Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan bahwa Iran berada dalam “kondisi kolaps” di tengah kebuntuan upaya diplomasi untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung dua bulan dan mengguncang stabilitas kawasan Timur Tengah serta pasar energi global.
Dalam unggahan di platform Truth Social pada Selasa (28/4/2026), Trump mengatakan Iran telah menginformasikan kepada pihaknya bahwa negara tersebut berada dalam keadaan “state of collapse” dan sedang menghadapi ketidakpastian terkait kepemimpinan nasionalnya.
Baca Juga: Harga Emas Anjlok ke Level Terendah Hampir 4 Pekan, Pasar Cemas Inflasi dan The Fed
“Iran telah memberi tahu kami bahwa mereka berada dalam ‘State of Collapse’. Mereka ingin kami membuka Selat Hormuz sesegera mungkin saat mereka mencoba menyelesaikan situasi kepemimpinan mereka,” tulis Trump.
Namun, tidak dijelaskan secara rinci bagaimana komunikasi dari Iran tersebut disampaikan kepada pihak Amerika Serikat.
Di tengah pernyataan tersebut, negosiasi antara kedua negara dilaporkan kembali menemui jalan buntu.
Iran disebut mengusulkan agar pembahasan program nuklirnya ditunda hingga konflik mereda dan isu terkait pelayaran di Teluk diselesaikan terlebih dahulu.
Namun, Trump bersikeras bahwa isu nuklir harus menjadi pembahasan utama sejak awal perundingan, menurut seorang pejabat AS yang mengetahui pertemuan Trump dengan para penasihatnya.
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Tembus US$111, UEA Keluar dari OPEC Tambah Tekanan Pasar Global
Konflik yang telah berlangsung sejak akhir Februari itu juga menyeret kawasan Teluk ke dalam ketegangan tinggi.
Para pemimpin negara Teluk dilaporkan menggelar pertemuan di Arab Saudi untuk membahas respons terhadap eskalasi serangan dan ketidakstabilan regional.
Iran sebelumnya terlibat dalam kesepakatan nuklir tahun 2015 dengan sejumlah negara besar dunia yang membatasi program nuklirnya.
Namun kesepakatan tersebut runtuh setelah AS menarik diri pada masa pemerintahan pertama Trump.
Upaya diplomasi untuk meredakan konflik juga mengalami kemunduran setelah utusan khusus AS membatalkan kunjungan ke mediator regional.
Di sisi lain, ketegangan geopolitik kembali mendorong kenaikan harga minyak global. Harga minyak Brent naik sekitar 3% menjadi US$111,40 per barel, menyentuh level tertinggi dalam tiga minggu terakhir.
Baca Juga: UEA Keluar dari OPEC dan OPEC+, Guncang Pasar Energi Global di Tengah Perang Iran
Kondisi di Selat Hormuz, jalur vital yang biasanya dilalui sekitar 125–140 kapal per hari sebelum konflik, juga terganggu.
Data pelacakan menunjukkan hanya sedikit kapal yang masih melintas, tanpa membawa minyak untuk pasar global.
Iran sendiri mengklaim telah menyiapkan alternatif jalur perdagangan melalui darat dan laut non-Teluk untuk mengantisipasi blokade, termasuk kerja sama dengan negara tetangga seperti Oman, Pakistan, dan Turki.
Sementara itu, tekanan internasional untuk mengakhiri konflik terus meningkat di tengah kekhawatiran dampaknya terhadap ekonomi global, inflasi energi, dan rantai pasok perdagangan dunia.













