kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.857.000   -65.000   -2,22%
  • USD/IDR 17.020   -18,00   -0,11%
  • IDX 7.027   -157,66   -2,19%
  • KOMPAS100 971   -21,90   -2,21%
  • LQ45 715   -12,21   -1,68%
  • ISSI 251   -5,90   -2,30%
  • IDX30 389   -4,63   -1,18%
  • IDXHIDIV20 483   -4,52   -0,93%
  • IDX80 109   -2,25   -2,01%
  • IDXV30 133   -1,42   -1,05%
  • IDXQ30 127   -1,23   -0,96%

Wabah Penyakit Mulut Kuku Baru di China, Pemerintah Perketat Perbatasan dan Vaksinasi


Jumat, 03 April 2026 / 18:06 WIB
Wabah Penyakit Mulut Kuku Baru di China, Pemerintah Perketat Perbatasan dan Vaksinasi
ILUSTRASI. Warga China (REUTERS/Maxim Shemetov)


Sumber: Reuters | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - BEIJING. Pemerintah China memperketat pengawasan perbatasan, mempercepat pengembangan vaksin, dan mulai memusnahkan ternak setelah muncul wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) di wilayah barat laut yang diduga berasal dari luar negeri.

Kementerian Pertanian China menyatakan bahwa wabah tersebut menyerang 6.229 ekor sapi di Provinsi Gansu dan Xinjiang Uyghur Autonomous Region. Otoritas telah melakukan pemusnahan ternak serta disinfeksi area terdampak untuk menahan penyebaran.

Analis industri menyebut ini sebagai pertama kalinya China mendeteksi serotipe SAT-1, jenis PMK yang sebelumnya endemik di Afrika. Vaksin domestik yang ada saat ini hanya melindungi terhadap serotipe O dan A, sehingga tidak efektif melawan varian baru tersebut.

Baca Juga: Penjualan Alat Pertanian di Amerika Utara Lesu, Petani Tahan Belanja Besar

Sejak 2025, SAT-1 telah menyebar dari Afrika ke berbagai wilayah, termasuk Timur Tengah, Asia Barat, dan Asia Selatan. Pemerintah China menyebut wabah kemungkinan masuk melalui perbatasan barat laut yang berbatasan dengan beberapa negara seperti Kazakhstan, Mongolia, dan Rusia.

Wilayah perbatasan seperti Xinjiang dan Gansu kini diperintahkan meningkatkan patroli untuk mencegah masuknya penyakit melalui penyelundupan atau transportasi ilegal hewan.

Analis dari Shanghai JC Intelligence, Rosa Wang, memperingatkan bahwa wabah ini berpotensi meluas. “Wabah saat ini mengancam wilayah yang luas dan upaya pengendalian menghadapi tekanan besar,” ujarnya.

Wabah ini muncul di tengah laporan penyakit ternak serius di wilayah Siberia, Rusia, yang berbatasan dengan Kazakhstan. Meski Rusia membantah adanya wabah PMK, laporan dari Departemen Pertanian AS sebelumnya mengindikasikan kemungkinan penyebaran penyakit di kawasan tersebut.

China sendiri pernah mengalami kasus penyakit hewan lintas batas sebelumnya, termasuk demam babi Afrika pada 2018 dan PMK serotipe O pada tahun 2000 dan 2014.

Pemerintah China memperingatkan bahwa varian SAT-1 mudah menyebar, baik melalui kontak langsung maupun udara, dengan tingkat penularan yang lebih tinggi dibandingkan jenis lain. Pada hewan muda, tingkat kematian bahkan bisa melebihi 50%.

Sebagai respons, dua vaksin khusus untuk SAT-1 yang dikembangkan oleh Zhongnong Weite Biotechnology Co., Ltd telah mendapatkan persetujuan darurat dan diperkirakan akan tersedia di pasar dalam waktu satu bulan.

Wabah ini menambah tekanan pada sektor peternakan China yang sebelumnya sudah menghadapi harga daging rendah, kelebihan produksi, dan lemahnya permintaan.

Baca Juga: Tesla Targetkan Jadi Merek Mobil Impor Terbesar di Jepang, Siap Tambah 60 Showroom

Analis Beijing Orient Agribusiness Consultants, Xu HongZhi, memperingatkan bahwa harga sapi bisa turun dalam jangka pendek akibat kepanikan pasar, sebelum akhirnya naik kembali jika populasi ternak berkurang.

Jika tidak dikendalikan dengan baik, wabah ini berpotensi menimbulkan gangguan besar tidak hanya pada sektor peternakan domestik, tetapi juga perdagangan pangan global.




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Effective Warehouse Management

[X]
×