Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan Iran dapat menghubungi Washington kapan saja jika ingin merundingkan akhir dari konflik yang telah berlangsung selama dua bulan. Namun, ia menegaskan bahwa syarat utama kesepakatan adalah Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir.
Pernyataan tersebut disampaikan setelah Iran menuntut Amerika Serikat mencabut hambatan menuju kesepakatan, termasuk blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Ketegangan ini memperlihatkan jalan damai masih jauh dari tercapai meskipun pertempuran skala besar telah mereda.
Dalam wawancara dengan Fox News, Trump menyatakan, "Jika mereka ingin berbicara, mereka bisa datang kepada kami, atau mereka bisa menelepon kami... Mereka tahu apa yang harus ada dalam kesepakatan itu." Ia menambahkan bahwa kepemilikan senjata nuklir oleh Iran adalah garis merah yang tidak bisa ditawar.
Perundingan Mandek, Pasar Energi Bergejolak
Harapan untuk menghidupkan kembali upaya damai memudar setelah Trump membatalkan kunjungan utusan khususnya ke Islamabad. Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi melakukan diplomasi intensif dengan mediator seperti Pakistan dan Oman, sebelum melanjutkan perjalanan ke Rusia untuk bertemu Presiden Vladimir Putin.
Baca Juga: Harga Minyak Naik, Pasar Waspadai Gangguan Energi dan Arah Suku Bunga Global
Mandeknya perundingan berdampak langsung pada pasar global. Harga minyak naik, dolar AS menguat, dan kontrak berjangka saham AS melemah pada perdagangan awal pekan di Asia. Gangguan ini dipicu oleh terhambatnya jalur pelayaran di Selat Hormuz, yang merupakan jalur utama distribusi sekitar 20% minyak dunia.
Laporan Axios menyebut Iran telah mengajukan proposal baru melalui mediator Pakistan terkait pembukaan kembali Selat Hormuz dan penghentian perang, dengan pembahasan nuklir ditunda ke tahap selanjutnya. Namun, belum ada tanggapan resmi dari pemerintah AS.
Tekanan Domestik dan Posisi Tawar Iran
Meski gencatan senjata telah menghentikan pertempuran besar, belum ada kesepakatan final untuk mengakhiri konflik yang telah menewaskan ribuan orang dan memicu inflasi global.
Trump kini menghadapi tekanan domestik untuk mengakhiri perang yang tidak populer, terutama di tengah penurunan tingkat persetujuan publik. Di sisi lain, Iran memanfaatkan posisinya dengan mengontrol akses ke Selat Hormuz, sekaligus menghadapi blokade pelabuhan dari AS.
Baca Juga: Korut Makin Lengket ke Rusia, Kim Janji Terus Dukung Kebijakan Putin
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan bahwa negaranya tidak akan menerima negosiasi yang dilakukan di bawah tekanan atau ancaman. Ia meminta AS terlebih dahulu mencabut blokade sebelum pembicaraan dimulai.
Perbedaan Kepentingan yang Kompleks
Perbedaan antara AS dan Iran tidak hanya terkait program nuklir. Washington juga ingin membatasi dukungan Iran terhadap kelompok proksi di kawasan, seperti Hezbollah di Lebanon dan Hamas di Gaza, serta mengurangi kemampuan Iran dalam meluncurkan serangan rudal balistik.
Sebaliknya, Iran menuntut pencabutan sanksi dan penghentian serangan Israel terhadap sekutunya di kawasan.
Di tengah kebuntuan diplomatik, konflik terus meluas. Serangan terbaru di Lebanon dilaporkan menewaskan sedikitnya 14 orang dan melukai puluhan lainnya, menunjukkan dampak regional yang semakin besar.













