kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45768,83   4,23   0.55%
  • EMAS888.000 0,11%
  • RD.SAHAM -0.17%
  • RD.CAMPURAN -0.05%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.12%

Virus corona meredupkan bisnis, merek-merek global gugup dan panik


Kamis, 06 Februari 2020 / 14:02 WIB
Virus corona meredupkan bisnis, merek-merek global gugup dan panik
ILUSTRASI. Brand global Nike.

Sumber: CNN | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - LONDON. Virus corona yang mulai mewabah sejak akhir Desember lalu di China memukul bisnis ritel. Banyak toko yang harus tutup karena jalan-jalan kosong. Alhasil merek-merek besar global menjadi gugup dan panik soal dampak virus corona terhadap bisnis mereka.

Sebut saja Nike, Adidas, Capri Holdings yang memiliki Versace, Jimmy Choo dan Michael Kors. Melansir CNN, mereka semua adalah sejumlah brand besar yang telah memperingatkan para investor pada pekan ini bahwa tingkat penjualan perusahaan dapat terpukul ketika virus menyebar ke seluruh China.

"Situasi di China dan langkah-langkah yang diambil untuk melindungi warga memiliki dampak material pada bisnis kami," John Idol, CEO Capri Holdings, mengatakan dalam sebuah pernyataan, Rabu, seperti yang dikutip dari CNN.

Baca Juga: Tak ada penerbangan, China berencana menjemput warganya di Bali

Wabah virus corona telah menewaskan hampir 500 orang dan menginfeksi lebih dari 24.500 orang - terutama di China.

Wabah ini juga memaksa para pelaku ritel untuk menutup usaha mereka sebagai upaya untuk menahan virus.

Menurut Idol, Sekitar 150 toko Capri di China daratan ditutup. Sementara, Nike mengatakan telah menutup sekitar setengah dari toko yang dimilikinya di China. Sedangkan Adidas mengatakan perusahaan dan para pemegang waralaba telah menutup sejumlah toko yang "signifikan".

Baca Juga: Sudah 10 hari lebih terkunci dari dunia luar, begini cara warga Wuhan menghibur diri

Di sisi lain, Nike dan Capri Holdings mengatakan, masih ada sejumlah toko yang tetap beroperasi. Namun, jam operasionalnya dikurangi dan jumlah pembeli semakin sedikit.

"Dalam jangka pendek, kami memperkirakan situasi akan berdampak material pada operasi kami di China," kata Nike dalam sebuah pernyataan Selasa, meskipun mencatat bahwa bisnis online-nya telah menunjukkan kekuatan yang terus berlanjut.

Hampir 18% dari penjualan Nike berasal dari wilayah China pada kuartal terakhir 2019. CEO John Donahoe mengatakan kepada CNBC, Rabu, "Prioritas pertama perusahaan sebagai sebuah perusahaan adalah untuk secara tegas menjaga mitra kami di China dan konsumen."

Hal senada juga diungkapkan oleh Adidas. Meski demikian, Adidas mengatakan masih terlalu dini untuk menilai besarnya dampak virus corona pada titik ini. Akan tetapi, Capri Holdings mengatakan kepada investor bahwa mereka memprediksi virus corona akan memangkas pendapatan perusahaan sebesar US$ 100 juta pada kuartal ini, dan memperingatkan bahwa pukulan itu bisa lebih besar jika tingkat keparahan situasinya memburuk.

Baca Juga: HIPMI: Wabah virus corona sangat berdampak besar bagi sektor pariwisata Indonesia

Banyak perusahaan yang kemudian bergabung dengan daftar merek global untuk membatasi operasi di China, meskipun mereka bergantung pada negara itu untuk pertumbuhan pendapatan. Apple, misalnya. Perusahaan ini mengatakan seluruh 42 outletnya di China akan tutup hingga 9 Februari sebagai langkah hati-hati perusahaan.

Starbucks juga mengatakan telah menutup lebih dari setengah outlet mereka yang totalnya berjumlah 4.300 di China pada pekan lalu.

Baca Juga: Penyelenggara Olimpiade Tokyo 2020 khawatir akibat virus corona yang cepat menyebar

Pelaku ritel juga mulai khawatir bahwa bisnis mereka di luar China akan ikut terpengaruh. Capri Holdings memperingatkan bahwa penjualan dan keuntungannya bisa lebih menderita jika pembatasan perjalanan tambahan diberlakukan dan ada penurunan pengeluaran oleh wisatawan Tiongkok di luar negeri.

Analis Jefferies menyebut Tiffany & Co yang dibeli oleh LVMH, Macy's, dan Coach sebagai perusahaan yang kinerjanya dapat terpukul dalam seiring penurunan pariwisata dari wilayah tersebut ke Amerika Serikat.

Baca Juga: Ingin buat video viral, WN Kanada berbohong terinvesksi virus corona di pesawat

Turunnya wisatawan Tiongkok tampaknya tak terhindarkan karena banyak maskapai yang membatalkan penerbangan. American Airlines telah menangguhkan semua penerbangan antara Amerika Serikat dan China daratan hingga 27 Maret. Sedangkan Delta Air Lines mengatakan tidak akan terbang dari Amerika Serikat ke China hingga 30 April.

Perusahaan penerbangan Hong Kong Cathay Pacific mengatakan pada hari Rabu bahwa pihaknya memangkas penerbangan ke daratan China sebesar 90% dan membuat pengurangan yang signifikan di tempat lain dalam jaringannya selama dua bulan ke depan. Total jumlah penerbangan akan berkurang 30%.



TERBARU

[X]
×