kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.819.000   -20.000   -0,70%
  • USD/IDR 17.618   65,00   0,37%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

Wabah Hantavirus di Kapal Pesiar Picu Trauma Baru Pascapandemi Covid-19


Jumat, 15 Mei 2026 / 13:32 WIB
Wabah Hantavirus di Kapal Pesiar Picu Trauma Baru Pascapandemi Covid-19
ILUSTRASI. SPAIN-HEALTH-HANTAVIRUS-ILLNESS-TOURISM (AFP/JORGE GUERRERO)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Wabah hantavirus jenis Andes yang muncul di kapal pesiar mewah di Samudra Atlantik kembali memicu kekhawatiran publik global dan membangkitkan trauma era pandemi Covid-19.

Virus yang ditularkan melalui hewan pengerat itu mencuat setelah sejumlah penumpang kapal pesiar MV Hondius dilaporkan sakit dan beberapa di antaranya meninggal dunia.

Situasi tersebut memunculkan kepanikan di media sosial, termasuk kekhawatiran akan munculnya pandemi baru.

Baca Juga: Trump Mulai Kehilangan Kesabaran terhadap Iran

Sejumlah pejabat kesehatan mengatakan tantangan utama saat ini bukan hanya menangani wabah, tetapi juga memastikan komunikasi publik dilakukan secara cepat, jelas, dan tidak memicu kepanikan berlebihan.

Departemen kesehatan negara bagian Illinois di Amerika Serikat (AS) bahkan mencoba menyampaikan edukasi publik dengan pendekatan lebih santai di media sosial.

“Hantavirus thread incoming. Tapi kalian harus janji membaca seluruh thread ini sebelum panik dan mengirim pesan ke grup chat,” tulis instansi tersebut dalam unggahan media sosialnya pekan ini.

Dalam wawancara dengan Reuters, sejumlah pejabat kesehatan mengaku berupaya belajar dari pengalaman pandemi Covid-19 dengan mengedepankan komunikasi yang lebih empatik, transparan, dan terbuka terhadap ketidakpastian ilmiah.

Baca Juga: India Menaikkan Harga BBM untuk Pertama Kalinya Dalam 4 Tahun, Imbas Perang Iran

“Kami menghabiskan separuh waktu untuk mendiskusikan bagaimana cara berkomunikasi,” ujar Gianfranco Spiteri, pejabat tanggap darurat dari European Centre for Disease Prevention and Control (ECDC).

Saat pandemi Covid-19, banyak pemerintah dinilai lambat merespons, memberikan pesan yang membingungkan, serta gagal meredam disinformasi yang berkembang luas di masyarakat. Hal itu ikut memicu menurunnya kepercayaan publik terhadap institusi kesehatan.

Salah satu studi bahkan menunjukkan tingkat kepercayaan terhadap lembaga kesehatan publik menurun di 20 dari 27 negara Uni Eropa selama periode 2020–2022.

Di tengah wabah hantavirus saat ini, otoritas kesehatan berupaya menyeimbangkan komunikasi antara penjelasan mengenai risiko kesehatan dengan penegasan bahwa ancaman terhadap masyarakat umum masih rendah.

“Ada yang menilai kami terlalu berlebihan, sementara yang lain menganggap kami belum cukup serius,” kata Spiteri.

“Kami selalu mendasarkan pesan pada bukti yang tersedia.”

Baca Juga: Singapore Airlines Percaya Diri Tambah Kapasitas di Tengah Konflik Timur Tengah

Meski demikian, media sosial tetap dipenuhi berbagai spekulasi dan teori konspirasi. Sebagian unggahan secara keliru menyebut hantavirus lebih berbahaya dibanding Covid-19, sementara lainnya mempromosikan obat-obatan dan suplemen tanpa dasar ilmiah seperti ivermectin, vitamin D, hingga zinc.

Profesor psikologi sekaligus pakar disinformasi dari University of Cambridge, Sander van der Linden menilai, publik perlu dibekali kemampuan lebih baik dalam memahami informasi kesehatan dan mengenali teori konspirasi.

“Kita perlu lebih banyak melakukan langkah persiapan untuk membangun ketahanan masyarakat terhadap disinformasi,” ujarnya.

Hingga Kamis (15/5), tercatat terdapat 11 kasus hantavirus yang berkaitan dengan kapal pesiar MV Hondius, dengan tiga orang meninggal dunia. Puluhan penumpang lainnya masih dipantau setelah kembali ke sekitar 20 negara berbeda.

Para ahli menegaskan bahwa hantavirus berbeda dengan Covid-19 karena sudah terdapat langkah pengendalian yang jelas. Virus Andes sendiri telah lama beredar di wilayah Argentina dan Chile.

Baca Juga: Laba Emiten Blue-Chip Eropa Diproyeksi Catat Pertumbuhan Tertinggi Sejak 2022

WHO pun berupaya menenangkan publik dengan menggelar konferensi pers rutin, merilis peringatan resmi, dan menjawab disinformasi melalui media sosial sejak wabah diumumkan pada 3 Mei lalu.

Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus bahkan menulis surat terbuka kepada warga Tenerife, lokasi kapal pesiar tersebut bersandar.

“Ini bukan Covid baru,” tulis Tedros. “Risiko kesehatan publik dari hantavirus saat ini tetap rendah.”

Meski demikian, kemunculan wabah di kapal pesiar mengingatkan banyak orang pada kasus kapal Diamond Princess pada awal pandemi Covid-19 tahun 2020.

“Seluruh isu kapal pesiar ini memunculkan kembali memori kuat dari awal pandemi Covid,” kata Krutika Kuppalli, profesor kedokteran dari University of Texas Southwestern Medical Center.

Hal serupa dirasakan Laura Millán, warga Tenerife berusia 40 tahun, yang menyaksikan langsung kedatangan penumpang MV Hondius dengan prosedur pengendalian ketat.

“Ini membuat saya merasa bahwa situasinya bukan sekadar flu biasa,” ujarnya.




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×