WHO: Omicron Versi Siluman Memiliki Tingkat Keparahan Sama Dengan Asli

Rabu, 02 Februari 2022 | 08:17 WIB Sumber: Reuters
WHO: Omicron Versi Siluman Memiliki Tingkat Keparahan Sama Dengan Asli

ILUSTRASI. mengatakan, varian BA.2 yang muncul dari varian coronavirus Omicron tampaknya tidak lebih parah daripada bentuk BA.1 aslinya. REUTERS/Pavel Mikheyev


KONTAN.CO.ID - JENEWA. Seorang pejabat Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada hari Selasa (1/2/2022) mengatakan, varian BA.2 yang muncul dari varian coronavirus Omicron tampaknya tidak lebih parah daripada bentuk BA.1 aslinya.

Melansir Reuters, menurut Dr. Boris Pavlin dari Tim Respons COVID-19 WHO dalam briefing online, hasil riset juga menunjukkan, vaksin juga terus memberikan perlindungan serupa terhadap berbagai bentuk Omicron.

Pernyataan ini muncul saat subvarian BA.2 mulai menggantikan subvarian BA.1 "asli" Omicron yang lebih umum di negara-negara seperti Denmark.

Berdasarkan data dari Denmark, negara pertama di mana kasus varian BA.2 melampaui BA.1, tampaknya tidak ada perbedaan tingkat keparahan penyakit, meskipun BA.2 berpotensi menggantikan BA.1 secara global, tambah Pavlin.

Baca Juga: Kapan Harus Melakukan Tes Covid-19? Kenali Gejala Omicron Ini

"Melihat negara-negara lain di mana BA.2 sekarang menyalip, kami tidak melihat lonjakan rawat inap yang lebih tinggi dari yang diperkirakan," katanya.

Menurut sebuah penelitian Denmark yang menganalisis infeksi virus corona di lebih dari 8.500 rumah tangga Denmark antara Desember dan Januari, BA.2 lebih menular daripada BA.1 yang lebih umum dan lebih mampu menginfeksi orang yang divaksinasi. Varian ini juga disebut varian siluman karena bisa menyerang orang dengan diam-diam.

Baca Juga: Banyak Negara Belum Capai Puncak Gelombang Omicron, Ini Peringatan WHO untuk Dunia

Pavlin juga bilang, subvarian sudah menjadi dominan di Filipina, Nepal, Qatar, India dan Denmark.

Dia menambahkan: "Vaksinasi sangat melindungi terhadap penyakit parah, termasuk untuk Omicron. BA.2 dengan cepat menggantikan BA.1. Dampaknya tidak mungkin substansial, meskipun lebih banyak data diperlukan."

Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

Terbaru