Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - SEOUL. Rusia dan Korea Utara kembali menegaskan penguatan hubungan strategis kedua negara. Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov menyatakan Moskow dan Pyongyang tengah bekerja sama untuk membangun “tatanan dunia baru dan adil”, di tengah meningkatnya hubungan militer kedua negara sejak perang Rusia-Ukraina.
Pernyataan tersebut disampaikan Lavrov melalui pesan kepada Menteri Luar Negeri Korea Utara Choe Son Hui. Menurut kantor berita negara Korea Utara, KCNA, Lavrov juga menegaskan kembali komitmen Moskow untuk memperluas kerja sama dengan Pyongyang di berbagai bidang serta berkontribusi terhadap keamanan regional dan internasional.
Lavrov mengatakan Rusia dan Korea Utara terus berupaya membangun “tatanan dunia baru dan adil berdasarkan kesetaraan yang sejati dan kepentingan nasional.”
Pernyataan tersebut menegaskan semakin dekatnya hubungan Moskow dan Pyongyang, terutama setelah Korea Utara memberikan dukungan militer kepada Rusia dalam perang melawan Ukraina.
Baca Juga: 29 Negara Gugat Meta, Facebook dan Instagram Dituding Rusak Kesehatan Mental Anak
Korea Utara Kirim Ribuan Tentara ke Rusia
Korea Utara diketahui mengirim sekitar 14.000 personel militernya ke Rusia pada akhir 2024 untuk membantu pasukan Moskow menghadapi serangan Ukraina di wilayah Kursk.
Presiden Rusia Vladimir Putin kemudian menyatakan kemenangan atas operasi tersebut pada Mei 2025 sekaligus menyampaikan apresiasi secara terbuka kepada Pyongyang atas bantuan yang diberikan. Rusia dan Korea Utara selanjutnya secara terbuka mengakui keterlibatan pasukan Korea Utara dalam operasi di Kursk.
Dalam pesannya kepada Choe, Lavrov juga memuji keterlibatan tentara Korea Utara dalam operasi tersebut.
“Partisipasi personel militer Tentara Rakyat Korea dalam operasi untuk mengusir kelompok Nazi Ukraina dan tentara bayaran asing dari Kursk merupakan bukti nyata tradisi persahabatan militan yang ditempa oleh generasi-generasi pendahulu yang heroik,” ujar Lavrov seperti dikutip KCNA.
Istilah “kelompok Nazi Ukraina” merupakan bagian dari narasi pemerintah Rusia mengenai perang di Ukraina. Pemerintahan Presiden Volodymyr Zelenskyy dan negara-negara Barat menolak tudingan tersebut sebagai tidak berdasar. Zelenskyy sendiri merupakan keturunan Yahudi.
Baca Juga: Iran: Selat Hormuz Akan Tetap Ditutup Sampai AS Penuhi Hal Ini
Kekhawatiran Korea Selatan dan Barat
Semakin eratnya hubungan Rusia dan Korea Utara memicu kekhawatiran Korea Selatan serta negara-negara Barat. Salah satu perhatian utama adalah kemungkinan Moskow memberikan bantuan teknologi dan pengembangan persenjataan kepada Pyongyang sebagai imbalan atas dukungan militer Korea Utara terhadap Rusia.
Hubungan kedua negara telah berkembang jauh sejak Rusia melancarkan invasi skala penuh ke Ukraina pada Februari 2022. Kerja sama tersebut tidak hanya mencakup dukungan politik, tetapi juga semakin kuat pada sektor pertahanan dan keamanan.
Sebelumnya, Korea Utara juga dilaporkan memasok Rusia dengan jutaan peluru artileri dan mortir, rudal balistik, artileri jarak jauh serta sistem peluncur roket multipel. Penilaian tersebut berasal dari Ukraina dan sejumlah lembaga independen.
Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa hubungan Rusia-Korea Utara semakin memiliki dimensi strategis, dengan kedua negara sama-sama menghadapi tekanan dan sanksi dari negara-negara Barat.
Potensi Pengiriman Pasukan Baru
Kerja sama militer Rusia dan Korea Utara juga berpotensi meningkat. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy pada awal Agustus mengatakan hingga 50.000 tentara Korea Utara dapat dikirim ke Rusia dalam penempatan baru untuk membantu meningkatkan tekanan militer terhadap Ukraina.
Jika terealisasi, pengerahan tersebut akan menjadi peningkatan signifikan dibandingkan jumlah personel Korea Utara yang sebelumnya dikerahkan ke wilayah Rusia.
Baca Juga: Kondisi Kesehatan Memburuk, Imran Khan Dipindahkan dari Penjara ke RS
Bagi Moskow, dukungan Pyongyang dapat membantu menambah kapasitas personel dan persenjataan dalam menghadapi perang yang telah berlangsung selama bertahun-tahun. Sementara bagi Korea Utara, hubungan yang semakin erat dengan Rusia membuka peluang memperoleh dukungan ekonomi, militer maupun teknologi.
Aliansi Rusia-Korea Utara Makin Strategis
Pernyataan Lavrov menunjukkan bahwa kerja sama Rusia dan Korea Utara tidak lagi sebatas hubungan bilateral konvensional. Kedua negara secara terbuka menempatkan hubungan mereka dalam kerangka perubahan tatanan geopolitik global.
Konsep “tatanan dunia baru” yang disampaikan Lavrov sejalan dengan upaya Moskow untuk mendorong sistem internasional yang lebih multipolar dan menentang dominasi negara-negara Barat.
Kedekatan tersebut juga memperkuat posisi Korea Utara di tengah tekanan internasional terkait program nuklir dan misilnya. Sebaliknya, Rusia memperoleh mitra yang bersedia memberikan dukungan militer dan politik di tengah konflik Ukraina.
Dengan demikian, penguatan hubungan Rusia-Korea Utara berpotensi menjadi salah satu faktor penting dalam dinamika keamanan di Eropa dan Asia Timur. Perkembangan kerja sama militer kedua negara juga akan menjadi perhatian bagi Korea Selatan, Amerika Serikat, Jepang, dan negara-negara Barat lainnya.













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
