Penulis: Prihastomo Wahyu Widodo
KONTAN.CO.ID - Wabah misterius di Rusia menjadi perhatian internasional setelah seorang pekerja laboratorium di Siberia meninggal dan hampir 200 orang menjalani pengawasan medis.
Kasus tersebut diduga berkaitan dengan penyakit pes yang menyerang paru-paru, tetapi penyebab kematian korban hingga kini belum dipastikan.
Perempuan bernama Darya Shipilova, 28 tahun, diketahui bekerja sebagai asisten laboratorium di Irkutsk Anti-Plague Research Institute di Shelekhov.
Ia meninggal pada 2 Oktober setelah sebelumnya mengalami kondisi kesehatan yang memburuk.
Sejumlah rumah sakit juga dilaporkan ditutup dan menjalani karantina. Namun, otoritas Rusia membantah adanya hubungan antara kematian Shipilova dan kebocoran bakteri dari laboratorium.
Berikut kronologi dan fakta terbaru mengenai kasus yang masih diselidiki tersebut.
Baca Juga: AS Hadapi Wabah Campak Terburuk Sejak 1991, New York Tetapkan Status Darurat
Kronologi Wabah Misterius di Rusia
Kasus ini bermula pada 25 September ketika Shipilova dilaporkan sedang bekerja dengan material biologis hidup di Irkutsk Anti-Plague Research Institute.
Menurut media independen Rusia, Baikal People, Shipilova sedang bekerja dengan material biologis hidup ketika sebuah tabung reaksi yang berisi bakteri Yersinia pestis disebut pecah secara tidak sengaja.
Perlu diketahui, Yersinia pestis merupakan bakteri penyebab penyakit pes.
Dua hari setelah insiden tersebut, kondisi Shipilova dilaporkan memburuk. Ia kemudian dibawa ke rumah sakit.
Namun, sejumlah ilmuwan mempertanyakan laporan mengenai tabung reaksi yang pecah. Menurut laporan The Independent, personel di institut tersebut bekerja menggunakan pakaian pelindung lengkap ketika menangani material berbahaya.
Setelah kondisinya memburuk, Shipilova awalnya diduga mengalami Covid-19 berdasarkan gejala yang muncul. Ia kemudian dirawat di unit khusus Covid-19 di rumah sakit distrik Shelekhov.
Kondisinya terus memburuk hingga membutuhkan ventilator. Shipilova akhirnya meninggal pada dini hari 2 Oktober.
Otoritas Rusia menyatakan Shipilova meninggal akibat "pneumonia of an unknown origin" atau pneumonia dengan penyebab yang tidak diketahui.
Baca Juga: Australia Konfirmasi Kasus Pertama H5N1 di Mamalia, Wabah Flu Burung Makin Meluas
Hampir 200 Orang Masuk Pengawasan Medis
Setelah kematian Shipilova, sejumlah langkah pencegahan dilakukan di wilayah Shelekhov.
Baikal People juga melaporkan, sekitar 200 orang ditempatkan dalam pengawasan medis ketat. Sejumlah rumah sakit juga ditutup dan ditempatkan dalam karantina yang diperkirakan berlangsung selama tiga minggu.
Pemerintah daerah Baikalsk juga sempat meminta warga tidak bepergian ke Shelekhov pada Sabtu (3/10) karena adanya informasi tidak resmi mengenai kasus penyakit pes yang telah terkonfirmasi di kota tersebut.
Masker juga diwajibkan sebagai langkah pencegahan di sebuah pabrik aluminium di Shelekhov.
Di tengah berbagai laporan tersebut, Rospotrebnadzor, badan kesehatan nasional Rusia, menyatakan situasi di wilayah tersebut tetap "stabil".
Rusia Bantah Ada Hubungan dengan Kebocoran Laboratorium
Pemerintah Rusia membantah adanya hubungan antara kematian Shipilova dan kebocoran bakteri dari laboratorium.
Euronews melaporkan Gubernur Buryatia Alexey Tsydenov sempat mengatakan kematian Shipilova berkaitan dengan infeksi penyakit pes. Pernyataan tersebut kemudian diubah dengan menambahkan kata "maybe" atau "mungkin".
Perbedaan informasi juga muncul dari pemerintah daerah Baikalsk yang sempat menyebut adanya informasi mengenai kasus penyakit pes yang telah terkonfirmasi di Shelekhov sebelum akhirnya menghapus unggahan tersebut.
Baca Juga: Rusia Gempur Ukraina dengan 70 Rudal, 20 Orang Tewas
Apa Itu Pes Pneumonik?
Penyakit pes disebabkan oleh bakteri Yersinia pestis. Salah satu bentuknya adalah pes pneumonik, yaitu infeksi yang menyerang paru-paru.
Menurut Paul Hunter, profesor kedokteran dari University of East Anglia yang dikutip The Independent, penyakit pes masih muncul secara rutin dengan beberapa ratus kasus setiap tahun di seluruh dunia.
Hunter menjelaskan terdapat beberapa bentuk penyakit pes.
Pes bubonik dan pes septikemik dapat menyebar melalui gigitan kutu atau kontak dekat dengan hewan yang terinfeksi.
Sementara itu, pes pneumonik dapat menyebar dari manusia ke manusia melalui droplet pernapasan.
Menurut Hunter, infeksi yang diperoleh dari laboratorium bukan sesuatu yang tidak pernah terjadi dan biasanya dapat terjadi melalui inhalasi.
Karena itu, dugaan pes pneumonik menjadi salah satu kemungkinan dalam kasus pekerja laboratorium tersebut.
Baca Juga: Kota Asal Zelensky di Ukraina Terancam Kolaps, Industri Baja Lumpuh Dihantam Rusia














