Sumber: Reuters | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
BERLIN. Dewan pengawas alias supervisory board Volkswagen (VW) dikabarkan tengah mempertimbangkan langkah untuk menopang peringkat (rating) utang perusahaan kala diterpa skandal uji emisi.
Dua orang sumber Reuters yang mengetahui masalah ini menyebutkan, setidaknya ada dua langkah yang akan dilakukan oleh manajemen produsen mobil terbesar di Eropa ini. Rencana pertama Volkswagen, mempertimbangkan memangkas berbagai biaya (cost cuts) untuk meningkatkan kas perusahaan. Sementara rencana kedua adalah kemungkinan peningkatan modal bila ternyata biaya yang timbul akibat skandal tersebut kian melejit.
Namun seperti diberitakan Reuters, Kamis (1/10), kedua sumber tersebut tidak mengatakan VW berniat menjual aset dan merek perusahaan.
Menanggapi kabar tersebut, manajemen VW tidak bersedia berkomentar. Sebelumnya, manajemen VW telah mengakui melakukan kecurangan dalam uji emisi mobil-mobil bermesin diesel di Amerika Serikat (AS). Hal tersebut juga dilakukan Volkswagen atas penjualan mobil di Eropa yang meraup pangsa pasar sebanyak 40% dari keseluruhan penjualan.
Akibat skandal ini, harga saham VW terjun bebas. Belum cukup, Moody's Investor Serivice, pekan lalu, telah memangkas prospek (outlook) VW dari stabil menjadi negatif.
Moody's beralasan, skandal tersebut sangat berpotensi menggerus keuangan VW dan sekaligus menjatuhkan kepercayaan publik terhadap perusahaan otomotif itu. Sumber Reuters menambahkan, perubahan outlook dari Moody's membuat kekhawatiran imbal hasil yang diminta kreditur bakal kian tinggi. Ujung-ujungnya, biaya pendanaan VW bakal ikut terkerek naik.
Oleh sebab itu, manajemen VW kini tengah sibuk memutar otak untuk keluar dari kondisi ini. Seperti diberitakan situs www.cityam.com, Selasa (29/9), analis Deutsche Bank menyatakan lebih berhati-hati menghitung prospek VW ke depan. Deutsche Bank telah memangkas pendapatan VW periode tahun 2015–2017 sebesar 35%.
Memang benar, manajemen VW telah menyiapkan dana € 6,5 miliar untuk mengantisipasi dampak dari kasus tersebut. Namun, kebutuhan dana perusahaan ini diprediksi bakal membengkak menjadi US$ 18 miliar.













