartalan tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.

Kondisi ini berpotensi memicu ketegangan dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang tengah mendorong industri minyak untuk menurunkan harga bahan bakar minyak (BBM) menjelang pemilu sela (midterm election) pada November 2026.

Setelah berbulan-bulan masyarakat Amerika mengeluhkan tingginya harga bensin, dua raksasa energi, Exxon Mobil dan Chevron, diperkirakan akan melaporkan laba kuartal II 2026 yang lebih dari tiga kali lipat dibandingkan kuartal pertama.

Lonjakan laba tersebut didorong oleh kenaikan harga minyak dunia setelah pecahnya konflik Amerika Serikat-Israel dengan Iran pada akhir Februari, yang memicu gangguan pasokan energi global dan memperketat ketersediaan bahan bakar.

Baca Juga: Iran Gelar Pemakaman Nasional Khamenei, Jadi Simbol Unjuk Kekuatan Negara

Analis memperkirakan keuntungan industri minyak akan mencapai level tertinggi sejak 2022. Besarnya keuntungan tersebut berpotensi memperumit hubungan erat yang selama ini terjalin antara Trump dan industri minyak, yang dikenal sebagai salah satu penyokong utama Partai Republik.

Di sisi lain, kenaikan harga bensin turut memperkuat kritik dari Partai Demokrat terkait tingginya biaya hidup masyarakat. Isu tersebut juga ikut menekan tingkat kepuasan publik terhadap pemerintahan Trump, seiring banyak warga Amerika yang menilai perang dengan Iran tidak sebanding dengan dampak ekonominya.

Pemerintahan Trump bahkan telah meminta Departemen Kehakiman Amerika Serikat menyelidiki dugaan praktik penggelembungan harga bensin (price gouging).

Menteri Keuangan Scott Bessent juga memperingatkan perusahaan produsen minyak dan kilang bahwa Gedung Putih dapat mempertimbangkan langkah administratif apabila harga BBM di SPBU tidak segera turun secara signifikan.

"Industri ini jelas saling berkomunikasi dan memikirkan berbagai cara untuk menghadapinya. Kami tahu apa yang akan terjadi dan memahami dinamika politiknya," ujar seorang eksekutif industri yang enggan disebutkan namanya.

Sejak aktivitas pelayaran melalui Selat Hormuz kembali normal bulan lalu, Trump menyatakan ingin agar rata-rata harga bensin nasional turun hingga sekitar US$ 2,50 per galon.

Target tersebut jauh di bawah rata-rata harga saat ini yang mencapai sekitar US$ 3,85 per galon, bahkan sekitar 11% lebih rendah dibandingkan titik terendah pada masa pemerintahannya yang berada di kisaran US$ 2,81 per galon pada akhir Desember.

Menghadapi tekanan tersebut, kelompok lobi industri minyak meningkatkan komunikasi dengan pejabat pemerintah dan anggota Kongres guna meredam kritik terhadap industri, berdasarkan keterangan sejumlah pelobi dan pejabat industri.

Industri Sebut Harga BBM Bukan Sepenuhnya Ditentukan Produsen Minyak

Para eksekutif perusahaan minyak menegaskan bahwa mereka memiliki pengaruh yang terbatas terhadap harga bensin di tingkat konsumen.

Harga minyak mentah hanya menyumbang hampir separuh dari harga yang dibayar masyarakat di SPBU. Sisanya ditentukan oleh biaya pengolahan di kilang, distribusi, pemasaran, serta pajak.

Meski demikian, harga minyak mentah global sebenarnya telah kembali ke level sebelum perang. Namun harga bensin di Amerika Serikat masih sekitar 22% lebih tinggi dibandingkan sebelum konflik pecah.

Baca Juga: Rusia Akan Impor Avtur dari Jepang di Tengah Krisis Energi Akibat Serangan Ukraina

Analis dan pelaku industri menilai kondisi tersebut lebih disebabkan oleh ketatnya pasokan fisik bahan bakar dan terbatasnya persediaan bensin dibandingkan semata-mata kenaikan harga minyak mentah.

Presiden Rapidan Energy Group, Bob McNally, menilai perbedaan pergerakan harga tersebut mencerminkan tekanan struktural antara permintaan dan pasokan energi.

Juru bicara American Petroleum Institute, Bethany Williams, mengatakan bahwa harga bensin tidak selalu bergerak sejalan dengan harga minyak mentah.

"Harga bensin tidak bergerak seiring dengan harga minyak mentah, terutama ketika terjadi gangguan besar terhadap pasokan global yang memengaruhi produksi kilang dan tingkat persediaan," kata Williams.

Sementara itu, American Fuel & Petrochemical Manufacturers menyebut kebijakan pemerintah juga berkontribusi terhadap pembentukan harga BBM.

"Kilang tidak menentukan harga bensin jadi, dan minyak mentah hanyalah salah satu dari banyak komponen biaya," kata organisasi tersebut.

Sebagai contoh, kebijakan Renewable Fuel Standard mewajibkan penjual BBM mencampurkan etanol atau bahan bakar nabati lainnya dalam persentase tertentu, yang turut memengaruhi struktur biaya.

Gedung Putih menegaskan bahwa prioritas utama Trump adalah menurunkan harga bensin. Pemerintah juga menyebut harga minyak telah menurun sejak tercapainya kesepakatan terkait Iran serta meningkatnya koordinasi dengan industri energi dalam aspek perizinan dan regulasi.

Exxon Mobil menolak memberikan komentar. Sementara Chevron merujuk pada wawancara Chief Financial Officer (CFO) Eimear Bonner dengan CNBC pada 25 Juni, yang menyatakan bahwa normalisasi harga bensin membutuhkan waktu.

Laba Kuartal II Diprediksi Tertinggi Sejak 2022

Analis memperkirakan laba perusahaan minyak besar Amerika Serikat pada kuartal II 2026 akan menjadi yang tertinggi sejak 2022, ketika invasi Rusia ke Ukraina mengguncang pasar energi global.

Berdasarkan estimasi analis yang dihimpun LSEG, Exxon Mobil diperkirakan membukukan laba bersih disesuaikan sekitar US$ 15,9 miliar, atau lebih dari tiga kali lipat dibandingkan laba kuartal pertama.

Sementara itu, Chevron diproyeksikan mencatat laba sekitar US$ 9,9 miliar, juga meningkat lebih dari tiga kali lipat dibandingkan kuartal sebelumnya.

Baca Juga: Harga Minyak Dunia Stabil, Harapan Perdamaian AS-Iran Tekan Risiko Pasokan Global

Sebagian kenaikan tersebut diperkirakan berasal dari pembalikan kerugian akuntansi pada kuartal pertama yang berkaitan dengan kontrak derivatif untuk lindung nilai (hedging). Namun para analis menilai faktor utama tetap berasal dari membaiknya fundamental pasar energi.

Perusahaan konsultan energi TPH memperkirakan gasoline crack spread di Amerika Serikat—selisih antara harga minyak mentah dan harga bahan bakar hasil pengolahannya—mencapai rata-rata sekitar US$ 25 per barel pada kuartal II, meningkat sekitar US$ 16 dibandingkan kuartal sebelumnya.

Sementara itu, diesel crack spread diperkirakan naik sekitar US$ 15 menjadi sekitar US$ 45 per barel, yang merupakan margin tertinggi sejak pertengahan 2022.

Kenaikan margin tersebut didorong oleh tingginya permintaan ekspor bahan bakar Amerika Serikat setelah konflik membuat banyak kilang di luar negeri mengalami kekurangan pasokan.

Meski masyarakat Amerika masih menghadapi tingginya harga BBM, analis BMO Capital Markets memperkirakan perusahaan minyak akan mempercepat program pembelian kembali saham (share buyback) pada paruh kedua 2026. Langkah ini melanjutkan strategi pascapandemi yang lebih berfokus pada peningkatan imbal hasil bagi pemegang saham dibandingkan ekspansi produksi.

"Menjadi pihak yang selalu disalahkan tentu bukan hal yang menyenangkan. Namun kami perlu memberikan pemahaman kepada para pembuat kebijakan bahwa industri ini bersifat siklikal, dan ketika kondisi pasar berbalik memburuk, tidak ada yang memperhatikan bahwa kami juga menanggung seluruh risikonya," ujar seorang eksekutif industri.


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?



TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
Sales Coaching: Lead Better, Sell More! Teori, Strategi & Taktik Penagihan Kredit/ Piutang Macet Secara Dini & Terintegrasi Serta Efisien & Efektif

[X]
×