Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Harga emas naik tipis pada Selasa (7/4/2026), didorong aksi beli saat harga turun (dip buying), meskipun penguatannya tertahan oleh dolar AS yang kuat dan kenaikan harga minyak.
Investor kini mencermati ketidakpastian konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Melansir Reuters, harga emas spot naik 0,2% menjadi US$4.655,89 per ons troi pada pukul 12.04 GMT, setelah sempat menguat hingga 1% di awal sesi. Sementara itu, emas berjangka AS turun tipis 0,1% ke US$4.680,50 per ons troi.
Baca Juga: AS Gempur Target Militer Iran di Kharg, Strategi Dipastikan Tak Berubah
“Kita baru keluar dari periode Paskah, sehingga likuiditas mulai kembali dan mendorong aksi beli saat harga turun,” ujar Nitesh Shah, analis komoditas di WisdomTree.
Namun, ia menambahkan bahwa penguatan dolar AS dan tekanan di pasar obligasi menjadi hambatan bagi kenaikan harga emas.
Dolar yang menguat membuat emas yang dihargakan dalam dolar menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain. Selain itu, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun juga meningkat.
Di sisi geopolitik, Islamic Revolutionary Guard Corps memperingatkan bahwa “masa penahanan diri telah berakhir” dan mengancam akan mengganggu pasokan minyak dan gas regional selama bertahun-tahun.
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Makin Panas Selasa (7/4): Brent ke US$111,16 dan WTI ke US$116
Pernyataan ini muncul saat Israel terus melancarkan serangan ke Iran menjelang tenggat dari Presiden AS, Donald Trump, untuk membuka Selat Hormuz.
“Ketidakjelasan proses mediasi antara AS dan Iran membuat pelaku pasar menahan posisi, sehingga harga emas bergerak dalam kisaran sempit dalam dua pekan terakhir,” kata analis MarketPulse by OANDA, Zain Vawda.
Sejak perang dimulai, harga emas telah turun sekitar 12%, karena lonjakan harga minyak memicu kekhawatiran inflasi global.
Meski emas biasanya diuntungkan sebagai lindung nilai inflasi, ekspektasi suku bunga tinggi justru menekan daya tariknya karena emas tidak memberikan imbal hasil.
Investor kini menilai kecil kemungkinan Bank Sentral AS memangkas suku bunga tahun ini, menurut alat FedWatch CME.
Baca Juga: Iran Serang Kompleks Petrokimia Jubail Arab Saudi, IRGC Klaim Tanggung Jawab
Sementara itu, UBS memangkas proyeksi harga emas akhir Juni menjadi US$5.200 per ons, mencerminkan perubahan kondisi makroekonomi yang lebih menantang bagi logam mulia.
Di sisi lain, bank sentral China tetap melanjutkan pembelian emas selama 17 bulan berturut-turut, dengan cadangan mencapai 74,38 juta troy ounce pada akhir Maret.
Untuk logam mulia lainnya, harga perak turun 0,9% ke US$72,12 per ons troi, platinum melemah 1,7% ke US$1.945,17, dan paladium turun 1,7% ke US$1.460,18.













